Sunday, October 21, 2007

Memelihara Katak Lembu, Mulai darimana?

Mau jadi juragan percil ?
Juragan indukan ?
Atau juragan katak lembu konsumsi ?



Beberapa peminat usaha budidaya katak lembu seringkali tidak yakin, mau mulai darimana?
Apakah membeli indukan dulu? Ataukah membeli bibit (percil) nya dulu?
Keduanya bisa dilakukan, baik step by step atau pun simultan, tergantung dengan modal dan skill yang dipunyai.

Untuk pemula, berdasarkan pengalaman saya sendiri beserta team, akan lebih bermanfaat baik secara spiritual maupun material.... :-) jika dimulai dengan memelihara bibit katak (percilnya) yang baru mau lepas kuntum ekornya. Dalam jangka waktu sekitar 3 bulan maka hasilnya sudah dapat dipetik... Bahkan sekaligus mempersiapkan katak calon indukannya. Karena diantara sekian banyak percil yang dipelihara, pastilah ada beberapa yang memiliki pertumbuhan lebih baik daripada yang lain yang prospektif untuk dijadikan indukan dengan perlakuan pemberian pakan yang berbeda.
Jika nanti sudah terampil dalam mengatur pemberian pakan, melakukan sortasi, membersihkan/mengganti air kolam tanpa membuat stress penghuninya, barulah mulai dengan memijahkan indukannya. Kalau tidak yakin dengan indukan yang dipunyai, bisa saja beli bibit indukan yang baik dari peternak yang memang mengkhususkan pada pemeliharaan indukan katak lembu. Akan tetapi mengingat harganya yang cukup tinggi, membeli bibit/calon indukan katak lembu sebaiknya dilakukan setelah yakin dan trampil mengelola indukan hasil seleksi dari percil yang dibesarkan. Tentunya sebelum upaya ini dilakukan, haruslah dipersiapkan dulu kolam/bak pijahnya... Dari 10 pasang indukan yang dipunyai, sudah sangat hebat bagi pemula jika berhasil memijahkan 3 pasang indukan... Itupun tidak bisa dalam waktu singkat..mungkin membutuhkan waktu 2-3 minggu. Jika tidak berhasil, ya harus diistirahatkan dululah... cape loh menggendong pengantin katak yang gendut selama beberapa hari...

Membeli percil pun tidak bisa seperti membeli sembako di warung, ada uang ada barang. Karena permintaan untuk percil ini sangat-sangat tinggi. Sehingga untuk mendapatkannya, peternak harus indent dulu pada peternak yang menjadi juragan percil jauh-jauh hari sebelum jadwal pemeliharaan akan dilakukan.
Di daerah Jawa Timur bahkan berudu katak lembu pada beberapa usia tertentu juga laku keras diperdagangkan...

Jadi...silahkan dipertimbangkan, apakah mau jadi juragan kodok konsumsi? Juragan percil ? Atau juragan indukan ? Atau ketiganya ?? Yang penting adalah ketekunan dan kesungguhan dalam mengusahakannya. Tidak mudah putus asa, tidak segan bertanya, sanggup untuk terus mencoba...

Tuesday, October 02, 2007

Identifying Feed Composition by Using Dung Analysis

FORMULATING OF ANOA’S DIET REQUIREMENTS
BASED ON THE IDENTIFICATION OF ANOA’S FAECAL EPIDERMIS


R.I. Pujaningsih

ABSTRACT OF RESEARCH PROPOSAL
Some researches in the year of 2000 - 2003 recommended that Anoa will totally disappeared from the Lore Lindu National Park of Central Sulawesi, otherwise there is a good conservation planning concerning within. Endeavored the sustainability of Anoa, it is needed to do problem’s identification and also evaluation by various approach method to get the optimal result and reach the target. The research aim to obtain the information about the type of Anoa’s feed with dung/faecal analysis method to study the epidermis component as input in preparing of proper feed requirement for Anoa in the preservation/conservation.

PROBLEM CONCERN
The decreasing of Anoa’s habitat as the effect of forest exploitation as well as forest convertion to become agriculture area, trasmigration location, plantation, industrialization has affected to speed up the disappearing of this animal. During this time, Anoa’s feed identification was only observed by direct perception method on footstep trace and also on the tracer of vegetation biting in around of Anoa’s habitat. So, it still unpredictable whether the vegetation was consumed by Anoa or other herbivore animal which also exist in the location. Refering to the problem is needed to conduct a furthermore research by using more other accurate dissimilar approach method. This alternatif method would be compared and discussed with some experts from Center of nature Conservation in Goettingen University which also supported by CeTSAF. . Information about Anoa’s behaviour will support its handling and adaptation in the preservation/conservation location. This research is a part of STORMA project which conduct in Sulawesi, Indonesia. A part of the research result will be used to finish my doctor degree.

OUTPUT

1. Data base of favorite and available Anoa’s diet.
2. Data base of preparing and conservation technology of Anoa’s diet at the original habitat as well as in the preservation.
Semarang, 19.09.2007

Friday, June 15, 2007

Melestarikan yang Bermanfaat dan Memanfaatkan yang Lestari

R.I. Pujaningsih

Pendahuluan


Keanekaragaman hayati merupakan bagian dari komponen yang secara ekologis berperan sebagai penentu keseimbangan ekosistem yang penting bagi kehidupan, terutama dalam penyediaan kebutuhan keanekaan bahan hayati dan penyediaan jasa lainnya. Dengan demikian keanekaragaman hayati merupakan salah satu penopang utama kelangsungan hidup dan kesejahteraan manusia. Keanekaragaman hayati adalah keadaan beragamnya ekosistem, jenis dan variabilitas genetika binatang, tumbuh-tumbuhan dan mikroorganisme yang hidup. Setiap individu organisme mengandung ribuan gen dengan kombinasi yang unik, sementara jenis atau spesies terdiri dari banyak organisme. Ekosistem merupakan kumpulan dari banyak spesies yang berinteraksi satu sama lainnya dan dengan lingkungan fisik.

Pelestarian keanekaragaman hayati menjadi sangat penting demi pemanfaatannya secara benar dan berkelanjutan. Kenyataannya sekarang pelestarian tersebut masih belum terlaksana dengan baik, mengingat ancaman yang dihadapi sangat rumit dan sangat sulit di atasi. Di antaranya adalah pengaruh perubahan iklim, eksploitasi yang berlebihan atau kegiatan yang mengakibatkan kerusakan fisik penopang kehidupan, pencemaran, kehadiran spesies asing yang invasif, dan kegiatan pembudidayaan yang tidak disertai upaya yang menjamin kelestarian berbagai varietas dari spesies yang dibudidayakan. Untuk mendukung tercapainya pembangunan nasional secara berkelanjutan, para pengambil keputusan dan pihak terkait lainnya perlu lebih meningkatkan upaya pemanfaatan keanekaragaman hayati secara lestari, upaya pengembangan nilai manfaat pengelolaan konservasi, dan meningkatkan kesadaran serta peran masyarakat.
Kebijakan pemerintah yang dijadikan panduan komprehensif untuk mendukung tercapainya pembangunan berkelanjutan antara lain Undang-Undang No. 5 Tahun 1994 yang merupakan ratifikasi dari Konvensi Keanekaragaman Hayati (KKH). Pengelolaan keanekaragaman hayati sesuai Undang-Undang ini diarahkan pada komitmen Indonesia untuk melaksanakan tiga tujuan pokok KKH, yaitu konservasi, pemanfaatan komponen keanekaragaman hayati secara berkelanjutan, dan pembagian keuntungan dari hasil pemanfaatannya secara adil, yang diharapkan dapat dilaksanakan oleh para pihak. Oleh karena itu untuk mewujudkan dan memfasilitasi pelaksanaan tujuan tersebut, pemerintah telah menyusun strategi dan rencana aksi nasional yang diharapkan menjadi acuan dalam pemanfaatan secara berkelanjutan oleh semua sektor dan pemangku kepentingan.
Salah satu kebijakan yang dilaksanakan pemerintah dalam rangka pencapaian tujuan KKH adalah konservasi in-situ dan konservasi eks-situ. Program konservasi in-situ diarahkan pada usaha terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistem melalui kegiatan perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya tersebut melalui pencadangan kawasan yang telah ditentukan oleh pemerintah. Konservasi eks-situ merupakan konservasi komponen keanekaragaman hayati di luar habitat alaminya.
Indonesia merupakan negara tropis pertama di dunia yang mempunyai kawasan lindung yang berfungsi sebagai sarana in situ, sebagai upaya melindungi ekosistem atau habitat alami untuk konservasi keanekaragaman species dan genetik. Taman Nasional merupakan kawasan pelestarian alam in situ. Tujuan konservasi ex situ adalah untuk melestarikan flora dan fauna di luar habitat alaminya, pelestariannya dilakukan di Kebun Raya, Kebun Binatang dan Arboreta.
Koleksi plasma nuftah amat berharga bagi pemuliaan tanaman dan ternak, serta untuk mengembangkan produk-produk baru misalnya obat-obatan. Koleksi ex-situ mengalami berbagai masalah antara lain kekurangan dana, fasilitas dan tenaga terlatih. Sebagai contoh berbagai balai atau pusat penelitian tidak mempunyai fasilitas penyimpanan jangka panjang sehingga koleksi harus sering direjuvenasi (ditanam atau ditangkar ulang). Anggaran penelitian untuk karakterisasi plasma nuftah juga relatif terbatas. Penggalangan dana dengan pihak-pihak penyandang dana harus diupayakan tanpa mengurangi maksud dan tujuan pihak-pihak yang berkepentingan.

Potensi


Luas sumberdaya hutan berdasarkan hasil pemaduserasian Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) dan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP) adalah 120,35 juta ha atau sekitar 62,6% dari luas daratan Indonesia. Di dalam kawasan hutan tersebut terkandung keanekaragaman hayati yang melimpah sehingga Indonesia juga dikenal sebagai mega-biodiversity country. Dalam skala dunia, Indonesia tercatat sebagai negara yang memiliki keanekaragaman spesies tertinggi untuk mamalia (515 spesies, 36% endemik), kupu-kupu ”swalllow tail”/sayap burung (121 spesies, 44% endemik), ketiga untuk reptilia (lebih kurang 600 spesies), keempat untuk burung (1519 spesies, 28% endemik), kelima untuk amphibia (270 spesies) dan ke tujuh untuk tumbuhan berbunga (BAPENAS, KLH dan World Bank, 1991). Sejauh ini manfaat keragaman hayati tersebut belum mendapat porsi perhatian yang seharusnya.
Sulawesi merupakan pulau besar terpenting yang terdapat di kawasan Wallacea, suatu wilayah unik di dunia tempat bercampurnya tumbuhan dan binatang dari Asia dan Australia (kawasan peralihan antara Asia dan Australia). Secara biogeografis kawasan ini merupakan daerah peralihan antara Zona Asia dan Zona Australia atau kita kenal dengan Garis Wallace (Wallace Line). Menurut hasil ekspedisi Alfred Russel Wallace tahun 1850-an bahwa flora dan fauna yang terdapat pada kawasan ini banyak yang unik dan spesifik (Whitten, et al.,1987; Kinnaird, 1997). Keunikan flora dan fauna di Sulawesi dipengaruhi oleh lokasi geografi Sulawesi yang special di Asia Tenggara. Pulau-pulau Kalimantan, Sumatera dan Jawa diperkirakan pernah bersatu dengan dataran utama Benua Asia pada akhir periode Glasial sedangkan Sulawesi terisolasi dari pulau-pulau lain dan juga dari Papua New Guinea.
Di Pulau Sulawesi, Wallace Line membentang dari Taman Nasional Nani Wartabone di Bolaangmongondou-Gorontalo (Sulut) hingga ke Donggala-Poso melintasi hutan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) dan terus sampai ke hutan-hutan tropis di Kendari, Sultra. TNLL seluas 229.000 hektare itu merupakan taman hutan rimba yang tergolong langka di abad ini. Karena kelangkaannya, kawasan ini telah diklaim menjadi milik dunia. Para peneliti asing yang pernah melakukan studi di hutan TNLL menjulukinya sebagai "paru-paru dunia" yang sangat berpengaruh bagi kehidupan manusia. TNLL juga dianggap "laboratorium alam" dunia bagi pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, budi daya, rekreasi dan pariwisata.
Sebagai kawasan hutan di zona transisi, TNLL memiliki potensi flora, fauna, dan ekosistem yang sangat spesifik pula. Di kawasan ini terdapat 266 jenis flora yang hidup pada ekosistem danau, padang rumput, dataran rendah pegunungan dan sub alpin. Beberapa jenis tumbuhan kayu langka terkenal adalah kayu cempaka (manglietia sp), kayu leda (eucaliptus deglupta), jenis rotan (calamus sp), jenis-jenis damar (agathis sp) dan beringin merah (litsea sp). Sedangkan fauna, tercatat ada 200 jenis, dan 37 jenis di antaranya termasuk fauna yang dilindungi sedangkan 163 jenis belum dilindungi. Jenis satwa liar yang penting dan endemik Sulawesi terdapat dalam hutan TNLL, seperti misalnya anoa (bubalus quarlesi dan bubalus deppressicornis), rusa (cervus timorensis), babi rusa (babyrousa baburussa), kus-kus (phalanger celebensis dan phalanger ursianus), monyet hitam (macaca tonkeana), musang coklat (macrogalidia musschenbroeki), singapuar (tarsius spectrum) dan maleo (macrocephalon maleo). Selain potensi flora-fauna, di kawasan TNLL terdapat batuan megalith (batu besar pra sejarah) berbagai corak dan tipe di Lembah Bada, Besoa, dan Napu. Kawasan ini dihuni Suku Kulawi dan Lore dengan adat istiadatnya yang masih asli.

Pentingnya Kegiatan Konservasi

Jenis-jenis endemik terbentuk karena adanya habitat yang spesifik. Jenis-jenis tersebut hanya terdapat pada habitat dimana mereka terbentuk dan hanya mampu beradaptasi dengan karakteristik habitat tersebut. Apabila habitatnya mengalami perubahan secara drastis (misalnya oleh adanya polusi, konversi lahan, fragmentasi habitat, dll), jenis-jenis endemik sering tidak mampu beradaptasi mengikuti perubahan tersebut. Dalam kondisi seperti ini, jenis-jenis endemik akan mengarah pada kepunahan. Dengan kata lain, jenis-jenis endemik mudah mengalami kepunahan apabila habitatnya terganggu.
Kemampuan adaptasinya yang lemah tidak saja terjadi terhadap perubahan habitat, tetapi juga dalam hal beradaptasi dengan jenis-jenis baru. Karena tidak terbiasa hidup berkompetisi, jenis-jenis endemik akan mengalami tekanan apabila ke dalam habitatnya diintroduksi jenis-jenis dari habitat lain yang memanfaatkan sumberdaya yang sama dengan jenis endemik tersebut. Keberadaan jenis-jenis kompetitor akhirnya akan secara lambat laun menyingkirkan posisi jenis-jenis endemik.
Pada umumnya jenis-jenis endemik juga kurang atau bahkan tidak terbiasa hidup dengan predator, sehingga dia tidak memiliki kemampuan untuk menyelamatkan diri dari predator. Apabila ke dalam habitatnya diintroduksi predator maka dalam waktu singkat populasi jenis endemik akan habis. Sama halnya dengan predator, penyebarannya yang terbatas menyebabkan jenis-jenis endemik juga tidak terbiasa dengan patogen yang berasal dari habitat lain. Kedatangan jenis-jenis introduksi yang membawa patogen baru ke habitat dimana jenis-jenis endemik berada dapat menimbulkan wabah yang memusnahkan jenis-jenis endemik.
Pemaparan tersebut di atas menunjukkan betapa jenis-jenis endemik memiliki resiko kepunahan yang sangat tinggi, sehingga pengelolaannya perlu dilakukan secara sangat hati-hati. Sebagian besar jenis endemik Wilayah Wallacea sekarang tercatat dalam I dan II appendix (Soehartono dan Mardiastuti, 2003). Dengan tercantumnya beberapa jenis dalam appendix I berarti jenis-jenis tersebut tidak dapat diperdagangkan secara international. Adapun tercantumnya jenis-jenis dalam appendix II menunjukkan bahwa, walaupun saat ini belum mengalami ancaman kepunahan, jenis-jenis tersebut dapat terancam punah apabila perdagangannya tidak diatur sedemikian rupa untuk menjaga kelestariannya.

Tercantumnya sejumlah jenis flora dan fauna Wilayah Wallacea dalam appendix CITES menunjukkan betapa kelestarian jenis-jenis flora dan fauna di wilayah ini sangat memprihatinkan. Dengan tercantumnya di dalam appendix CITES berarti pemanfaatan jenis-jenis tersebut menjadi sangat terbatas. Namun demikian, bukan berarti bahwa jenis tersebut tidak dapat dimanfaatkan untuk selamanya. Kapan saja populasinya di alam dapat dipulihkan kembali, maka statusnya dalam appendix CITES dapat diturunkan atau malah dicabut dari appendix tersebut. Oleh karena itu, tindakan yang penting dan mendesak untuk dilakukan adalah langkah-langkah konservasi untuk memulihkan populasinya.
Langkah-langkah konservasi bukan saja perlu dilakukan terhadap jenis-jenis yang telah tercantum dalam appendix CITES, melainkan juga terhadap jenis-jenis yang belum tercantum. Hal ini karena jenis-jenis yang sekarang belum tercantum dalam appendix CITES dapat sewaktu-waktu dicantumkan apabila populasinya terus menurun sehingga dikhawatirkan punah. Walaupun secara harfiah kata konservasi berarti menjaga bersama-sama (berasal dari dua kata dalam Bahasa Latin: con = bersama-sama, servar = menjaga), namun konservasi bukanlah berarti tidak boleh memanfaatkan. Konsep konservasi moderen tidak mengartikan konservasi sebagai tidak boleh memanfaatkan, melainkan memanfaatkan secara berkelanjutan. Melalui pemanfaatan berkelanjutan diharapkan kelestarian jenis-jenis akan tetap terjaga.

Peluang


Hutan sebagai sumberdaya alam harus dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat seperti dimandatkan dalam pasal 33 UUD 1945. Dasar hukum pemanfaatan hutan tersebut di Indonesia bertumpu pada makna pasal 33 ayat 3 yang ditujukan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Undang Undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan – ketentuan Pokok Kehutanan bermaksud menerapkan tujuan tersebut melalui pendekatan timber management tetapi sayangnya tidak mengakomodir suatu pola pengelolaan yang bersifat menyeluruh dalam forest management atau ecosystem management yang mengakomodasi juga aspek sosial budaya maupun ekonomi dan kelestarian lingkungan yang berkelanjutan.
Aspek sosial budaya seringkali ditempatkan pada posisi ke sekian pada upaya pemanfaatan/konservasi wilayah. Dalam upaya mempertahankan kelestarian kawasan-kawasan konservasi di Tanah Air, pemerintah perlu melakukan perubahan mendasar, yakni mengubah paradigma pengelolaan kawasan terkait dari pendekatan deregulatif (aturan-aturan larangan) menjadi pendekatan sosial pemanfaatan secara berkelanjutan. Perubahan paradigma ini dinilai sangat penting mengingat masyarakat yang tinggal di dan sekitar kawasan konservasi juga harus tahu manfaat yang bisa didapatkannya jika lingkungan itu dijaga kelestariannya. Mereka tidak bisa lagi hanya diberi penegasan bahwa kawasan konservasi itu terlarang untuk mereka kelola secara langsung. Diberbagai tempat di Indonesia berlaku hukum adat, antara lain tentang pembukaan hutan untuk usaha perladangan dan pertanian lainnya, penggembalaan ternak, pemburuan satwa liar dan pemungutan hasil hutan, serta di berbagai areal hutan dikelola secara lestari oleh masyarakat hukum adat sebagai sumber kehidupannya dengan segala kearifannya. Di Sulawesi Tengah, tepatnya di sekitar kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), dijumpai pula beberapa komunitas lokal, yang secara konsisten, menerapkan sejumlah kearifan tradisional dalam mengelola interaksi antara manusia dengan lingkungan alaminya.
Satu diantaranya adalah komunitas adat Toro. Di tahun 2001, Toro secara resmi diberi otonomi pada taraf tertentu dalam perencanaan, pemantauan, dan pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan hutan. Pengakuan tersebut berimplikasi pula terhadap wewenang yang dimiliki lembaga adat dalam mengatur sistem-sistem penguasan lahan (land tenurial system) dan pengelolaan (management system) sumberdaya hutan di wilayah kelola adatnya. Desa ini adalah satu-satunya desa di sekitar TNLL yang telah merevitalisasi kelembagaan adat dalam mengatur pola pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya hutan. Masyarakat adat Toro membagi wilayahnya dalam 5 zona sesuai dengan fungsinya yaitu: Zona Wana Ngkiki yang dimanfaatkan sebagai tempat habitat hewan, Zona Wana sebagai penyangga kandungan air, Zona Pangale sebagai tempat perburuan secara tradisional, Zona Pahawa Pongko untuk menanam tanaman tahunan dan Zona Oma Ntua untuk mengelola tanaman palawija. Disamping itu juga masih terdapat nilai-nilai budaya konservasi di dalam masyarakat Toro yang ditunjukkan oleh aturan adat yang melarang penebangan tanaman yang ada di hutan Lore Lindu dan inisiatif adat untuk melakukan penanaman kembali tanaman yang ditebang untuk keperluan khusus. Penebusan sanksi adat berupa kerbau, dulang atau pun mbesa. Pembagian zonasi ini merupakan kearifan lokal yang diturunkan dari nenek moyang mereka secara lisan.
Belum ada penelitian secara mendalam tentang metode pembagian zona berdasarkan peruntukannya ini. Pembagian zonasi semata-mata berdasarkan pada kebijakan para tetua adat. Secara umum dapat diinformasikan bahwa wilayah lahan sampai 300 meter di atas permukaan laut dipergunakan untuk perumahan, kebun rumah, kebun obat-obatan tradisional dan segala macam tanaman rempah. Wilayah dengan ketinggian antara 300 sampai 400 meter diperuntukkan bagi pertanian dan pergiliran tanaman. Ketinggian wilayah antara 400 sampai 500 meter diperuntukkan perburuan dan pengumpulan bahan-bahan material untuk pembangunan/perbaikan rumah. Di atas ketinggian 500 meter dipercayai sebagai tempat keramat yang dihuni oleh roh nenek moyang. Karena itu merupakan “Zona” yang tidak boleh didaya gunakan. Adanya kearifan lokal yang masih dipertahankan di desa Toro memberikan peluang upaya pelestarian yang prospektif.
Semakin sempitnya habitat Anoa akibat adanya kegiatan eksploitasi hutan, konversi hutan menjadi lahan pertanian, penempatan transmigrasi, perkebunan, industri turut mempercepat kepunahan satwa ini. Di daerah pedesaan pantai barat Sulawesi Tengah, penangkapan Anoa dengan jerat untuk kebutuhan daging hingga saat ini masih tetap terjadi. Agar Anoa dapat terjamin keberadaannya, perlu adanya upaya konservasi terhadap jenis-jenis flora yang merupakan komponen pakan utama Anoa.
Sebagaimana ruminansia pada umumnya, pakan Anoa terdiri atas pakan hijauan sebagai pakan dasar yang kaya serat kasar untuk sumber energi dan tangsal perut, dan pakan konsentrat yang kaya protein, energi, mineral organik dan vitamin yang diperlukan ternak. Ransum pakan tradisional lebih menitik beratkan perpaduan rumput dan dedaunan dengan indikator utama kenaikan bobot badan (Pujaningsih, 2005). Kerbau liar kerdil yang endemik ini makan rumput-rumputan, paku-pakuan, semak serta buah-buahan yang jatuh (Mackinnon and MacKinnon, 1979). Sejauh ini belum tersedia data mengenai kebutuhan nutrisi untuk Anoa sebagaimana hewan ternak lainnya.
Di alam bebas Anoa liar memakan aquatic feed antara lain berupa pakis, rumput, tunas pohon, buah-buahan yang jatuh, dan jenis umbi-umbian. Berdasarkan pengamatan Pujaningsih, et al., (2005) dan beberapa peneliti dilaporkan bahwa Anoa dataran rendah kadang-kadang juga meminum air laut yang diduga untuk memenuhi kebutuhan mineral mereka. Di dataran tinggi, Anoa menjilat garam alami dalam rangka pemenuhan kebutuhan mineralnya. Di tempat-tempat penangkaran maupun kebun binatang, Anoa diadaptasikan dengan diberi pakan berupa rumput kering dan pelet. (Malik et al., 2004; Pujaningsih, 2005; Pujaningsih et al., 2005).
Berdasarkan data dari IUCN (2002) sejak tahun 1979, secara pasti jumlah Anoa kian merosot bahkan di beberapa wilayah yang dekat dengan desa/kampung, keberadaannya telah menghilang sama sekali. Anoa pada dewasa ini hanya dapat ditemukan di dalam hutan besar. Belum ditemukannya pemahaman yang sempurna untuk upaya budidayanya menyebabkan perkembangbiakan Anoa menjadi terhambat. Untuk mengupayakan pelestarian Anoa perlu dilakukan identifikasi, studi serta evaluasi dengan berbagai model pendekatan/aspek untuk mendapatkan hasil yang optimal dan mencapai sasaran.

Referensi:

Kessler, P J A, Bos, M, Ramadhanil P and Gradstein. 2002. Checklist of Woody Plant of Sulawesi, Indonesia. Symposium (SFB 552) “ Land Use, Nature Conservation and the Stability of Rainforest margins in Southeast Asia”. Bogor. 29 September- 3 October 2002.

Kinnaird M F, 1877. Sulawesi Utara, Sebuah Panduan Sejarah Alam . Yayasan Pengembangan Wallacea.

Malik, A., Pujaningsih, R.I. and Labiro, E. 2004. Participatory of Wildlife Conservation in Central Sulawesi Indonesia. (A Review on A Case study of Anoa Bubalus spp. as one of endemic endangered animal from Sulawesi, Indonesia). In: Proceeding of The 5th International Symposium-cum-Workshop "The Role of German Alumni in Rural/Regional Development and Entrepreneurship " by SEAG, Royal Agricultural University and the University Consortium Georg-August-University Göttingen, University of Kassel and Philipps University Marburg. Phnom Penh, August 23 - 27, 2004.

Mackinnon, J and K. Mackinnon. 1979. Animals of Asia. The Ecology of the Oriental Region. Peter Lowe, London

Pujaningsih, R.I., Sukamto, B dan Labiro, E. 2005. Identification and Feed Technology Processing for Roughage in Term of Anoa (Bubalus sp) conservation. National Seminar of Fundamental Research. Jakarta, 16-18th May 2005

Pujaningsih, R.I. 2005. Identifikasi Vegetasi Pakan Alami Anoa (Bubalus sp). In: Proceeding of The 6th International Symposium-cum-Workshop "(In-) Equity and Development : the Role of Science and Technology " by SEAG, Gadjah Mada University and the University Consortium Georg-August-University Göttingen, University of Kassel and Philipps University Marburg. Yogyakarta, August 22 - 26, 2005

Ramadhanil P, Kessler, P J A, S R Gradstein, E. Guhardja, C.H. Leuschner, H. Wiriadinata, S. T. Sudirdjo. 2002. Tree Composition In Secondary Forest of Lore Lindu National Park Central Sulawesi, Indonesia. Symposium (SFB 552) “ Land Use, Nature Conservation and the Stability of Rainforest margins in Southeast Asia. Bogor. 29 September- 3 October 2002.

Soehartono, T. dan A. Mardiastuti. 2003. Pelaksanaan konvensi CITES di Indonesia. Japan International Cooperation Agency (JICA), Jakarta

COMPARATION STUDY PROGRESS ON ANOA’S BEHAVIOUR

R. I. Pujaningsih1), A. Malik2), S. Pudyatmoko3)
1) Fac. of Animal Agriculture, Diponegoro University
2) Fac.of Agriculture, Tadulako University
3) Fac. of Forestry, Gadjah Mada University


Abstract


Anoa are small buffalo-like animals endemic to the Indonesian island of Sulawesi. This species is vulnerable due to its restricted range and the possibility of extinction from several threaths including hunting, habitat loss and possible natural catastrophes. The management and conservation objective is to maintain genetically viable, self-sustaining, free-living Anoa population(s). In order to achieve this goal, it is necessary to understand its behaviour both in its in-situ habitat as well in the ex-situ area. The in-situ study area was took place in Lore Lindu National Park of Central Sulawesi which was compared to the report from ex-situ observation of Taman Safari Indonesia Bogor. The behavioural data were collected by direct and indirect observations during wet season. Some references were used to obtain the conclusion of comparison study report. The observations were partly undertaken in the feeding grounds and in the wallowing sites. It can be observed that Anoa could become very agressive during the breeding seasons. Generally, there are no significantly difference behaviour in both observed habitat of Anoa.

Keywords: Anoa, in-situ, ex-situ, behaviour

Saturday, June 09, 2007

Buku Budidaya Kodok Lembu

Alhamdulillah sudah terbit buku berjudul Budidaya Kodok Lembu.
Isinya ya petunjuk untuk membudidayakan kodok lembu yang sangat prospektif ini. Dan semuanya berdasarkan survey serta pengalaman penulis bersama team...

Harga per buku Rp. 35.000,00 dilengkapi dengan foto-foto berwarna.
Diterbitkan oleh Penerbit buku handal Kanisius.

Tuesday, April 03, 2007

Bibit Bullfrog

Peminat juragan percil ternyata tidak sebanyak juragan kodok,
memang menjadi pembibit membutuhkan keahlian dan kecintaan yang tulus terhadap apa yang ditekuninya....
Sayangnya banyak yang mengambil resiko untuk menambah kerumitan dengan memperdagangkan percil bukan pada orang yang tepat...
Tentunya kualitas jadi tidak bisa dipertanggungjawabkan...

So, untuk para pemula peminat dan pemerhati bullfrog... hati-hati menerima tawaran yang menggiurkan itu...

salam,
retno

Wednesday, June 07, 2006

Feassibility Study Usaha Bullfrog

Survey yang dilakukan pada usaha budidaya kodok lembu (bullfrog) memberikan beberapa alternatif yang bisa dilakukan pada usaha ini. Apakah akan menjadi juragan kodok konsumsi ? Juragan percil (kodok bibit) ? Pemilik restauran bullfrog ? Pengusaha pakan bullfrog sampai ke usaha sebagai eksportir paha kodok maupun kodok hidup. Peluang yang ada sungguh sangat menjanjikan. Coba saja dihitung, 1 kg kodok hidup berisi 4 ekor dengan ukuran 250-300 gram per ekor dijual dengan harga Rp.18.500,00. Kemudian diolah dan disajikan sebagai steak dengan harga Rp.24.000,00 per porsinya, sedangkan 1 porsi steak terdiri atas 3 paha kodok, maka dari 1 kg kodok hidup seharga Rp.18.500,00 mampu menghasilkan sekitar 2 porsi steak seharga total Rp.48.000,00 “Sisa” satu ekor kodok diasumsikan sebagai biaya pokok produksi untuk mengolah si kodok hidup menjadi steak lezat. Keuntungan yang diperoleh dari pembelian 1 kg kodok hidup sekitar Rp.29.000,00 Belum jika disajikan sebagai Tom Yam, digoreng dengan tepung, dimasak tauco, diolah sebagai sop dan banyak lagi jenis masakan yang lain yang biaya produksinya tidak seharga 1 porsi steak…
Kondisi tersebut jika ingin berwirausaha sebagai pemilik warung makan atau restauran bullfrog. Tetapi jika memiliki ketertarikan di bidang usaha pembesaran dapat dicoba dengan membuat sekitar 40 buah kolam berukuran 1,5 m2 dengan tinggi sekitar 1 meter juga. Jumlah ini untuk skala pembesaran 10.000 ekor percil (kodok bibit). Tidak perlu menggunakan bahan-bahan yang mahal, bisa dengan batako atau kawat/jaring ikan tergantung pada bahan yang ada di sekitar tempat tinggal. Yang penting adalah adanya konstruksi untuk pembuangan air pada saat membersihkan kolam itu tiap harinya. Air yang diperlukan juga tidak terlalu banyak, hanya dibutuhkan air setinggi 15 cm untuk menjaga kelembaban kulit si kodok.. Karena jenis bullfrog ini (Rana catesbeiana) tidak dapat hidup tanpa air. Berbeda dengan beberapa jenis kodok maupun katak yang pada umumnya amfibi (dapat hidup di dua alam).
Jika dipilih menggunakan batako maka diprediksikan untuk penggunaan selama 5 tahun. Penyusutan dihitung sebesar Rp.825.000,00 Harga percil yang baik saat ini sekitar Rp.1.000,00 per ekornya sehingga untuk 10.000 ekor diperlukan biaya Rp.10.000.000,00 Untuk biaya pakan sebanyak 2 ton selama 4 bulan masa pembesaran diperlukan biaya Rp.9.000.000,00 Biasanya digunakan pakan ikan lele karena ketersediaan pakan khusus Bullfrog masih sulit dan harganya mahal. Tetapi dengan menggunakan pakan ikan lele yang diberi tambahan protein alami berupa cincangan daging bekicot, keong mas atau ikan-ikan kecil sudah cukup mampu mencukupi kebutuhan hidupnya. Obat-obatan dan vitamin Rp.200.000,00 Tenaga kerja diperkirakan memerlukan biaya Rp.700.000,00 Kebutuhan tenaga kerja pada budidaya bullfrog tidaklah terlalu banyak, karena dua orang yang trampil sudah cukup untuk mengelola 40 buah kolam dengan jam kerja relatif singkat. Pagi 2 jam kerja dan sore 2 jam kerja juga.. Sisa waktu bisa dipergunakan untuk aktivitas yang lain.
Mortalitas (kematian) pada usaha budidaya bullfrog masih sangat besar, berkisar antara 20-30%. Hal ini disebabkan belum ada penanganan terhadap penyakit bullfrog yang tepat. Pada skala pembesaran 10.000 ekor percil dapat diharapkan untuk memperoleh 7.000 ekor kodok dewasa dengan berat hidup sekitar 250 gram atau total 1.750 kg kodok hidup. Harga jual kodok hidup di tingkat peternak saat ini adalah Rp.18.500/kg kodok hidup, sehingga diperoleh pendapatan kotor Rp.32.375.000,00 Dikurangi total biaya produksi Rp. 20.725.000,00 akan mendapatkan keuntungan bersih Rp.11.650.000,00 Titik balik modal (break even point) diperoleh pada penjualan kodok hidup Rp.10.400,00/kg
Perhitungan di atas adalah untuk pembesaran selama 4 bulan. Sehingga setahun berdasarkan kalkulasi matematika dapat dilakukan 3 kali periode pembesaran. Di atas kertas dapat diperoleh keuntungan sejumlah Rp.34.950.000/tahun. Kondisi ini tentu saja tidak dengan seketika dapat diaplikasikan. Perlu latihan untuk mengelola bullfrog sehingga resiko kematian dan mismanagement dapat dikurangi. Total biaya produksi dapat ditekan jika pengadaan bibit (percil) dilakukan sendiri dengan menyisihkan sebagian kodok sebagai indukan. Kodok indukan ini tentunya membutuhkan perlakuan yang berbeda terutama dalam hal kualitas pakannya agar menghasilkan telur-telur yang berkualitas pula. Beberapa peternak menspesialisasikan diri di bidang pengadaan percil maupun indukan. Sepasang induk bullfrog yang bagus harganya sekitar Rp.300 – 450.000,00 Dari sepasang indukan ini dapat diperoleh 15.000 – 20.000 butir telur. Setahun mereka dapat dipijahkan 3 hingga 4 kali dengan pemberian pakan yang berkualitas. Jika anda memiliki 5 pasang saja induk bullfrog, maka anda siap menjadi juragan percil yang keberadaannya sangat langka di kalangan peternak kodok lembu. Karena mengawinkan kodok lembu tidak semudah ijab kabul di KUA, perlu sentuhan dan keahlian khusus. Tetapi jika si kodok sudah cocok dengan jodohnya....bisa dinikmatilah hasilnya...
Sudah disampaikan sebelumnya bahwa pengadaan pakan khusus bullfrog masih tidak mudah. Karena ketersediaannya yang hanya sedikit disamping harganya yang juga mahal. Sehingga peternak biasa meracik sendiri supplemen untuk meningkatkan daya tahan hidup si kodok. Pakan yang berkualitas akan menurunkan mortalitas dan meningkatkan pertambahan bobot badan si kodok serta feed eficiency ratio konsumsi pakannya. Bahan dasar yang digunakan adalah pellet pakan ikan lele yang kandungan proteinnya cukup tinggi dan harganya murah. Pellet ini dihancurkan kemudian dicampur dengan vitamin C dan vitamin E serta cincangan daging bekicot yang sudah direbus. Setelah dicampur kemudian digiling dengan gilingan daging untuk mendapatkan bentuk pelet kembali. Untuk pakan kodok indukan dapat juga diberi tambahan kuning telur itik, tetapi pakan tambahan ini tidak diberikan setiap hari untuk menjaga dari kelebihan bobot badan yang akan mengganggu aktivitas pemijahannya. Nah...tinggal dipilih, ingin menjadi juragan apa anda nantinya......(rip)

Wirausaha Bullfrog

MENJUAL PAHA MENGAIS DOLLAR

Prioritas pengembangan ternak konvensional (sapi perah, sapi potong, kambing, domba, ayam dan babi) belum juga dapat berlomba dengan peningkatan kebutuhan protein asal hewani. Banyak hewan di Indonesia yang masih liar dan bila dibudidayakan akan menjadi ternak yang cukup potensial sebagai sumber daging bagi pemenuhan makanan yang bergizi tinggi untuk manusia. Salah satu di antara hewan tersebut adalah kodok. Kandungan protein daging paha kodok (16.4 g/100 g) cukup setara jika dibandingkan dengan sumber protein hewani lainnya. Disamping itu komposisi mineral dan vitamin yang terdapat pada daging paha kodok pun tidak mengecewakan. Kondisi ini menempatkan kodok sebagai salah satu alternatif sumber protein hewani yang potensial.

Untuk dapat memenuhi tuntutan ekspor dan mengais devisa dari komoditi paha kodok maka kualitas produk harus diperbaiki. Katak Lembu (Rana catesbeiana) atau sering juga dikenal sebagai Bullfrog merupakan satwa yang sangat potensial untuk dikembangkan, karena budidayanya tidak membutuhkan lahan yang luas serta mempunyai peluang ekspor yang sangat menggembirakan. Sementara itu, budidaya katak lembu yang sudah dilakukan di Indonesia pelakunya masih sangat terbatas dan sering mengalami pasang surut karena berbagai kendala.
Sejak pertengahan tahun 1997, hampir semua sektor usaha peternakan mengalami krisis, termasuk juga budidaya katak lembu. Keadaan ini menyebabkan peluang ekspor guna mendatangkan devisa dirasakan sangat merugikan. Padahal Indonesia pernah menempati urutan ke-2 dalam pemenuhan pasar ekspor paha katak ke negara-negara MEE (tahun 1979). Pasar ekspor juga tertuju ke negara-negara Amerika, Hongkong, Singapura dan Jepang. Di samping itu, peluang pasar dalam negeri pun sangat tinggi untuk disajikan sebagai masakan khas Indonesia yang bergizi tinggi mulai dari swikee, goreng tepung, pepes sampai dengan diolah menjadi kerupuk kulit.
Agar peluang tersebut dapat diraih kembali, maka diperlukan upaya-upaya untuk menggairahkan kembali budidaya katak lembu di Indonesia. Produksi paha katak secara relatif masih belum mampu memenuhi permintaan untuk pasar domestik maupun ekspor. Pasokan katak batu dan katak hijau hasil tangkapan alam semakin menyusut. Tak ada pilihan bagi eksportir kecuali mengembangkan bullfrog atau katak lembu. Hal ini membuka peluang pengembangan jenis usaha baru bagi para pemuda putus sekolah atau para pencari kerja.
Survey pasar menunjukkan bahwa permintaan akan katak lembu cukup tinggi baik untuk pasar lokal (terutama di daerah Jawa Timur) maupun ekspor. Permintaan ekspor kodok hidup banyak datang dari Singapura. Berdasarkan informasi yang diterima dari para eksportir, jumlahnya bisa mencapai ratusan ton per bulan. Masuk akal bila permintaan Singapura begitu besar. Karena sebagai pasar transit Singapura melakukan re-ekspor ke negara-negara Amerika dan Eropa serta negara Asia lainnya. Akan tetapi pemenuhan kebutuhan tersebut baru sekitar 20% dari total permintaan. Wajar, karena panen kodok setiap 4 bulan sekali sedangkan konsumsinya tiap hari! Untuk memenuhi permintaan akan kodok hidup para eksportir harus pontang-panting mengumpulkan kodok dari para petani kodok yang kebanyakan terpusat di Jawa Timur dan Jawa Barat. Di Jawa Tengah terpusat di daerah Klaten dan Sleman yang pasca gempa ini masih belum tahu bagaimana harus memulai kembali usahanya karena fasilitas yang dimiliki hancur (kolam-kolam pemeliharaan dan pembesaran kodok).
Harga jual di pasar lokal berkisar pada Rp. 14.500 - Rp. 18.000,- per kg katak hidup dengan harga pokok produksi (HPP) sekitar Rp 12.000,00 per kg. HPP ini dapat ditekan jika peternak dapat mengusahakan bibit katak sendiri. Pengadaan pakan juga akan lebih menguntungkan jika dapat dibuat / dipesan secara kolektif, karena untuk sementara waktu ini, pakan khusus katak lembu hanya diproduksi sesuai permintaan. Perhitungan kelayakan usaha pada budidaya kodok lembu disampaikan pada tulisan yang lain.

Friday, June 02, 2006

Sekolah ke Jerman ??

Persiapan dan Problem Sekolah ke Jerman

*) Retno Iswarin Pujaningsih

Pendahuluan
Melaksanakan studi ke luar negeri berarti membuka wawasan baru di lingkungan yang baru. Banyak yang perlu dipersiapkan dan direncanakan. Keputusan untuk melaksanakan studi dan hidup di luar negeri untuk sementara waktu - dalam hal ini ke Jerman - merupakan langkah awal dari persiapan untuk menghadapi sesuatu hal menarik dan penuh tantangan. Apa yang akan dihadapi, antisipasi yang perlu dilakukan serta kemampuan untuk memperkirakan seberapa besar peluang itu dapat tercapai merupakan pertanyaan-pertanyaan yang umum dihadapi oleh para pemula.
Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mencoba mencari tahu dan mengenal Jerman, bagaimana penduduknya serta kultur dan budayanya. Meskipun seringkali kenyataan berbeda dengan teori maupun apa yang ditulis di buku-buku. Tetapi setidak-tidaknya sudah ada bayangan tentang apa yang akan dihadapi. Sehingga dengan sendirinya dapat mengantisipasi problematik yang mungkin dihadapi, baik karena perbedaan kultur, kebiasaan hidup sehari-hari maupun perbedaan pandangan hidup yang bukan tidak mungkin pasti akan terjadi.
Berbekal itu semua barulah kita mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan umum selanjutnya.
1. Dimana saya akan melanjutkan sekolah saya nanti setibanya di Jerman?
2. Institut / program studi apa yang sesuai untuk saya ?
3. Bagaimana saya bisa membiayai sekolah saya ? Dan berapa banyak dana yang saya perlukan setiap bulannya ?
4. Beasiswa mana yang bisa membantu mendanai studi saya ? Syarat-syarat apa yang diperlukan supaya bisa mendapatkan beasiswa ?
5. Apakah saya memerlukan ijasah bahasa dengan kualifikasi tertentu ? Dimana dan bagaimana saya bisa mendapatkannya ?
6. Kapan periode pendaftaran untuk studi biasa dilakukan ?
Daftar pertanyaan tersebut dapat terus bertambah sesuai dengan tujuan studi kita ke Jerman. Apakah kita akan meneruskan studi sebagai graduate student, post graduate student ataukah doctoral student ?
Jawaban untuk daftar pertanyaan tersebut sebenarnya tidaklah perlu dirisaukan asalkan pertanyaan disampaikan kepada pihak yang benar-benar tahu. Sehingga informasi yang diperlukan dapat diperoleh dengan mudah. Beberapa lembaga yang disarankan untuk dihubungi antara lain adalah DAAD yang perwakilannya di Indonesia terdapat di Jakarta. Atau bisa juga langsung mengadakan kontak ke Foreign Students' Office (AAA = Akademischen Auslandsamt) yang terdapat di setiap institute / universitas di Jerman. Karena memang merupakan kewajiban bagi AAA untuk menyelenggarakan hubungan internasional antar perguruan tinggi.

Problematik yang umum dihadapi
Beberapa permasalahan yang umum dihadapi dalam rangka mulai melangkah untuk menambah wawasan baru di dunia yang baru antara lain adalah kurangnya informasi, bahasa dan yang terakhir adalah dukungan finansial. Beberapa rekan pelajar dari berbagai negara berpendapat:
"Studi di Jerman sangat menarik dan penuh tantangan"
"Belajar bahasa Jerman sungguh-sungguh merupakan pengalaman yang sangat menyedihkan buat saya. Sampai suatu saat saya menyadari bahwa saya mulai bisa mengerti apa yang disampaikan professor dalam perkuliahannya"
"Kesempatan untuk bekerja bagi seorang pelajar benar-benar bermanfaat bagi saya. Selain ada tambahan uang saku, juga memungkinkan saya untuk lebih berinteraksi dan mengenal kebiasaan orang-orang Jerman"
Komentar-komentar di atas merupakan pengalaman pribadi dari para pelajar yang telah berhasil menghadapi 'rintangan' pertama di awal studinya di Jerman. Bekal utama adalah tentu saja semangat. Semangat untuk berburu informasi, semangat untuk belajar bahasa dan semangat untuk menggapai cita-cita setinggi langit, meskipun tentunya harus selalu berpijak pada buminya kenyataan.
Cara paling praktis untuk berburu informasi adalah dengan melalui internet. Media virtual ini akan membantu kita mendapatkan semua informasi yang kita perlukan. Beberapa alamat di bawah ini setidaknya akan dapat memberikan gambaran kepada para pendamba tantangan untuk memulai langkahnya.
http://www.daad.de/
http://www.stud.uni-goettingen.de/
http://www.uni-hohenheim.de/
Atau dapat juga langsung menulis email ke Foreign Students' Office (AAA = Akademischen Auslandsamt) dari universitas yang diinginkan seperti misalnya:
RWTH Aachen
Akademisches Auslandsamt
AhornstraĂźe 55
D-52056 Aachen
e-mail: international@aaa.rwth-aachen.de

Technische Universität Berlin
Akademisches Auslandsamt
StraĂźe des 17.Juni 135
D - 10623 Berlin

Humboldt-Universität Berlin
Akademisches Auslandsamt
Unter den Linden 6
D - 10099 Berlin
e-mail:
doerthe=muecke@verwaltung.hu-berlin.de

Universität Berlin
Akademisches Auslandsamt
Universitätsstraße 25
D - 33615 Bielefeld

Universität Bonn
Akademisches Auslandsamt
Poppelsdorfer Allee 53
D - 53113 Bonn
e-mail:
m.appel@uni-bonn.de

Selain universitas-universitas terkemuka di berbagai kota di Jerman, terdapat juga berbagai sekolah kejuruan (Fachhochschulen), beberapa alamat dari Foreign Students Officers antara lain:
Berlin, Technische Fachhochschule
Akademisches Auslandsamt
Luxemburger StraĂźe 10
D - 13353 Berlin
e-mail:
ausland@tfh-berlin.de

Frankfurt/Main, Fachhochschule
Referat Auslandsbeziehungen
Nibelungenplatz 1
D - 60318 Frankfurt/Main
e-mail:
kuf@aa.fh-frankfurt.de

Göttingen, Private Fachhochschule
Weender LandstraĂźe 3 - 5
37073 Göttingen

MĂĽnchen, Fachhochschule
Akademisches Auslandsamt
LothstraĂźe 34
D - 80335 MĂĽnchen
e-mail:
merz@tb.fh-muenchen.de
goeller@tb.fh-muenchen.de

Disamping alamat-alamat tersebut di atas juga terdapat beberapa alamat untuk belajar musik maupun kesenian di berbagai kota di Jerman.
Jika komunikasi sudah terjalin dengan institusi yang diinginkan, dengan sendirinya berbagai pertanyaan tentang studi akan mendapatkan jawabannya. Kendala selanjutnya yang umum terjadi adalah bagaimana melengkapi berbagai administrasi yang diperlukan untuk mendaftar ke institusi yang bersangkutan. Karena biasanya formulir yang disediakan ditulis dalam bahasa Jerman, meskipun disertakan juga terjemahannya dalam bahasa Inggris. Oleh sebab itu janganlah karena kendala bahasa maka cita-cita menjadi tidak terlaksana.
Banyak dan umum terjadi bahwa semangat menjadi berkurang hanya karena ada hal baru yang harus dipelajari dari 'nol'. Setelah beberapa saat lamanya terbiasa dengan struktur yang ada dan kemudian harus memulai sesuatu lagi dari nol, biasanya hanya beberapa orang saja yang berani jalan terus. Padahal tanpa mencoba, darimana seseorang bisa mengukur kemampuannya sendiri ? Demikian juga dengan belajar bahasa Jerman.
Beberapa institusi di Jerman dewasa ini sudah tidak terlalu 'kaku' lagi dalam mensyaratkan bahasa Jerman sebagai bahasa pengantar dalam studi. Beberapa kantor pemerintah, seperti bagian imigrasi, menyediakan pula penterjemah untuk penduduk yang tidak mengerti / kurang paham bahasa Jerman. Studi dapat ditempuh dengan menggunakan bahasa Inggris atau Perancis. Jika memang dirasa perlu dan Supervisor / Professor pembimbing mendapatkan argumentasi yang kuat bahwa tugas akhir akan ditulis dalam bahasa Inggris, maka dengan sendirinya tidak ada masalah lagi dengan persoalan bahasa. Akan tetapi bukan berarti lantas tidak perlu lagi belajar bahasa Jerman. Karena dalam aktivitas sehari-hari (belanja, ke toko buku, ke kantor pos, jalan-jalan, dll), mau tidak mau memerlukan juga penguasaan bahasa Jerman ini.

Persiapan yang perlu dilakukan
Pertama yang perlu dipersiapkan adalah menjalin komunikasi dengan institusi yang diinginkan. Dalam hal ini, kontak komunikasi dapat dilakukan sendiri, atau dapat juga meminta bantuan dari perwakilan DAAD Jakarta. Sehingga dapat diperoleh keterangan yang pasti tentang apa-apa yang diperlukan untuk memulai studi ke Jerman. Meskipun pada umumnya, setiap institusi menghendaki agar dokumen-dokumen diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan dilegalisir. Diantaranya yang diperlukan adalah: ijazah SMA, ijazah terakhir pendidikan (ijazah dan transkrip), akte kelahiran dan sertifikat kemampuan berbahasa Jerman (DSH = Deutsche Sprachprüfung für den Hochschulzugang ausländischer Studienbewerber). Bagi yang akan melanjutkan ke post graduate diminta untuk melampirkan research proposalnya. Pada jenjang ini, sertifikat bahasa Jerman dapat dinegosiasikan.
Langkah selanjutnya tentu saja membekali diri dengan pengetahuan tentang bahasa Jerman yang dapat dipelajari melalui kursus-kursus bahasa, baik privat maupun umum. Sertifikat ujian DSH diperlukan bagi pelajar yang akan memulai studinya di universitas. Ujian dapat ditempuh di Institut pendidikan bahasa Jerman Goethe Institut Jakarta, Bandung maupun Surabaya. Masing-masing universitas di Jerman juga menyelenggarakan kursus persiapan ujian DSH, tetapi langkah ini dengan sendirinya memerlukan biaya ekstra.
Biaya dirasakan sebagai kendala lain bagi keinginan untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Tetapi jika kita ingin mendapatkan ikan yang besar, tidak mungkin memancing dengan umpan yang kecil. Pengorbanan (baca: investasi) selalu diperlukan pada saat kita memulai suatu usaha. Demikian juga dengan niat untuk menambah wacana baru di dunia pendidikan ini. Tentunya diperlukan biaya juga untuk memulai berburu informasi, mempersiapkan paspor, visa, belajar bahasa dan persiapan-persiapan lain. Upaya yang umum dilakukan adalah dengan mencari beasiswa. Untuk ini DAAD merupakan keyword yang tepat, meskipun bukan berarti bahwa tanpa DAAD maka studi ke Jerman hanyalah impian. Beberapa institusi dapat juga mengupayakan tambahan dana belajar seperti misalnya, World Bank. DAAD menyediakan buku panduan tentang "Scholarships and Funding" yang diterbitkan baik dalam bahasa Jerman maupun bahasa Inggris.
Alternatif lain adalah dengan biaya sendiri. Pelajar di Jerman mempunyai hak untuk bekerja selama 3 bulan dalam setahun. Biasanya kesempatan ini dimanfaatkan untuk bekerja 'part timer' di sela-sela waktu kuliah. Alternatif lain adalah ikut serta pada proyek-proyek professor yang biasanya memerlukan tenaga tambahan baik sebagai laboran maupun tenaga trampil.
Masih banyak lagi persiapan-persiapan yang perlu dilakukan sebelum memulai studi ke luar negeri. Seperti misalnya, mempersiapkan tempat tinggal, pengurusan asuransi, perbankan, ijin mengemudi, kebiasaan sehari-hari penduduk Jerman, dimana berbelanja sembako dll yang tidak mungkin disampaikan dalam waktu singkat pada kesempatan ini. Detail informasi dapat diperoleh melalui publikasi-publikasi yang diterbitkan oleh DAAD diantaranya:
Living and Studying in Germany
Studying in Germany :
- Information for Foreign Students on Universities
- Information for Foreign Students on the Fachhochschulen
- Information for Foreign Students on Colleges of Art and Music
Study Preparation at Germany's "Studienkollegs"
Sommerkurse in Deutschland, Sprache, Literatur, Landeskunde, Musik (hanya dalam bahasa Jerman).
Degree Courses at Institutions of Higher Education in the Federal Republic of Germany
Postgraduate Courses at Institutions of Higher Education in the Federal Republic of Germany
Deutsch als Fremdsprache an den Hochschulen und Studienkollegs in Deutschland: Die Sprachlehrangebote (hanya dalam bahasa Jerman).

Kajian Kualitas Ampas Teh yang Difermentasi Menggunakan Aspergillus niger dengan Lama Pemeraman yang Berbeda

Oleh

C.I. Sutrisno, R.I. Pujaningsih, S. Sumarsih
Lab Teknologi Makanan Ternak, Fakultas Peternakan UNDIP


Abstrak

Penelitian bertujuan untuk memanfaatkan ampas teh sebagai alternatif pakan berserat yang potensiil bagi ternak ruminansia. Fermentasi ampas teh dengan menggunakan Aspergillus niger sebagai inokulum dicobakan pada penelitian ini untuk mengkaji kualitas nutrisi dari ampas teh. Parameter yang diamati adalah komponen proksimat dan kadar tannin. Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan lama pemeraman (0, 2, 4, 6 minggu) digunakan untuk mendapatkan data. Data diolah menggunakan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji wilayah ganda Duncan serta uji regresi. Kesimpulan yang diperoleh menunjukkan bahwa fermentasi ampas teh dengan Aspergillus niger berpengaruh nyata meningkatkan kualitas nutrisi dan menurunkan kadar tanin. Perlakuan terbaik pada lama pemeraman 2 minggu.

Kata kunci: ampas teh, fermentasi, Aspergillus niger, komponen proksimat,
tanin

The quality study of tea waste product which was fermented by using Aspergillus niger on the different length of processing

by

C.I. Sutrisno, R.I. Pujaningsih, S. Sumarsih
Lab of Technology and Feed Industry
Faculty of Animal Agriculture, Diponegoro University

Abstract

Research’s aim to take advantage of the tea waste product as an alternative potensiil feed livestock. Fermentation process of tea waste product by using Aspergillus niger as inokulum was tried at this research to study the nutrition quality from fermented tea waste product.. Parameter measured is component of proximat and rate of tannin. Random Device Complete with four treatment of the length fermentation processing ( 0, 2, 4, 6 week) used to get the data. Data were processed by using ANOVA and continued with Duncan test and also regresion test. Conclusion obtained indicate that the fermentation of tea waste product by Aspergillus niger have an effect on the reality improve of the nutrition quality and degrade the rate of tanin. The best treatment was reached at two weeks of fermentation process.

Keywords: tea waste product, Aspergillus niger, fermentation, tannin, proximat
component.

Developing Bullfrog (Rana catesbeiana) Cultivation as an Alternative of Prospective Entrepreneurship

By
Retno Iswarin Pujaningsih
Siswanto Imam Santoso
Faculty of Animal Agriculture, Diponegoro University

Abstract

Bullfrog (Rana catesbeiana) is a very potential species to extend because its cultivation does not require large area and it has also a good chance to become a prospective export commodity. Besides, protein content of frog’s meat is high enough as the source of meat protein (17%) with low level content of fat (0,3%). The demand of frog’s meat from domestic and foreign countries can not be supplied only by the Indonesian local frogs because they were diminishing. As an alternative, the exporter must cultivate Bullfrog. This condition will provide a chance of new alternative and prospective entrepreneurship for them who can not continue their study and also for unemployed people. In Indonesian, Bullfrog cultivation was done by very limited farmers because of some problems on its intensification. The type of collaboration between the local governments and the Institution of Education (Universities, Vocational School) was trying to find and solve these problems. In the future, socialization of the solution was aimed to motivate the entrepreneurship of doing Bullfrog cultivation. Survey was identified that Bullfrog’s cultivation has to face problem of low production because of high mortality and high fluctuation of the product’s price. Introduction of natural feed addition (increasing 10% of feed protein) can be hoped to solve the low productivity which caused by the lack of good quality and quantity of feed. The addition of vitamins during feed formulation proved the increasing of fertility and survival rate of the frog (decreasing 10-15% of mortality). Modifying of marketing management include the level of profitable farm, type of farm’s integration (nucleus-plasma model) and rotating of marketing products will make an improvement of product price fluctuation’s. Furthermore, Bullfrog cultivation is feasible to do on the level of 10.000 of frogs per period of production with 40% pessimistic scale of mortality. The result of feasibility study (ROI, payback period, NPV, BC Ratio are 72,64%; 1,19 year; positive and 1,95; respectively) presented that Bullfrog cultivation is a profitable business.


Keywords: Bullfrog Cultivation, Entrepreunership, profitable business

The Evaluation of Sorghum as the Substitute for Corn in the diet of the Growth's Indigenous Chicken

(Evaluasi Penggunaan Sorghum sebagai Pengganti Jagung
dalam Ransum Ayam Buras Persilangan (F1) Periode Pertumbuhan)

by

R.I. Pujaningsih1, Soelistyono, H.S(1, Wiloeto, D(2
1) Academic Staff of Animal Agriculture Faculty, Diponegoro University
2) Researcher of Sub Balai Penelitian Ternak Klepu, District of Semarang

Abstract

This paper outlines the effect of sorghum as the substitute for corn in the diet of 64 local indigenous chicken growers (F1 between local female chicken x male layer final stock) by the age of 2 months. The research was conducted in the poultry research cage of Sub Balai Penelitian Ternak Klepu, Kabupaten Semarang. Treatments were arranged in phases of R1: 45% corn without sorghum, R2: 30% corn + 15% sorghum, R3: 15% corn + 30% sorghum and R4: 45% sorghum without corn. Basal feed was prĂ©cised as iso calorie (ME = 2.700 kcal/Kg) and iso protein (protein = 15%). Average daily gain, feed consumption and feed conversion ratio were observed as parameters. Completely randomized design was employed through the experiment. Data were subjected to ANOVA using the general models procedure of SAS, T-test was used for further analysis. The result presented, the substitution of corn with sorghum was not significantly (P>0, 05) affect to the average of daily gain, feed consumption and feed conversion ratio of the birds. So, it can be concluded that sorghum can be used to substitute corn until 45% of the poultry’s diet.

Keywords : corn, sorghum, local indigenous chicken

Abstrak

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan sorghum sebagai bahan baku ransum pengganti jagung pada ransum ayam buras persilangan (F1) periode pertumbuhan. Pelaksanaan dilakukan di kandang penelitian unggas Sub Balai Penelitian Ternak Klepu, Kabupaten Semarang. Materi yang digunakan adalah 64 ekor ayam buras persilangan filial 1 (betina buras x jantan ras petelur final stock) umur 2 bulan. Perlakuan yang diberikan adalah subtitusi jagung dengan sorghum secara bertahap yaitu R1: 45% jagung tanpa sorghum, R2: 30% jagung + 15% sorghum, R3: 15% jagung + 30% sorghum, R4: 45% sorghum tanpa jagung. Ransum disusun secara iso kalori (ME = 2.700 kkal/Kg) dan iso protein (protein = 15%). Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan ransum serta 4 ulangan. Parameter yang diamati meliputi pertambahan bobot badan, konsumsi ransum dan konversi ransum. Data dianalisis dengan analisis keragaman dan uji beda nyata terkecil bila terdapat perbedaan akibat pengaruh perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggantian jagung dengan sorghum sebagai bahan baku utama ransum tidak memberikan perbedaan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap konsumsi ransum, pertambahan bobot badan maupun konversi ransum. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa sorghum dapat digunakan sebagai bahan baku pengganti jagung dalam ransum ayam buras persilangan (F1) periode pertumbuhan.

Kata kunci : jagung, sorghum, ayam buras persilangan

Fermentation of Rice Bran to Decrease Phytate-Phosphorus by Using Rumen Liquor

by
R. I. Pujaningsih
Department of Animal Nutrition and Feed Science,
Faculty of Animal Agriculture Diponegoro University

Abstract

Rice bran as the source of P for the monogastric animals has the highest levels of phytate. Monogastric animals, such as pigs, poultry and fish, utilize this source of phosphate poorly at the best, lacking the requisite gastrointestinal tract enzyme(s) for release of the phosphate from the organic complex of phytate. By the way, phytate phosphorus has been considered to be absorbed easily in ruminant because of microbial phytase degradation in the rumen. Knowing that rumen content at slaughterhouses presents a serious disposal problem, this study would try to use it. The aim of this study is to decrease phytate phosphorus from rice bran by using rumen liquor and following to increase phosphorus supply in poultry diets. The experimental design was selected to compare the effects of rumen liquor levels on the fermentation process. Besides, it is used also to find the best treatment and time of the fermentation. Factorial model based on completely (block) randomized design was employed through out the experiment. Two factors have been evaluated (i) the level of rumen liquor's addition (15; 30 and 45%), and (ii) the length of fermentation (0;2;4; and 6 days). Data were subjected to ANOVA using the general models procedure of SAS. Duncan and Orthogonal test was used for further analysis with level probability of 95 % and 99 %. The result of this study presented that fermentation process which used rumen liquor would slightly decreased after the fourth day of incubation period. A longer incubation period would give no further effects to the phytase activity and phytate phosphorus degradation. Compare to the standard (the use of microbial phytase), the results of mixture used 45% of rumen liquor showed relatively low.

The Activity of Phytase to Increase Phosphorous Availability on the Fermentation of Rice Bran by Using Rumen Liquor

AKTIFITAS ENZIM FITASE DALAM UPAYA PENINGKATAN KETERSEDIAAN FOSFOR PADA FERMENTASI DEDAK PADI
DENGAN CAIRAN RUMEN

R. I. Pujaningsih
Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang

ABSTRAK

Dedak padi sebagai salah satu sumber fosfor bagi ternak monogastrik memiliki kandungan fitat yang tinggi. Ketidakmampuan unggas untuk memanfaatkan fosfor yang terikat pada fitat menyebabkan mineral tersebut terbuang bersama ekskreta dan dapat mencemari lingkungan. Berlainan dengan rumiansia, fitat mampu didegradasi dengan baik pada saluran pencernaannya karena adanya mikrobia yang dapat menghasilkan enzim fitase. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktifitas enzim fitase pada dedak padi yang difermentasi dengan cairan rumen. Rancangan acak lengkap dengan pola faktorial digunakan pada penelitian ini dengan faktor I adalah level penambahan cairan rumen (15, 30 dan 45%) dan lama fermentasi (0, 2, 4 dan 6 hari) sebagai faktor II. Data dianalisis dengan sidik ragam dan jika terdapat pengaruh perlakuan akan dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa interaksi perlakuan penggunaan cairan rumen dan lama fermentasi berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap aktifitas enzim fitase. Aktifitas maksimal enzim fitase diperoleh pada kombinasi perlakuan penggunaan cairan rumen 30% dari BK dedak padi dan lama fermentasi 2 hari. Periode fermentasi selanjutnya tidak menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap aktifitas enzim fitase maupun degradasi dari fitat-fosfor.

Kata kunci : dedak padi, aktifitas fitase, ketersediaan fosfor, cairan rumen,
fermentasi

ABSTRACT

Rice bran as one of the source of phosphorous for the monogastric animals has the highest levels of phytate. The inability of poultry to utilize phytate P necessitates the dietary addition of inorganic P; this adds to increased feed costs, increases P excretion, and creates an environmental contaminant By the way, phytate phosphorous has been considered to be absorbed easily in ruminant because of microbial phytase degradation in the rumen. This study would try to use rumen liquor as starter for fermentation processing of rice bran. The aim of this study is to evaluate the activity of phytase on the fermented rice bran. Factorial model based on completely (block) randomised design was employed through out the experiment. Two factors have been evaluated (i) the level of rumen liquor's addition (15; 30 and 45%), and (ii) the length of fermentation (0;2;4; and 6 days). Data were subjected to ANOVA using the general models procedure of SAS. Duncan and Orthogonal test was used for further analysis. The results indicated the interaction between these two factors. Maximal activity of phytase was reached on the addition of 30% rumen liquor to the rice bran within 2 days of fermentation process. A longer incubation period would give no further effects to the phytase activity and phytate phosphorus degradation.

Keywords : rice bran, phytase activity, phosphorous availability, rumen liqour,
fermentation

Kajian Kualitas POD Kakao yang Diamoniasi dengan Aras Urea yang Berbeda

oleh:
Pujaningsih, R.I., Sutrisno, C. I., Sumarsih, S.
Laboratorium Teknologi dan Makanan Ternak
Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro

Abstrak

Potensi produksi hasil samping perkebunan kakao (pod kakao) terus meningkat sejalan dengan meningkatnya produksi biji kakao di Indonesia. Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh aras urea pada proses amoniasi pod kakao terhadap kualitas fisik-organoleptik, produksi “volatile fatty acids” (VFA) dan konsentrasi amonia (NH3). Penelitian dilaksanakan bulan Januari-Maret 2005 di Laboratorium Teknologi Makanan Ternak dan Laboratorium Ilmu Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Semarang. Rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan penambahan aras urea (0, 3, 6, 9 dan 12%) dan tiga kali ulangan digunakan pada penelitian ini. Data dianalisis ragam dilanjutkan uji wilayah ganda Duncan untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan dan uji polinomial ortogonal untuk mengetahui aras urea yang optimal. Parameter yang diamati adalah produksi VFA, konsentrasi NH3 dan sifat fisik organoleptik. Produksi VFA dan konsentrasi NH3 pod kakao amoniasi dengan aras urea berbeda masing-masing adalah 65,75; 77,67; 81,83; 85,25; 83,75 mM dan 2,77; 4,01; 6,16; 9,21 dan 12,47 mM. Uji polinomial ortogonal untuk produksi VFA menghasilkan titik optimal pada aras urea 9,69% dan produksi VFA sebesar 85,91 mM. Uji polinomial ortogonal untuk konsentrasi NH3 mengikuti persamaan Y = 2,7 + 0,35X + 0,038X2 (R2 = 0,98). Nilai pH sebelum dan sesudah amoniasi masing-masing adalah 6 dan 8-9 pada kisaran suhu 28-30°C. Perlakuan aras urea yang berbeda berpengaruh sangat nyata (p<0,01) meningkatkan bau khas ammonia menjadi semakin tajam, meminimalkan keberadaan jamur, meningkatkan keremahan tekstur dan memekatkan warna coklat yang terbentuk. Kesimpulan penelitian adalah amoniasi menggunakan urea dapat meningkatkan kualitas nutrisi pod kakao yang ditunjukkan dengan meningkatnya produksi VFA, konsentrasi NH3 serta sifat fisik organoleptiknya.

Kata kunci: fisik organoleptik, pod kakao, amoniasi, VFA, NH3

STUDYING THE QUALITY OF CACAO POD WHICH WAS AMMONIATED
WITH DIFFERENT LEVEL OF UREA

by
Pujaningsih, R.I., Sutrisno, C. I, Sumarsih, S.
Laboratoryof Technology and Feed Industry
Faculty of Animal Science, Diponegoro University

Abstract

Production of cacao’s waste product (cacao pod) was increasingly in line with the increasing of cacao production in Indonesia. Research’s aim to study the influence of urea level at cacao pod amoniation process to quality of physical organoleptic, production of volatile fatty acids (VFA) and ammonia concentration (NH3). Research was done from January until April 2005 at laboratory of Technology and Feed Industry and laboratory of Animal Nutrition and Feed Science, Faculty of Animal Science, Diponegoro University. Randomized completely device with five urea’s level addition (0, 3, 6, 9 and 12%) as treatments and three replications were used in this research. Data were analyzed by ANOVA and continued by Duncan test and polynomial orthogonal test. Parameter observed is VFA’s production, concentration of NH3 and quality of physical organoleptic. VFA’s production and concentration of NH3 from ammoniated cacao pod are 65,75; 77,67; 81,83; 85,25; 83,75 mM and 2,77; 4,01; 6,16; 9,21 and 12,47 mM, respectively. The polynomial orthogonal test to the VFA’s production yield the optimal point at urea’s level of 9,69% and produce the VFA of 85,91 mM. The polynomial orthogonal test for the concentration of NH3 follow the equation Y = 2,7 + 0,35X + 0,038X2 (R2 = 0,98). pH’s value before and hereafter ammoniation are 6 and 8-9 at temperature of 28-30°C, respectively. The different level of urea significantly effects (p<0,01) the improving of typical ammonia’s aroma to become progressively sharply, minimization of fungi existence, improving crumb texture and sharpen the brown colour. Research’s conclusion showed that ammoniation by using urea can improve the quality of cacao pod nutrition posed at the height of VFA’s production, concentration of NH3 and also the quality of physical organoleptic.

Key words: physical organoleptic, cacao pod, ammoniation, VFA, NH3

Saturday, May 06, 2006

Seaweed for Animal Feed



Evaluation of Nutrition and Organoleptic Physical Quality for Pellet Using
Some Levels of Seaweed (Sargassum sp)


by

R. I. Pujaningsih, S. Sumarsih, BIM. Tampoebolon
(Lab. of Technology and Feed Industry,
Faculty of Animal Husbandry, Diponegoro University)


Abstract

Seaweed represent as one of nature resource which not exploited in an optimal fashion yet. Sargassum sp has permanent potential upon feed as carbohydrate source. This research aim to study the influence of using some Sargassum sp.’s level toward pellet by combining conditioning and non-conditioning method headed for nutrition’s quality and organoleptic physical quality. Yellow corn, rice bran, oil cake coconut, oil cake soy, fish meal, seaweed (Sargassum sp) and premix were used for pellet composing. Factorial model based on completely (block) randomized design was employed through out the experiment. Two factors have been evaluated (i) the level of Sargassum sp’s addition (0; 5; 10 and 15%), and (ii) the method of pellet composing (conditioning and unconditioning). Data were subjected to ANOVA. Duncan and t-test was used for further analysis. Parameter observed including proximate component, durability, colour and texture of pellet. The results show the existence of real interaction (p<0,05) among treatments to the content of dry matter, ash, crude protein, crude fiber and Nitrogen of Free Extract. The increasing of nutrient quality presented by the content of dry matter, ash, crude fat and Nitrogen of Free Extract. Furthermore, the content of crude fiber and crude protein were significantly decreasing (p<0,05). Use of Sargassum sp toward pellet yield the brown to black colour, medium to harsh texture with 86,67; 89,16 and 91,41% level of durability. While control yield light brown colour, fine texture by 92,52% durability level. Conclusion indicates that the use of Sargassum sp may not be able to improve the quality of organoleptic physical yet. The evaluation of nutrition quality concluded the increasing of dry matter content, ash, crude fat and Nitrogen of Free Extract while crude protein and crude fiber content decreasing.

Keywords: pellet quality, seaweed, nutrient evaluation, organoleptic physical

ANOA (Bubalus sp)


IDENTIFICATION OF NATURAL FEED OF ANOA (Bubalus sp.)
IN ADVANCE OF WILDLIFE CONSERVATION

by
Pujaningsih, RI
Department of Animal Nutrition and Feed Science, Fac. of Animal Husbandry,
Diponegoro University Semarang, Central Java, Indonesia
E-mail: retnoip@telkom.net Fax.: +62 24 7474750 Telephone: +62248319308

Abstract



The decreasing of Anoa’s territory has reduced the feed availability in natural habitat. Thus any information related to natural feed and its alternatives for Anoa is valuable. This study was aimed to determine the composition of natural feed and the nutrient content of each plant to find its alternatives. The outcome of this research is to give basic information concerning the conservation and captivation of Anoa as an endemic and endangered animal in Sulawesi. Research was performed as field research at Zona National Lore Lindu Park of Rain Forest in Central Sulawesi and laboratory research in the laboratory of Forage Science, Animal Nutrition and Feed Science Department, Faculty of Animal Husbandry, Diponegoro University. The research was conducted from March to November 2004. Thirty sample plots were made by the size of 10x10 m. Nutrition content of the vegetation was analyzed by proximat analysis. Density and the amount of vegetation were determined by Odum’s method. The results indicated that there are eleven plants which were desirable by Anoa: Areca sp, Elatostema sp, Rubus sp, Zingiber sp, Nephrolepis sp, Cyrtandra sp, Begonia sp, Eragrostis sp, Saccharum sp, Homalomena sp, Paspalum conjugatum. Elatostema sp were found frequently in the centre-side area of the Park. Rubus sp, Zingiber sp, Nephrolepis sp, Begonia sp and Homalomena sp classified as rarely seen in this field research. Concerning to their nutrient content, it can be concluded that Anoa is well adapted to the feed which contain high crude fiber content (20-45%) and relatively low protein content (5-13%). So, Anoa can be fed by some alternative vegetation which at least has equivalent quality. Anoa’s vegetation feed consists of plants which can be cultivated easily. A good socialization about Anoa’s feed cultivation is expected to increase the economic growth for resident who lives around tropical forest and also preventing the resident from opening the protected forest and hunting the Anoa wildly.

Keywords: endemic, endangered, forage, crop

Notes