Wednesday, January 02, 2008

MENGENAL UDANG NAGA


Udang Naga si penjaga harta....


Saat ini budidaya lobster khususnya lobster air tawar merupakan salah satu budidaya andalan yang digalakkan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan. Prospek lungshia (dalam bahasa China berarti udang naga) sangat bagus lantaran harganya yang tinggi dan pasarnya terbuka lebar. Permintaan pasar domestik dan ekspor terus meningkat, sementara produksi terbatas.

Lobster, dahulu merupakan makanan yang ditolak oleh para narapidana di Massachusetts Amerika Serikat. Namun sekarang jenis udang ini jadi salah satu menu eksklusif di hotel-hotel dan restoran ternama. Menu makan malam yang menyajikan lobster yang disajikan di hotel berbintang dipatok dengan harga lebih dari Rp 100 ribu. Sedangkan di sebuah restoran di Bukit Merah, Singapura, baby lobster menjadi menu favorit pengunjung, dan tentu saja berharga mahal.

Lobster air tawar (LAT) merupakan komoditas potensial yang dapat dikembangkan. Lobster air tawar belum populer seperti udang windu yang sempat menduduki primadona di subsektor perikanan. Di Indonesia lobster banyak ditemukan di sungai-sungai di Papua. Lobster dapat digunakan sebagai ikan hias maupun konsumsi. Setiap jenis lobster memiliki ciri-ciri yang berbeda, baik ukuran maupun wama. Jenis-jenis lobster antara lain Cherax quadricarinatus (atau yang lebih dikenal red claw). Lobster air tawar mulai banyak dikenal oleh masyarakat, dari segi harga tidak kalah bersaing dengan udang windu.

Hingga kini, belum banyak yang menggeluti usaha budidaya lobster air tawar. Salah satu penyebabnya adalah masyarakat belum mengetahui pangsa pasar lobster air tawar. Kebanyakan orang hanya mengetahui lobster air laut yang ditangkap nelayan. Permintaan pasar lobster air tawar di dalam negeri cukup tinggi. Namun, hingga kini produksi domestik belum dapat memenuhi kebutuhan pasar. Hal ini disebabkan belum banyak petani yang menggeluti budidaya lobster air tawar. Petani yang mengusahakan masih terbatas di kota besar antara lain Jakarta dan Yogyakarta. Prospek pasar luar negeri masih terbuka lebar, seperti ke Australia, Jepang dan Amerika Serikat. Harga lobster dalam negeri saat ini berada di kisaran Rp120.000- Rp200.000 per kg. Tentunya, harga lobster akan semakin mahal bila dikirim ke luar negeri. Permintaan lobster untuk konsumsi ke Eropa juga besar, namun belum bisa dipenuhi secara optimal karena pasokan masih terbatas.

Keunggulan lobster air tawar ini karena tidak mebutuhkan perawatan secara intensif, budidaya relatif mudah dibandingkan udang-udang yang lain. Teknik budidayanya cukup sederhana, sehingga dapat dilakukan oleh siapa saja. Modal yang dibutuhkan tidak terlalu besar. Lahan yang dibutuhkan tidak luas, karena dapat dibudidayakan di akuarium atau kolam berukuran kecil. Lobster air tawar tidak mudah terserang penyakit, pemakan hewan maupun tumbuhan (omnivora), pertumbuhan relatif cepat dan memiliki daya bertelur tinggi. Lobster air tawar mengandung lemak rendah (< 2%), selenium yang merupakan antioksidan untuk menghindari penyakit jantung dan koroner, sumber yodium, zink, asam lemak omega 3, magnesium, kalsium dan fosfor.

Budidaya lobster ini sejatinya dapat dijadikan usaha sampingan yang mampu memberikan pendapatan tambahan yang lumayan besar. Seperti yang dilakukan oleh seorang pria kelahiran Yogyakarta yang sehari-hari melakukan kegiatan menabur pelet untuk pakan lobsternya sebelum ia memulai aktifitasnya sebagai pegawai di Departemen Perindustrian. Dari usaha sampingannya ini, ia dapat menangguk keuntungan sebesar dua juta rupiah setiap bulannya.

Ketertarikannya untuk membudidayakan lobster air tawar ini karena selain daya jualnya yang cukup tinggi dengan peluang pasar yang masih terbuka lebar, pun tidak perlu meluangkan banyak waktu untuk memeliharanya. "Lobster tidak membutuhkan perawatan intensif, mengganti air dan membersihkan akuarium pun cukup dilakukan seminggu sekali,"ujarnya. Banyak orang saat ini kepincut untuk membudidayakan lobster. Rekan-rekan kerja dan para tetangganya pun mulai mengikuti jejaknya. Sangatlah wajar apabila mereka merasa tertarik membiakkannya. Karena modal usaha budidaya lobster ini akan kembali dalam jangka waktu kurang dari setahun. Untuk memulai usaha ini dibutuhkan modal sebesar 2,5 juta - 3 juta rupiah untuk perlengkapan, akuarium beserta satu set indukan. Dalam jangka waktu empat bulan kemudian peternak dapat mencicipi hasilnya. Sedangkan biaya operasional yang dikeluarkan relatif kecil. Untuk pakan misalnya, hanya memerlukan satu kg untuk sebulan dengan harga Rp 10.000/kg.

Untuk perawatan ekstra biasanya hanya dilakukan pada saat moulting atau ganti kulit. Karena saat inilah tingkat kematian lobster meningkat. Ganti kulit mengakibatkan lemahnya kondisi lobster sehingga teman-temannya dengan mudah menyerang. Oleh karena itu peternak harus memindahkan lobster ke tempat yang lebih aman dengan cara memisahkan dari rekan-rekannya. Selain itu tidak ada gangguan yang berarti, hanya induk lobster biasanya sangat gampang kaget. Produktivitasnya akan menurun apabila mendengar suara petir.

Selama ini peternak menjual lobster secara eceran sebagai ikan hias. Mereka belum memanfaatkan peluang lobster sebagai sajian hidangan. Padahal Australia sebagai produsen utama dengan produksi mencapai 400 ton/tahun, 65 % produksinya diserap oleh pasar lokal. Sisanya baru diekspor ke Singapura dan Hongkong. Indonesia dapat melihat dan mencontoh perkembangan budidaya lobster yang dilakukan oleh Australia ini. Selama ini pasokan lobster untuk pasar dalam negeri lebih banyak mengandalkan dari hasil tangkapan alam. Sedangkan permintaannya yang terus meningkat belum terpenuhi. Sehingga perlu adanya alternatif pengembangan lobster secara budidaya untuk memenuhi permintaan pasar. Selain itu kegiatan budidaya ini juga untuk menjaga kelestarian lobster air laut.  (retno ip dari berbagai sumber)

2 comments:

bantul lobster van java said...

salam hangat dari saya...

perkenalkan!!
saya faiz dari ikatan bantul lobster van java....

saya sanggup menyediakan lobster baik indukan/bibit dalam jumlah berapa pun dan kapan pun

ingin saya mengembangkan bantul lewat lobster. namun,
saya terkendala dengan pemasaran..baik untuk lokal ataupun asing..

jika ada info dan berkenan berbagi dengan mengirimkannya melalui email,, saya ucapkan terima kasih...

Glpro_4ever@yahoo.com

Dodik said...

terimakasih ilmunya,

Notes