Thursday, October 09, 2014

Proteksi Minyak Biji Kapuk secara in vitro



PENGARUH SUPLEMENTASI DAN PROTEKSI MINYAK BIJI KAPUK TERHADAP FERMENTABILITAS RUMINAL RUMPUT GAJAH
SECARA IN VITRO DENGAN CAIRAN RUMEN SAPI
 (The Effect of Supplementation and Protection of Kapok Seed Oil on In vitro Ruminal Fermentability of Elephant Grass on Cattle Rumen Fluids)

D. D. Dinata, Widiyanto dan R. I. Pujaningsih
Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro
Kampus drh. R. Soejono Koesomowardojo, Tembalang Semarang 50275
dessdonndinn@gmail.com


ABSTRAK

          Tujuan penelitian adalah mengetahui interaksi antara suplementasi dan proteksi minyak biji kapuk (MBK) terhadap kecernaan dan hasil fermentasi ruminal rumput gajah secara in vitro.  Materi yang digunakan adalah rumput gajah, minyak biji kapuk, reagen KOH dan CaCl2 serta cairan rumen sapi.  Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 3 x 5 dengan 2 kali ulangan, faktor I yaitu aras suplementasi MBK : 5% (S1); 10% (S2) dan 15% (S3), faktor II yaitu aras proteksi : 0% (P0); 25% (P1); 50% (P2); 75% (P3) dan 100% (P4), serta perlakuan kontrol tanpa suplementasi dan proteksi (S0P0).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara suplementasi dan proteksi terhadap KcBK dan KcBO.  Nilai KcBK dan KcBO tertinggi dihasilkan oleh perlakuan kontrol, yaitu 55,17% dan 54,27%.  Hasil penelitian menunjukkan ada interaksi antara suplementasi dan proteksi terhadap produksi VFA dan NH3.  Produksi VFA dan NH3 tertinggi dicapai pada aras suplementasi 10% dan proteksi 25% yaitu 152,5 dan 6,50 mM.  Simpulan penelitian adalah suplementasi dan proteksi minyak biji kapuk tidak mempengaruhi hasil fermentasi ruminal, namun menurunkan kecernaan ransum basal rumput gajah secara in vitro.

          Kata kunci: minyak biji kapuk, suplementasi, proteksi, in vitro.


ABSTRACT

          The purpose of this research was to study the interaction between supplementation and protection of kapok seed oil (KSO) influence on in vitro digestibility and ruminal fermentability products of elephant grass.  Material used were elephant grass, kapok seed oil, KOH and CaCl2 reagens and cattle rumen fluids.  Completely randomized design (CRD) was used with two factorial pattern 3 x 5 with 2 replications, first factor was supplementation of KSO consist of 3 levels: 5% (S1); 10% (S2); and 15% (S3), respectively.  Second factor was protection consist of 5 levels: 0% (P0); 25% (P1); 50% (P2); 75% (P3) and 100% (P4); also control treatment without supplementation and protection of KSO (S0P0).  The result of this research showed there was no interaction between supplementation and protection of KSO on digestibility of elephant grass.  The highest In vitro Dry Matter Digestibility (IVDMD) and In vitro Digestibility of Organic Material (IVDOM) reached by control treatment, 55,17% and 54,27%, respectively.  The conclusion of this research showed infulence of interaction between supplementation and protection of KSO on VFA and NH3 production.  The highest VFA and NH3 production reached by 10% supplementation and 25% protection were 152,5 and 6,50 mM.  The conclusion recommended that supplementation and protection of KSO was not influenced ruminal fermentation, but decreased on in vitro digesbility of elephant grass.

          Keyword: kapok seed oil, supplementation, protection, in vitro.

Tuesday, December 10, 2013

Tugas Web design Semester gasal 2013/2014

KELOMPOK MATA KULIAH IT

(semester gasal 2013/2014)

Kelompok 1:   Undip13.blogspot.com

Kelompok 2 :  bebekkepo.blogspot.com

Kelompok 3:   weshareourworks.blogspot.com

Kelompok 4 :  sirinnasirin.blogspot.com

Kelompok 5 :  galithagalitha.blogspot.com

Kelompok 6:   syusyu27.blogspot.com

Kelompok 7 :  garrysiagian.wordpress.com

Kelompok 8 :  mangoapple.blogspot.com

Kelompok 9 :  pejantantangguh.blogspot.com

Kelompok 10 :  macamcara.blogspot.com

Tuesday, November 06, 2012

Tugas Aplikasi MS Office

Peserta mata kuliah dipersilahkan membagi dalam 6 kelompok masing-masing kelompok kurang lebih 9 orang. Materi yang wajib dipaparkan oleh masing-masing kelompok dalam pertemuan adalah:
          1. Leaflet
          2. Cashflow
          3. Presentasi dalam format power point
Tema leaflet seputar peternakan dan pertanian, misalnya teknologi pemberian pakan sapi/kambing/unggas, pembuatan kompos, pengolahan susu, pemanfaatan limbah. Leaflet tersebut nantinya dipresentasikan dalam format word dan power point.  Contoh leaflet seperti di bawah ini atau bisa dicari lagi di internet.




Cashflow dibuat dalam format excel, dilengkapi dengan grafik (batang, garis, pie chart). Tema cashflow boleh apa saja yang berkaitan dengan peternakan dan pertanian.

Selamat mengerjakan


Teknologi Informatika Komputer : Computer Software

Aplikasi MS Office
Microsoft Office adalah sebutan untuk paket aplikasi perkantoran buatan Microsoft dan dirancang untuk dijalankan di bawah sistem operasi Microsoft Windows dan Mac OS X. Beberapa aplikasi di dalam Microsoft Office yang terkenal adalah Excel, Word, dan PowerPoint.

Paket aplikasi perkantoran (office suite)
—Sebuah paket perangkat lunak yg diperuntukkan khusus utk pekerjaan di kantor. Komponen2-nya umumnya didistribusikan bersamaan, memiliki antarmuka pengguna yg konsisten dan dapat berinteraksi satu sama lain. Kebanyakan  aplikasi paket perkantoran terdiri dari sedikitnya sebuah pengolah kata dan sebuah lembar kerja. Sebagai tambahan, paket dapat terdiri dari sebuah program presentasi, peralatan basis data, paket grafis dan peralatan komunikasi.   
—Paket perkantoran yg paling dominan saat ini adalah Microsoft Office, yg tersedia untuk sistem operasi Microsoft Windows dan Apple Macintosh dan telah mjd perangkat lunak paket perkantoran standar scr de-facto.

Open office
 —Apache OpenOffice is an open-source office productivity software suite containing word processor, spreadsheet, presentation, graphics, formula editor, and database management applications. It was formerly known as OpenOffice.org under Sun, then Oracle ownership. OpenOffice's default file format is the OpenDocument Format (ODF), an ISO/IEC standard. It can also handle other file formats including those from Microsoft Office. OpenOffice runs on several operating systems. As of June 2011, it supports over 120 languages. It is distributed under the Apache License.
 


 

Tuesday, November 01, 2011

Tatalaksana Pemeliharaan Rusa


Domestikasi rusa telah dilakukan beberapa abad yang lalu di Asia dan Eropa, terutama di China. Di negara ini rusa diternakkan untuk memproduksi velvet yang digunakan sebagai obat tradisional. Di Eropa, peternakan rusa dikembangkan untuk dimanfaatkan dagingnya. Dalam perkembangannya rusa dipelihara di dalam area kandang yang luas sehingga mereka dapat bebas bergerak pada jarak 2 meter dari pagar yang mengelilingi area kandang. Peternak yang telah rutin membiasakan diri merawat rusanya dapat memberikan pakan langsung dari tangannya, tetapi jika belum terbiasa dengan kehadiran manusia, hewan ini dapat dengan mudah menjadi berbahaya/stress.
            Perkembangan industri rusa mencapai 20% tiap tahunnya. Rusa dipelihara di pastura dengan kualitas hijauan yang baik. Tambahan pakan diperlukan jika kualitas pasturanya kurang baik/terbatas. Pagar dan penanganan yang khusus sebaiknya digunakan untuk mengatasi ketangkasan dan kemampuan lompat rusa yang dengan mudah dapat melintasi pagar setinggi 2 m   atau lebih (Mackay 1998;Spiers dan Yerex, 1987). Kandang rusa dirancang sedemikian rupa sehingga rusa dapat bergerak melalui jalan setapak yang menghubungkan area umbaran dengan area pengelolaan. Disarankan agar area pengelolaan tertutup dan diberi pencahayaan ringan untuk memudahkan penanganan (Mackay, 1998; SCA 1991). Umumnya peternakan rusa berada di tempat terbuka. Untuk mengurangi stress, rusa harus dilatih untuk mendapatkan makanannya di suatu tempat yang telah ditentukan di area umbaran. Adaptasi area penanganan memudahkan upaya vaksinasi, penimbangan, pemotongan velvet maupun penangkapannya.
            SDM yang bekerjasama dengan rusa harus memahami dan menerima tanggung jawab yang berkaitan dengan kesejahteraan rusa yang berada di bawah pengawasan mereka. Pemberi kerja mempunyai suatu kewajiban untuk melatih karyawannya agar mampu bekerja sama dengan rekan sekerjanya, mampu menggunakan peralatan kerja dengan benar, mampu merawat ternak dan memastikan bahwa karyawan mengikuti prinsip itu terus menerus.
            Sebelum bertugas, SDM harus diberi instruksi yang jelas berdasarkan kebutuhan hidup rusa yang mereka pelihara yang berkaitan dengan spesies, jenis kelamin dan umur. Pengetahuan yang benar menyangkut perilaku rusa yang dikombinasikan dengan fasilitas yang memadai sangat diperlukan untuk memastikan adanya penanganan yang baik dan aman.

Handout kuliah dapat diunduh di sini

Deer (materi 3 BSH 2011)

Deer are members of the order Artiodactyle, which means that they have hoofs with an even number of toes.
 
Deer can be found around the world. They are native to all continents except for Australia and Antarctica. There are about 100 types of deer, including the whitetail deer, reindeer, elk, moose, mule deer, blacktail deer and caribou.
Male deer are called bucks, bulls, stags or harts. Female deer are called does, cows or hinds. Young deer are called fawns or calfs.

Deer can adapt well to just about any habitat. They prefer to live in "edge" habitats. Edges are human-made or natural habitat breaks, for instance from woods to croplands. They will use the woodlands for cover and shelter and the open land to graze in. In northern latitudes, deer may live in different areas in the summer and winter months. These areas can be as far as 30 miles apart.
Deer are the only animals that have antlers. They are the fastest growing living tissue on earth. Antlers are usually only found on males. In some species, like caribou, you will also find them on females. Moose have the largest antlers. Antlers grow from spring until fall. While growing, antlers are covered with a soft tissue known as velvet. This tissue contains a network of nerves and blood vessels and is very sensitive. In the fall, the velvet is shed and the antlers harden. In the winter, the antlers are shed. Antlers should not be confused with horns. Horns are never shed and continue to grow throughout the animal's life. If they are broken, they won't grow back.
Deer have a great sense of hearing. They have a lot of muscles attached to their ears which allow them to turn their ears in any direction, without moving their heads. They can hear higher frequencies of sound than humans.
The brown coat of the deer provides great camouflage in the woodlands. By standing still, they can go undetected by a passing predator. Fawns have a reddish-brown color covered with white spots, which help camouflage them and disappear when they are 3-4 months old. In the fall, deer will shed their summer coat and receive a much thicker winter coat.
Deer have their eyes on the sides of their head, giving them a 310 degree view. This wide view does make it hard for deer to focus on a single point. Deer have a good night vision, which is useful in the early morning and near dusk.
Deer have small teeth in the front of the bottom jaw, which they use for tearing and breaking apart food. They have no teeth in the front of the top jaw. Instead they have a hard palate, which is used in much the same way as teeth. In the back of the mouth deer have molars, canines and incisors, which are used for chewing.
Deer are ungulates, which means that they have two-toed hoofs. They have long legs with powerful muscles and are able to run 40 miles per hour and jump 10 feet high. They are also fast swimmers.
Deer have an excellent sense of smell, which allows them to detect predators from a long distance away. Deer lick their nose to keep it moist, which helps odor particles stick to it, improving their sense of smell. The nose also plays a role in communication. Deer produce scents with glands located on their head, legs and hooves. These scents provide information to other deer about their gender, social status, physical condition and whether an area is safe.
 
Deer usually stay in the same area called a home range. These areas are shared by related females who form matriarchies and that exclude adult males.
The breeding season for deer occurs between October and January. This period is called the "rut". During the "rut" the necks of the male deer will swell to more than double their normal diameter and their antlers will have lost their velvet. This will prepare them for fights with other buck to determine dominance and breeding rights. They will crash antlers, but usually don't get hurt. During this period, males are very nervous and constantly active, which can cause them to wander into places where you would normally not find them, like residential areas. Gestation is about 200 days and in the spring the female will give birth to one to three fawns.
Fawns are protected by a lack of scent. Enemies cannot smell them. Fawns are able to stand and walk shortly after birth. The mother keeps them hidden in bushes and checks up on them about 6 times a day to feed them. Young deer stay with their mothers for 1-2 years.
When deer feel threatened, they will raise their tail to warn other deer. Bucks mark their territory by making scrapes on the land with their hooves and by removing bark from trees with their antlers, called a "buck rub".
Deer are herbivores. They eat grass, leaves, stems, shoots, berries, herbs, acorns, mushrooms, wild fruit and agriculture crops like corn and soy beans.
Deer are ruminants (cud chewers) and have a four-chambered stomach. Other ruminants include cattle, goats and antelope. Deer start eating in the morning. They hardly chew their food which goes into the first stomach. While they rest, the food will move to the second stomach and form little balls. Now the food is brought back to the mouth and chewed. This chewed food goes into the third and fourth stomachs.
In the winter months, when less food is available, deer will become less active. By slowing down, they can get by eating only about one third of the food they normally eat. They will also hang out in the woods more to escape the cold winds.
Deer are born with four baby teeth and develop baby incisors and premolars in their first months. Their adult teeth come in and replace the baby teeth when they are about 18 months old. You can guess the age of deer by looking at the type of teeth they have and by how worn these teeth are. Each year, molars loose about one millimeter of height.
The life expectancy of deer is 20 years.

IUCN and CITES

The IUCN (International Union for Conservation of Nature) Red List Categories and Criteria are intended to be an easily and widely understood system for classifying species at high risk of global extinction. The general aim of the system is to provide an explicit, objective framework for  the classification of the broadest range of species according to their extinction risk. However, while the Red List may focus attention on those taxa at the highest risk, it is not the sole means of setting priorities for conservation measures for their protection.


CITES (the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) is an international agreement between governments. Its aim is to ensure that international trade in specimens of wild animals and plants does not threaten their survival.
Because the trade in wild animals and plants crosses borders between countries, the effort to regulate it requires international cooperation to safeguard certain species from over-exploitation. CITES was conceived in the spirit of such cooperation. Today, it accords varying degrees of protection to more than 30,000 species of animals and plants, whether they are traded as live specimens, fur coats or dried herbs.

Handout can be downloaded here

Budidaya Satwa Harapan

Perkembangan usaha peternakan telah sampai pada upaya perluasan jenis-jenis hewan yang diusahakan untuk diambil hasilnya. Perluasan ini dibuktikan dengan munculnya istilah baru, yaitu ‘satwa harapan’. Berdasarkan perbedaan dari definisi antara hewan dan ternak, dimana hewan adalah semua binatang yang hidup di darat, baik yang dipelihara maupun yang liar. Ternak adalah hewan piaraan yang kehidupannya diatur dan diawasi oleh manusia serta dipelihara khusus untuk diambil hasil dan jasanya bagi kepentingan hidup manusia. Satwa harapan dapat didefinisikan sebagai binatang atau satwa selain binatang yang dipelihara/diternakan tersebut dan diharapkan apabila diusahakan dapat menghasilkan bahan dan jasa seperti ternak. Berbagai jenis satwa harapan tersebut, contohnya antara lain ; burung (burung puyuh,ayam hutan), cucak rawa, reptil (ular,buaya), ikan arwana, kupu-kupu, banteng, rusa, gajah dan anoa.
Pada umumnya, alasan utama manusia melakukan budidaya satwa liar adalah karena alasan ekonomis yang berasal dari bermacam-macam produk, misalnya ; daging, minyak, gading/tanduk/taring, kulit sampai pada pemanfaatan bulu dan nilai keindahan dari kekhasannya. Salah satu cara budi daya dan pengembangan satwa liar menjadi komoditi domesti adalah domestikasi atau penangkaran. Ada beberapa pola yang dikembangkan, yaitu game ranching dan game farming. Game ranching adalah penangkaran yang dilakukan dengan sistem pengelolaan yang ekstensif. Ada dua arti yang berbeda (Robinson dan Bolen, 1984), pertama, suatu kegiatan penangkaran yang menghasilkan satwa liar untuk kepentingan olah raga berburu, umumnya jenis binatang eksotik, kedua, adalah kegiatan penangkaran satwa liar untuk menghasilkan daging, kulit, maupun binatang kesayangan, seperti misalnya burung, ayam hutan dan sebagainya. Pola penangkaran ini telah berkembang di Afrika, Amerika Serikat dan Australia. Di Indonesia sendiri pola ini telah di coba dikembangkan untuk jenis-jenis ayam hutan, burung, reptil (buaya, ular, penyu) dan ungulata (rusa, banteng).
Pola yang kedua adalah game farming, yaitu kegiatan penangkaran satwa liar dengan tujuan untuk menghasilkan produk-produk seperti misalnya kulit, bulu, minyak dan taring/gading/tanduk. Dalam pola ini dikembangkan juga penjinakan untuk keperluan tenaga kerja, misalnya gajah.
Prinsip penangkaran adalah pemeliharaan dan perkembangbiakaan sejumlah satwa liar yang sampai pada batas-batas tertentu dapat diambil dari alam, tetapi selanjutnya pengembangannya hanya diperkenankan diambil dari keturunan-keturunan yang berhasil dari penangkaran tersebut. Ada empat syarat untuk mengembangkan komoditi domestik melalui penangkaran agar diperoleh hasil maksimal, yaitu :
  •  Obyek (satwa liar), perlu memperhatikan populasinya di alam apakah mencukupi atau tidak, kondisi species (ukuran badan, perilaku) dan proses pemeliharaan sertta pemanfaatannya. 
  • Penguasaan ilmu dan teknologi, meliputi pengetahuan tentang ekologi satwa liar serta dikuasainya teknologi yang sesuai dengan keadaan perkembangan dunia. 
  • Tenaga terampil untuk menggali dasar ekologi ataupun cara pengelolaan pada proses penangkaran
  • Masyarakat, berkaitan erat dengan sosial budaya dan diharapkan sebagai sasaran utama dalam proses pemasaran produk.
Penangkaran dalam rangka budi daya dilakukan dengan sasaran utama komersiil terutama dari segi peningkatan kualitasnya, sehingga metode yang diterapkan lebih ditujukan untuk peningkatan jumlah produksi yang ditentukan oleh kaidah-kaidah ekonomi dan dikendalikan pasar. Metode  ini menerapkan teknologi reproduksi yang tinggi, seperti misalnya : inseminasi buatan, transplantasi embrio, agar dapat dihasilkan keturunan jantan yang baik, sehingga terjadi peningkatan genetik. Namun demikian, ini hanya boleh dilakukan bagi satwa/binatang hasil penangkaran pertama karena menyangkut nilai sosila etis dan undang-undang tentang perlindungan satwa liar yang merupakan satwa langka.
Suatu alasan yang sangat penting agar peternakan satwa liar dapat dikembangkan adalah karena satwa liar mempunyai daya adaptasi yang lebih tinggi dibandingkan ternak lain, selain proses pengelolaannya jauh lebih mudah dan hasilnya sangat memuaskan. Hal-hal penting yang perlu diperhatikan untuk memperbesar kemungkinan domestikasi/penangkaran adalah anggapan bahwa satwa liar tidak dapat didomestikasikan adalah karena kualitas keliaran. Hal ini sama skali tidak benar, sebab mamalia liar dapat dijinakan sama mudahnya seperti yang lain (Ertingham, 1984). Hal lainnya yang perlu juga diperhatikan adalah pendapat bahwa pada domestikasi ada satu atau dua spesies yang tidak dapat mengeksploitasi potensi vegetasi makanannya secara penuh seperti pada saat mereka hidup di alam bebas. Hal ini mungkin ada benarnya dan dapat dibuktikan pada satwa-satwa domestik seperti misalnya jenis hewan pemakan semak (sapi dan kambing), pemakan rumput (domba). Sapi akan memakan hijauan sampai pada tingkat tertentu dan kambing akan merumput maupun memakan semak apabila terpaksa. Hal ini berarti bahwa mereka mampu memanfaatkan suatu selang vegetasi yang luas meskipun ada tumbuh-tumbuhan yang tidak mereka makan.
Dari segi sosial ekonomi, hal-hal penting yang perlu diperhatikan tidak berhubungan langsung  dengan ternak obyeknya. Segi ekonomi lebih mengarah pada ada/tidaknya modal sebagai penyedia input dan kelangsungan proses penangkaran sebagai produksinya dan pertimbangan akan hasil yang dikeluarkan sebagai out putnya. Segi sosial, lebih mengarah pada ketaatan terhadap undang-undang (sosial etis) dan kesiapan untuk menerima  dan melakukan proses domestikasi/penangkaran terhadap satwa liar ini.
Nampaknya  masa depan satwa liar sebagai suatu sumber daya yang dapat di eksploitasi dan dikembangkan sebagai suatu faktor penambah keanekaragaman hewan domestic sangat bagus prospeknya, sebagai contoh,  peternakan Gazzella (sejenis rusa) telah dipraktekan dan hasilnya sangat memuaskan selama bertahun-tahun di Afrika Selatan.  Bahkan peternakan ini mampu menyerap tenaga kerja sekitar 3000 orang dengan produksi lebih dari tiga juta kilogram daging pertahun.  Indonesia dengan potensi sumber daya yang tinggi dimana terdapat beraneka ragam binatang lebih meningkatkan pengembangan dan memasyarakatkan sistem domestikasi/penangkaran ini. Suatu contoh yang berkembang di Indonesia adalah sapi Bali (Bos sondaicus). Jenis ini telah membudidaya di masyarakat dan telah mempunyai status  sosial, bahkan penyebarannya telah sampai ke Australia. Satwa liar yang mempunyai potensi sama besarnya adalah rusa dan anoa yang didukung  dengan populasinya yang masih banyak.
Potensi-potensi tersebut dengan alasan di atas hendaknya digali dan dikembangkan dengan sistem domestikasi sebagai langkah awalnya. Selain itu, pola-pola penangkaran yang telah dikembangkan masyarakat tradisional seperti dilakukan masyarakat di pedalaman Irian Jaya terhadap buaya, yang termasuk kategori farming perlu dikembangkan dan ditingkatkan dengan memberi bimbingan ke arah pola penangkaran profesional, sehingga hasilnya optimal. 

Handout kuliah Budidaya Satwa Harapan dapat di unduh di sini

Sunday, June 12, 2011

Materi Kuliah Satwa Harapan-RIP

Life on Earth faces a crisis of historical and planetary proportions (Pimm and Brooks, 1997). Unsustainable consumption in many northern countries and crushing poverty in the tropics are destroying wild nature. Biodiversity is besieged. Extinction is the gravest aspect of the biodiversity crisis: it is irreversible. While extinction is a natural process, human impacts have elevated the rate of extinction by at least a thousand, possibly several thousand, times the natural rate (Pimm and Brooks, 1997). Mass extinctions of this magnitude have only occurred five times in the history of our planet; the last brought the end of the dinosaur age (Jablonski, 1986).
The problem of stemming the extinction crisis can best be framed by a question: In which areas would a given dollar contribute the most towards slowing the current rate of extinction? To accomplish this we first need to understand species’ distributions. This requires that we measure endemism: the degree to which species are found only in a given place. This can be thought of as a measure of “irreplaceability”. Since endemic species cannot be found anywhere else, the area where an endemic species lives is wholly irreplaceable. Our ultimate goal is to keep nature intact, which means that we must stop anthropogenic species extinctions. To approach this goal, we must slow the rate of species extinction as much as possible with whatever conservation resources we have at our disposal, which requires incorporating threats (or “vulnerability”) and costs into priority setting. Generally, the more threatened an area is, the more it will cost to conserve. However, because economic opportunity costs vary dramatically, there do still exist areas of relatively low cost all over the globe.

Materi kuliah Satwa Harapan pada sub pokok bahasan Anoa dapat di unduh di sini dan juga di sini... :-)
(file cukup besar..)

Monday, March 07, 2011

Bibit Percil dari Bali

Bibit ( percil ) kodok Lembu untuk daerah bali bisa di dapat di Kelompok Peternak Kodok Lembu 888, Br. Padangtawang, Desa Canggu, Kec. Kuta Utara, Kab. Badung, Denpasar Bali atau hubungi I Wayan Suniayasa No. HP.03618787487 atau 08123649080

Sunday, May 23, 2010

The reticulo rumen
The reticulorumen is composed of the rumen and the reticulum. The reticulorumen is partially separated from the rumen by the reticular fold, which allows mixing between the two compartments. The contents of the reticulorumen are mixed by contractions of the reticulorumen wall. The mixing recirculates undigested material preventing the rumen becoming clogged and distributing symbiotic bacteria throughout the ingested material. The reticulorumen becomes colonized by symbiotic bacteria in the first week after birth. The bacteria help to break down the food and release nutrients by a fermentation

The omasum
When food has been broken down enough, it passes from the reticulorumen through the reticulo-omasal orifice. The omasum wall is highly folded, giving a large surface area which allows for the efficient absorption of water and salts released from the partially digested food. The omasum also acts as a type of pump, moving the food from the reticulorumen to the true stomach, the abomasum, where acid digestion takes place.

The abomasum
Unlike a ruminant's three forestomachs, the abomasum is a 'secretory stomach'. This means that cells in the abomasum wall produce enzymes and hydrochloric acid which hydrolyse proteins in the food and also in the microbes mixed in with the food. Hydrolysis breaks the proteins into smaller sub-units (eg dipeptides and amino acids), ready for further digestion and absorption in the small intestine. Because ruminants eat such large amounts of plant material, there is an almost continuous flow of food through the abomasum. In comparison, activity in the stomach of monogastric animals generally has a circadian rhythm associated with food intake (Djikstra, 2005)

Reticulo - Rumen - Omasum - Abomasum

Perut ternak ruminansia dibagi menjadi 4 bagian, yaitu retikulum (perut jala), rumen (perut beludru), omasum (perut bulu), dan abomasum (perut sejati).Dalam studi fisiologi ternak ruminasia, rumen dan retikulum sering dipandang sebagai organ tunggal dengan sebutan retikulorumen. Omasum disebut sebagai perut buku karena tersusun dari lipatan sebanyak sekitar 100 lembar. Fungsi omasum belum terungkap dengan jelas, tetapi pada organ tersebut terjadi penyerapan air, amonia, asam lemak terbang dan elektrolit. Pada organ ini dilaporkan juga menghasilkan amonia dan mungkin asam lemak terbang(Frances dan Siddon, 1993).

Termasuk organ pencernaan bagian belakang lambung adalah sekum, kolon dan rektum. Pada pencernaan bagian belakang tersebut juga terjadi aktivitas fermentasi. Namun belum banyak informasi yang terungkap tentang peranan fermentasi pada organ tersebut, yang terletak setelah organ penyerapan utama. Proses pencernaan pada ternak ruminansia dapat terjadi secara mekanis di mulut, fermentatif oleh mikroba rumen dan secara hidrolis oleh enzim-enzim pencernaan.

Pada sistem pencernaan ternak ruminasia terdapat suatu proses yangdisebut memamah biak (ruminasi). Pakan berserat (hijauan) yang dimakan ditahan untuk sementara di dalam rumen. Pada saat hewan beristirahat, pakan yang telah berada dalam rumen dikembalikan ke mulut (proses regurgitasi),untuk dikunyah kembali (proses remastikasi), kemudian pakan ditelan kembali(proses redeglutasi). Selanjutnya pakan tersebut dicerna lagi oleh enzim-enzim mikroba rumen. Kontraksi retikulorumen yang terkoordinasi dalam rangkaian proses tersebut bermanfaat pula untuk pengadukan digesta inokulasi dan penyerapan nutrien. Selain itu kontraksi retikulorumen juga bermanfaat untuk pergerakan digesta meninggalkan retikulorumen melalui retikulo-omasal orifice(Tilman et al. 1982).

Di dalam rumen terdapat populasi mikroba yang cukup banyak jumlahnya. Mikroba rumen dapat dibagi dalam tiga grup utama yaitu bakteri, protozoa dan fungi (Czerkawski, 1986). Kehadiran fungi di dalam rumen diakui sangatbermanfaat bagi pencernaan pakan serat, karena dia membentuk koloni pada jaringan selulosa pakan. Rizoid fungi tumbuh jauh menembus dinding sel tanaman sehingga pakan lebih terbuka untuk dicerna oleh enzim bakteri rumen.

Bakteri rumen dapat diklasifikasikan berdasarkan substrat utama yang digunakan, karena sulit mengklasifikasikan berdasarkan morfologinya.Kebalikannya protozoa diklasifikasikan berdasarkan morfologinya sebab mudah dilihat berdasarkan penyebaran silianya. Beberapa jenis bakteri yang dilaporkan oleh Hungate (1966) adalah : (a) bakteri pencerna selulosa (Bakteroidessuccinogenes, Ruminococcus flavafaciens, Ruminococcus albus, Butyrifibriofibrisolvens), (b) bakteri pencerna hemiselulosa (Butyrivibrio fibrisolvens,Bakteroides ruminocola, Ruminococcus sp), (c) bakteri pencerna pati(Bakteroides ammylophilus, Streptococcus bovis, Succinnimonas amylolytica, (d) bakteri pencerna gula (Triponema bryantii, Lactobasilus ruminus), (e) bakteri pencerna protein (Clostridium sporogenus, Bacillus licheniformis).

Protozoa rumen diklasifikasikan menurut morfologinya yaitu: Holotrichs yang mempunyai silia hampir diseluruh tubuhnya dan mencerna karbohidrat yang fermentabel, sedangkan Oligotrichs yang mempunyai silia sekitar mulut umumnya merombak karbohidrat yang lebih sulit dicerna (Arora, 1989).


http://netfarm.blogsome.com

Wednesday, May 05, 2010

Typical Rainwater Composition

What is a chemical salt recipe for 'typical' rainwater?

Rainwater gets its compositions largely by dissolving particulate materials in the atmosphere (upper troposhere) when droplets of water nucleate on atmospheric particulates, and secondarily by dissolving gasses from the atmosphere. Rainwater compositions vary geographically. In open ocean and coastal areas they have a salt content essentially like that of sea water (same ionic proportions but much more dilute) plus CO2 as bicarbonate anion (acidic pH). Terrestrial rain compositions vary siginificantly from place to place because the regional geology can greatly affect the types of particulates that get added to the atmosphere. Likewise, sources of gaesous acids (SO3, NO2) and bases (NH3) vary as a function of biome factors and anthopogenic land use practices. Each of these gasses can be added in varying proportions from natural and non natural input sources (non-natural sources of SO3 and NO2 far outweigh natural ones). Particulate load to the atmosphere can also be greatly affected by human activities. Finally, local climate (especially the amount of precipitation in one area compared to another) will affect the solute concentrations in terrestrial rainwaters. The result is highly variable compositions, so there isn't one simple formula.

Dr. Kenneth Rubin, Associate Professor
Department of Geology and Geophysics
University of Hawaii, Honolulu HI 96822


Thursday, April 29, 2010

PP No. 8 Tahun 1999

Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1999
Tentang : Pemanfaatan Jenis Tumbuhan Dan Satwa Liar

Pasal 11

(1)
Hasil penangkaran satwa liar yang dilindungi yang dapat digunakan
untuk keperluan perdagangan adalah satwa liar generasi kedua dan
generasi berikutnya.

(2)
Generasi kedua dan generasi berikutnya dari hasil penangkaran jenis
satwa liar yang dilindungi, dinyatakan sebagai jenis satwa liar yang
tidak dilindungi.

Thursday, April 08, 2010

UUno 5 tahun 1990

UU No. 5 tahun 1990
Tentang : Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya

BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan:
1. Sumber daya alam hayati adalah unsur-unsur hayati di alam yang terdiri dari sumber daya alam nabati (tumbuhan) dan sumber daya alam hewani (satwa) yang bersama dengan unsur nonhayati di sekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem.

2. Konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya.

3. Ekosistem sumber daya alam hayati adalah sistem hubungan timbal
balik antara unsur dalam alam, baik hayati maupun nonhayati yang
saling tergantung dan pengaruh mempengaruhi.

4. Tumbuhan adalah semua jenis sumber daya alam nabati, baik yang
hidup di darat maupun di air.

5. Satwa adalah semua jenis sumber daya alam hewani yang hidup di
darat dan/atau di air, dan/atau di udara.

6. Tumbuhan liar adalah tumbuhan yang hidup di alam bebas dan/atau
dipelihara, yang masih mempunyai kemurnian jenisnya.

7. Satwa liar adalah semua binatang yang hidup di darat, dan/atau di air, dan/atau di udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar, baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia.

8. Habitat adalah lingkungan tempat tumbuhan atau satwa dapat hidup dan berkembang secara alami.

9. Kawasan suaka alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik
di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai
kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta
ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga
kehidupan.

10. Cagar alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan
alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistemnya
atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya
berlangsung secara alami.

11. Suaka margasatwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri
khas berupa keanekaragaman dan/atau keunikan jenis satwa yang
untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap
habitatnya.

12. Cagar biosfer adalah suatu kawasan yang terdiri dari ekosistem asli,
ekosistem unik, dan/atau ekosistem yang telah mengalami degradasi
yang keseluruhan unsur alamnya dilindungi dan dilestarikan bagi
kepentingan penelitian dan pendidikan.

13. Kawasan pelestarian alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu,
baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan
sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis
tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya
alam hayati dan ekosistemnya.

14. Taman national adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai
ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan
untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang
budidaya, pariwisata, dan rekreasi.

15. Taman hutan raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan
koleksi tumbuhan dan/atau satwa yang alami atau buatan, jenis asli
dan atau bukan asli, yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian,
ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya,
pariwisata, dan rekreasi.

16. Taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam yang terutama
dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam.

Pasal 2

Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berasaskan
pelestarian kemampuan dan pemanfaatan sumber daya alam hayati dalam
ekosistemnya secara serasi dan seimbang.

Pasal 3

Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bertujuan
mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta
keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya
peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia.

Pasal 4

Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung
jawab dan kewajiban Pemerintah serta masyarakat.

Pasal 5

Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui
kegiatan :
a. perlindungan sistem penyangga kehidupan;
b. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta
ekosistemnya;
c. pemanfaatan secara lestari sumber daya alami hayati dan
ekosistemnya.

Notes