There are so many things we can do for the people and the environment... Let share our minds together..
Thursday, September 03, 2009
Praktek tidak semudah teori
Pelaksanaan tahap akhir pembuatan pelet pakan anoa ternyata tertunda oleh hal-hal yg bersifat teknis... bahan baku yang disiapkan ternyata tidak cukup kering untuk digrinder.. terpaksa harus dijemur ulang.. pdhl ijin tinggal di wilayah barat cuma sampai senin... yaaah.. belum tau bagaimana solusinya. Upaya untuk speed up terus dimintakan pada YMK... semoga Tuhan meridhoi...amin.
Tuesday, August 11, 2009
Penampilan Umum Anoa (Bubalus sp.)
Menurut Groves (1969), di Sulawesi terdapat dua jenis anoa, yaitu anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) dan anoa gunung (Bubalus quarlesi). Anoa memiliki warna bulu coklat kemerahan hingga hitam. Seekor anoa dapat mencapai umur sekitar 20-25 tahun. Periode bunting adalah 276 - 315 hari dan biasanya melahirkan satu anak. Menurut Grzimek (1975) panjang kepala dan badan anoa berkisar 1600-1720 mm, panjang ekor 180-310 mm, tinggi bahu 690-1060 mm, berat badan berkisar 150-300 kg. Berat badan anoa ini dianggap dan dibuktikan terlalu berlebihan oleh beberapa peneliti (Mustari, 1996; Mustari, 2002; Kasim, 2002) karena berdasarkan penimbangan 12 ekor anoa yang ditangkap oleh peneliti-peneliti tersebut tidak satu pun yang memiliki berat badan lebih dari 110 kg untuk anoa dataran rendah dan 100 kg untuk anoa dataran tinggi. Perbedaan ini dimungkinkan karena pada kurun waktu yang berbeda maka ketersediaan pakan anoa pun berbeda baik dalam kualitas maupun kuantitasnya.
Sampai akhir abad ke-19, anoa dapat dijumpai hampir di seluruh daratan pulau Sulawesi. Berdasarkan data dari IUCN (2001) sejak tahun 1979, secara pasti jumlah anoa kian merosot bahkan di beberapa wilayah yang dekat dengan desa/kampung, keberadaannya telah menghilang sama sekali. Anoa saat ini hanya dapat ditemukan di dalam hutan primer di wilayah Taman-taman Nasional di pulau Sulawesi. Belum ditemukannya pemahaman yang sempurna untuk upaya budidayanya menyebabkan perkembangbiakan anoa menjadi terhambat.
Hasil pengamatan Mustari (1996) melaporkan bahwa anoa aktif di pagi dan sore menjelang malam hari. Periode waktu di antaranya digunakan untuk beristirahat dan beruminasi di dalam hutan. Whitten et al. (1987) melaporkan bahwa anoa tidak pernah berada di wilayah yang sama dengan rusa maupun babi hutan. Hal ini diduga karena kebiasaan anoa sebagai “browser” dan rusa sebagai “grasser”. Meskipun demikian karena habitat yang semakin sempit, Mustari (1996) menemukan bahwa anoa dan rusa hidup berdampingan di SM Tanjung Amolengu pada area seluas 5 km2.
FEEDING BEHAVIOUR AND PREFERABLE FEED OF ANOA (Bubalus sp) IN THE EX SITU CONSERVATION
1) Faculty of Animal Agriculture, Diponegoro University
2) Faculty of Animal Husbandry, Bogor Agriculture Institut
ABSTRACT
Anoa (Bubalus sp.) is fully protected under Indonesian law, although the enforcement is difficult. The major threats to the survival of this species are hunting (mainly for meat), introduced pathogens and/or parasites, and the loss of suitable habitat to agricultural areas, with recent reports indicating that hunting is by far the most serious. In response to the threat, an effort of conservation and protection is needed to be done. This paper gives the result of feeding behaviour and preferable feed of anoa in ex situ area of Taman Margasatwa Ragunan Jakarta. The method were used in this experiment are direct observation, cafeteria feeding system and digestibility analyzes by using lignin as the indicator. Descriptive data are used to evaluate the result. Elephant grasses, sweet potatoes, bananas, corns, beans, tomatoes, cucumbers and carrots were cafeteria given to the anoa (ad libitum). Observation was directly managed to get the picture of feeding behaviour such as eating, drinking, wallowing, urinating, defecating, resting and ruminating. The result shows that feed consumption on dry matter basis is 907 g/head/day. The average of nutrient consumption of ash, crude protein, ether extract, crude fiber, N-free extractives is 89, 107, 15, 178 and 518 g/head/day, respectively. The value of digestibility is 78,0 ± 2,85 %. Anoa prefers to consume elephant grasses, bananas and sweet potatoes. Anoa achieves eating and drinking (49%), wallowing, urinating and defecating (4%), resting and ruminating (29%) and other activities (18%) daily on the captivity cage. Refer to the result, it can be assumed that anoa will choose their feed according to their nutrient requirements. Moreover, their feeding behaviour can be well adapted in the ex situ area compare to their in situ area.
Key words : Anoa (Bubalus sp), preferable feed, feeding behaviour
Anoa

Anoa... satwa cantik ini sangat memprihatinkan populasinya...
Upaya yang dilakukan untuk mempertahankan eksistensinya masih belum terlihat nyata, birokrasi yang "harus" ditempuh sangat mempersulit upaya konservasinya...
Tidak bisa disalahkan secara mutlak bahwa birokrasi ini jadi sangat menghambat jalannya upaya konservasi, karena seringkali kemudahan birokrasi justru dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk menangguk keuntungan pribadi... Alangkah indahnya dunia jika mahkluk hidup penghuninya bisa saling berinteraksi dengan sehat...
Anoa... satwa yang diidentikkan sebagai satwa liar, sebetulnya sangat.. sangat manja... tentu saja "manja" di sini dari sudut pandang si anoa... kesukaannya untuk bercanda dengan cara menggesek-gesekkan kepalanya bisa jadi berbahaya untuk manusia, karena ujung tanduk yang runcing itu cukup berbahaya juga jika beradu dengan daging manusia... Tetapi maksudnya adalah bercanda...
Meskipun demikian ada juga saat anoa sedang "bad mood" ... terutama bagi anoa jantan yang sedang birahi... waow... !! Tidak usah anoa-lah... "pejantan" dari jenis mahkluk hidup lain (termasuk manusia pun..) akan menjadi tidak ramah pada kondisi birahinya tidak bisa disalurkan pada waktunya... So, diperlukan saling pengertian untuk memahami watak satu sama lain...
Wednesday, August 05, 2009
Preferensi Pakan Anoa di Ex Situ Area
Thursday, April 02, 2009
Kebutuhan air minum anoa
Seperti juga pada spesies lain dari genus Bubalus, anoa adalah satwa yang tergantung pada air; mereka memerlukan air setiap hari untuk minum dan berkubang. Keberadaan mata air, kubangan air, air sungai, vegetasi pakan yang tumbuh di dekat aliran sungai dan hutan di wilayah dataran rendah kemungkinan merupakan penyebab sehingga satwa ini memilih lokasi tersebut sebagai habitatnya. Dari 18 plot yang ditempatkan, di lokasi penelitian terdapat 5 plot yang memiliki / dekat dengan sumber air. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh Mustari (1995), Malik et al. (2004), Pujaningsih (2005), Pujaningsih (2005) dan Pujaningsih et al.(2008), anoa kadang-kadang meminum air laut untuk memenuhi kebutuhannya akan mineral yang tidak diperolehnya dari sumber air di habitatnya. Di daerah dataran tinggi, kebutuhan akan mineral diperoleh satwa ini dengan menjilat sumber-sumber garam alami.
Selama penelitian diamati bahwa anoa lebih sering terlihat di dekat mata air gunung di daerah Rano Bake untuk minum dibandingkan di pinggir sungai di daerah Hawumbu. Diduga bahwa rasa air dari mata air pegunungan Rano Bake lebih disukai oleh anoa dibandingkan dengan air sungai. Penelitian yang dilakukan oleh Pujaningsih et al. (2008) menyatakan bahwa kandungan mineral Na, Ca dan P dari mata air pegunungan dibandingkan air sungai masing-masing adalah 0,079 vs. 0,009 mg/l; 1,33 vs. 0,254 mg/l dan 0,021 vs. 0,022 mg/l. Villalba(2006) melaporkan bahwa kandungan Na di dalam air dapat mempengaruhi rasa air tersebut dalam kaitannya dengan kebutuhan akan mineral yang lain terutama Ca dan P.
Anoa di lokasi penelitian memenuhi sebagian kebutuhannya akan air antara lain dengan mengkonsumsi buah pokae yang berasal dari jenis Ficus sp (Gambar 3). Satwa ini akan menanduk batang pohon tersebut untuk menjatuhkan buahnya. Selain buah pokae, menurut hasil penelitian Mustari, AH (2003a) anoa di Suaka Margasatwa Tanjung Peropa Sulawesi Tenggara juga mengkonsumsi buah dongi ( Wormia ochreata ), buah toho ( Artocarpus sp. ), buah konduri ( Parkia timoriana ) dan buah huhubi ( Artocarpus dasyphyllus ). Basri (2008) dalam disertasinya menyatakan bahwa seekor anoa mampu mengkonsumsi 10 kg buah pokae dalam waktu 2 – 3 jam pada kondisi ex situ.. Selanjutnya dijelaskan oleh Basri bahwa buah pokae mengandung protein, serat kasar dan kandungan air berturut-turut 12,66%, 41,47% dan 82,3%. Hasil penelitian Pujaningsih, et al., (2005) sebelumnya menyatakan bahwa anoa di habitat aslinya mengkonsumsi antara lain daun dari tanaman semak, pohon, jenis paku-pakuan, palem, umbi-umbian, buah-buahan dan bahkan lumut .
Friday, March 20, 2009
Blaannkk.........!!!
Duuh... semangat... ayo semangat...!!
Monday, January 19, 2009
Taman Margasatwa Ragunan Jakarta
Kebon binatang ini terletak di Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Dan cukup banyak dilalui oleh kendaraan umum, sehingga mudah dicapai. Di dalamnya terdapat banyak koleksi binatang, udaranya pun cukup sejuk dan teduh karena dikelilingi oleh pepohonan yang rindang. Tempat sampah serta toilet umum sangat mudah dijumpai sehingga tidak alasan bagi pengunjung untuk buang sampah atau "curhat" (= mencurahkan hajat) sembarangan.
Yang perlu diwaspadai adalah harga makanan yang dijajakan di lokasi Taman Margasatwa. Berdasarkan hasil 'survey' anak saya, semakin masuk ke lokasi maka harga soft drink semakin 'tidak berperikemanusiaan'.. Jadi buat yang ingin hemat, sebaiknya bekal minum sendiri. Juga buat yang "lidahnya rusak", karena ga bisa menerima makanan yang bumbunya a la kadarnya (ga etis mau bilang makanan yang dijual rasanya ke kiri dan ke kanan...), lebih asyiik jika bekal makanan sendiri dari rumah, sehingga kalau lapar tinggal cari tempat teduh dan buka bekal piknik dan dinikmati sambil mendengarkan suara si amang atau burung2 di kejauhan...
Sampah bisa langsung dibuang di tempat yang disediakan...naa...badan seger, energi balik, ransel ringan...jalaann lagee......
Lokasi Taman Margasatwa Ragunan ini cukup luas... Perlu waktu 2 -3 hari untuk 'menguasai' satwa-satwa disini... (Tarzan kalee.........). Lokasi yang luas ini memungkinkan pihak pengelola untuk membuat kandangnya mirip dengan habitat asli si satwa. Jadi sudah tidak menggunakan pola kandang individual alias kerangkeng lagi...Salah satu lokasi yang ditawarkan pengelola Taman Margasatwa Ragunan ini adalah Primata Centre yang pembangunannya disponsori oleh pemerintah Jerman. Berbagai jenis primata ada disitu, termasuk juga gorila yang dibuatkan kandang mirip di habitatnya. Pengunjung dapat dengan aman menyaksikan perilaku gorila dan primata yang lainnya tanpa si satwa merasa terganggu.
Silhouette gorila terbesar di primata centre yang diletakkan di tengah2 lokasi supaya pengunjung bisa membandingkan seberapa besar ukuran satwa ciptaan Tuhan yang mulai langka keberadaannya di Afrika sana dengan ukuran tubuhnya sendiri...Friday, January 16, 2009
Social Behaviour of Anoa
Sifat soliter pada anoa tidak berarti ganas, tetapi anoa tersebut adalah anoa yang kalah di dalam perebutan atau persaingan dalam memperebutkan betina (betina estrus). Perkelahian antara jantan dengan jantan atau persaingan dalam memperoleh makanan, dan perkelahian ini bisa terjadi antara jantan dengan jantan, antara betina dengan betina, bahkan antara jantan dengan betina (pasangannya). Tetapi pada kasus perebutan makanan, utamanya antara betina dengan betina tidak terjadi soliter, demikian pula pada anoa yang berpasangan, karena pada saat tertentu di tempat-tempat peristirahatannya, tampaknya saling akur kembali dan bersahabat (Kasim, 2002).
Anoa di alam habitatnya telah diberikan naluri untuk bisa hidup dan mempertahankan dirinya dari berbagai predator atau pemangsa atau menjadi musuhnya, sehingga setiap ada sesuatu yang aneh baginya, anoa akan pasti menantangnya atau melawannya. Sifat ganas pada anoa jantan, terutama ketika di dalam kelompoknya (pasangannya) sedang berahi atau ada betina lain yang berahi, dan lawannya adalah semua anoa jantan yang mulai masuk dewasa kelamin. Sifat ganas ini juga terjadi ketika memperoleh atau memperebutkan makanan, baik di dalam kelompok anoa, maupun terjadi di antara spesies. Seperti di Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua Bogor, anoa yang dilepas bebas, banyak membunuh kijang atau rusa yang juga dilepas bebas (Kasim, 2002).
supported by Wahyu Nurwidiarini
Sunday, January 11, 2009
Khasiat Tanduk Anoa
Tanduk yang telah mengering kemudian banyak dipakai sebagai obat. Salah satunya bernama minyak soko. Nama soko sebenarnya berarti anoa juga, namun dalam bahasa Bugis.
Minyak soko didapat dari rendaman tanduk anoa kering dengan minyak kelapa. Setelah direndam selama berhari-hari, akan didapat cairan berwarna coklat kehitaman. Cairan ini yang kemudian digunakan sebagai obat gosok bila keseleo atau luka.
Selain direndam dengan air kelapa, tanduk anoa juga dijadikan obat dengan mengerik lapisan luar tanduk. Hasil kerikan nantinya dicampurkan dengan air minum. Air minum campuran itu bisa menyembuhkan anak yang terkena sakit perut. Serbuk kerikan tanduk juga bisa mengobati ternak yang sakit dengan cara mencampurkan serbuk kerikan dalam air minum ternak itu juga. Selain berbagai kegunaan tersebut, tanduk anoa juga biasa digunakan para petani untuk menghindari serangan hama.
Namun patut diingat anoa adalah satwa langka yang dilindungi.
http://ludi1972.wordpress.com/category/obat-alternatif/
Iklim di Taman Nasional Lore Lindu
Disitasi dari Ramadhanil (2002) : "Keanekaragaman Hayati Sulawesi: Potensi, Usaha Konservasi dan Permasalahan"
Anoa's Feed Vegetation in Taman Nasional Lore Lindu
(data was supported by Sofian Aryanto, 2008)
| Famili | Nama Ilmiah | Nama Daerah |
| Poaceae/Graminae Poaceae/Graminae Cyperaceae Arecaceae Pandanaceae Polypodiaceae Polypodiaceae Polypodiaceae Cyatheaceae Sellaginellaceae Moraceae Rubiaceae Melastomataceae Meliaceae Apocynaceae | Dinochloa barbata Bambusa sp. Schleria sp. Calamus inops Frecynetia insignis Blume Histiopteris sp. Blechnum sp. Drynaria rigidula (s.w) bedd Cyathea sp. Sellaginella caudata Ficus sp. Lasianthus clementis Merr Medinilla myrtiformis Triana Disoxylum sp. Beaumontia sp. | |
| Arecaceae Hypnaceae Podocarpaceae Polypodiaceae Urticaceae Piperaceae Myrtaceae Clusiaceae Smilaceae Tak teridentifikasi Tak teridentifikasi Tak teridentifikasi | Areca vestiara Giseke Trichosteleum sp. Podocarpus Imbricatus Hymenopteris sp. Elastostema sp. Piper sp. Syzigium accuminatissima Calophylum soulatri Smilax leucophylla Tak teridentifikasi (Unidentified) | Harao Pinang Hutan Lambori Tamomo Lumut Pangkao \ Katatuma Sirih Hutan Palohawana Marantapi Walangkome Kabubakangkaloka Binutu Torongkilo |
Tuesday, December 30, 2008
Anoa's Behaviour.. (??)
anoa sangat liar dan tidak bisa diajak baikan dengan manusia..
(nyatanya di Taman Margasatwa Ragunan Jakarta dan Di Kebun Binatang Leipzig, Jerman, hal ini tidak terjadi. Hubungan kedua mahkluk Tuhan ini baik-baik saja)
info dari peneliti asing menyatakan bahwa berat badan hidup anoa bisa berkisar hingga 150 kg..
(hasil penelitian seorang native nara sumber menyatakan bahwa anoa yang ditemui selama 2 tahun penelitian di Taman Nasional Rawa Aropa Watumohai, Sultra tidak pernah lebih dari 100 kg.. apakah karena kualitas pakan in situ yang semakin menurun dari tahun ke tahun ? Ataukah kualitas genetik dari hewan ini yang berkurang ?)
upaya mengembangbiakkan satwa liar anoa itu dengan cara ditangkarkan sudah pernah dilakukan, namun hasilnya sia-sia saja. Persoalannya, satwa anoa termasuk hewan yang sangat susah untuk hidup dalam satu ekosistem, apalagi berdampingan dengan lingkungan manusia..
(konon katanya di kebun binatang Surabaya sudah berhasil mengawinkan anoa hingga beranak, juga di kebun binatang Ragunan Jakarta.. Kasus di TMR Jakarta karena kemudian pejantannya mati maka si induk jadi tidak punya pasangan yang "seimbang".. dijodohkan dengan anoa jantan yang lebih muda malah si jantan kecil ditanduk...ga mau brownies rupanya si emak anoa ni...)
Pada tahun 2000 lalu, dengan dibantu pihak BKSDA, ada dua kelompok masyarakat di Kabupaten Buton dan Konawe Selatan Sulawesi Tenggara yang pernah mencoba melakukan penangkaran tetapi hasilnya sia-sia karena hewan langka itu tidak mau kawin bila ada hewan lain yang mengusiknya.
Berbeda dengan satwa rusa dan burung langka lainnya, sangat mudah ditangkar asalkan ada keinginan masyarakat untuk melakukan kegiatan pelestarian hewan tersebut. "Tapi anoa ini lain. Hewan ini tidak akan bisa berkembang biak bila ada manusia yang memeliharanya atau hidup satu kandang dengan jenis hewan lain," kata Halasan dari BKSDA Sultra.
(hhmm....masa sih ?? sedangkan batu pun bisa terkikis oleh tetesan air hujan... karang pun lama-lama hancur dihempas ombak... masa manusia bisa "dikalahkan" oleh hewan ??)
Tuesday, November 11, 2008
Metode Identifikasi Pakan Anoa
Identifikasi pakan secara tidak langsung
Analisis kotoran digunakan untuk menduga pakan satwa berdasarkan identifikasi mikroskopis pecahan epidermis dalam kotoran. Jenis tanaman diketahui dengan perbandingan identifikasi pecahan epidermis dalam kotoran dengan epidermis tanaman pembanding. Komposisi pakan satwa diketahui dengan analisis kuantitatif dari jumlah dan ukuran fragmen epidermis. Analisis kuantitatif dilakukan dengan modifikasi teknik penghitungan analisis vegetasi dan hasilnya adalah indeks nilai penting tiap jenis pakan (Bhadresa, 1986 yang disitasi oleh De Boer et al., 2000).
Kotoran (faecal/dung) adalah hasil akhir dari proses pencernaan yang dibuang dengan proses defekasi. Beberapa satwa seperti misalnya badak jawa, kotoran digunakan sebagai tanda wilayah jelajah aktivitasnya. Rusa Timor memanfaatkan kotoran sebagai tanda wilayah untuk kelompoknya (Shigeki, 1992). Beberapa studi kehidupan satwa liar sering memanfaatkan kotoran sebagai petunjuk keberadaaan satwa yang diteliti. Kotoran yang dikeluarkan oleh satwa memiliki bentuk yang bermacam-macam. Tiap kelompok satwa memiliki ciri dan bentuk tersendiri dari kotorannya. Bentuk dan ukuran dapat menentukan kelompok satwa atau jenis satwa (Shigeki, 1992): (1) Karnivora : ujung kerucut, pangkal bulat; (2) Herbivora famili cervidae : bulat menyerupai butiran; dan (3) Herbivora famili bovidae : bulat menyerupai kue.
Storr (1960) mengatakan bahwa analisis kotoran cocok digunakan untuk mengetahui pakan satwa herbivora. Ia melakukan studi mengenai analisis kotoran dengan menggunakan satwa herbivora khas Australia yaitu quokka (Setonix branchyrus) di Pulau Rottnes. Analisis kotoran untuk satwa herbivora biasanya menggunakan teknik mikroskopik sedangkan untuk satwa karnivora biasanya menggunakan pengamatan makroskopik.
Thursday, October 02, 2008
Strawberry si Buah Hati
Strawberry si Buah Hati
Strawberry merupakan tanaman buah berupa herba yang rata-rata memiliki 200 biji kecil per satu buahnya. Ada 700-an macam jenis strawberry.
Salah satu jenis spesiesnya bernama Fragaria chiloensis L. Jenis ini yang menyebar ke berbagai negara Amerika, Eropa dan Asia . Spesies yang lainnya yaitu F. vesca L. Yang satu ini lebih menyebar luas dibandingkan spesies lainnya. Jenis strawberry ini pula yang pertama kali masuk ke Indonesia .
Warna merah pada strawberry matang sangat beralasan. Warna merah itu disebabkan karena buah ini kaya pigmen warna antosianin dan mengandung antioksidan tinggi. Mendengar kata antioksidan, anda tentu sudah tahu bahwa itu artinya, khasiatnya sangat banyak. Dan anda benar! Buah strawberry menyimpan nutrisi yang luar biasa. Selain antioksidan tersebut, ia juga kaya serat, rendah kalori, dan mengandung vitamin C, folat, potassium, serta asam ellagic.
Mau tahu khasiat strawberry?
1. Strawberry mampu menyusutkan kadar kolestrol.
2. Strawberry dapat membantu melumpuhkan kerja aktif kanker karena asam ellagic yang dikandungnya tersebut.
3. Strawberry dapat meredam gejala stroke.
4. Strawberry mengandung zat anti alergi dan anti radang.
5. Konsentrasi tujuh zat antioksidan yang ada pada strawberry lebih tinggi dibandingkan buah atau sayuran lain, sehingga strawberry merupakan buah yang efektif mencegah proses oksidasi pada tubuh (Oksidasi ialah hancurnya jaringan tubuh karena radikal bebas. Oksidasi juga bertanggung jawab pada proses penuaan).
6. Strawberry yang kaya vitamin C sangat bermanfaat bagi pertumbuhan anak.
7. Strawberry yang hanya sedikit mengandung gula juga cocok untuk diet bagi pengidap diabetes.
8. Strawberry yang dimakan teratur dapat menghaluskan kulit dan membuat warna kulit terlihat lebih cerah dan bersinar. Khasiat yang terkenal lainnya adalah anti keriput!
9. Strawberry dapat memutihkan atau membersihkan permukaan gigi.
10. Strawberry ampuh melawan encok dan radang sendi.
11. Daun strawberry juga berkhasiat karena memiliki zat astringent. Tiga hingga empat cangkir air hasil rebusan daun strawberry per hari, dapat efektif menghentikan serangan diare.
Kebutuhan vitamin C orang dewasa perharinya dapat dicukupi oleh 8 buah strawberry (98 mg). Kebutuhan serat juga sekaligus bisa terpenuhi.
Hati-hati dalam menyimpan buah ini, karena strawberry yang sudah mulai busuk dapat menular dengan sangat cepat ke strawberry lain yang disimpan bersamaan. Strawberry dapat tahan 4 hari di lemari es. Tetapi di freezer, buah ini bisa bertahan selama 1 bulan dengan cara penyimpanan yang benar. Atur strawberry secara satu-satu terpisah, lalu bekukan. Setelah beku, siram dengan air dan masukkan ke dalam plastik, lalu bekukan kembali. Cara menyimpan seperti ini cocok untuk membuat juice.
Dengan banyaknya kegunaan strawberry, yakinlah bahwa memang buah ini cocok disebut buah cinta. Buah yang dapat menjadi kado penuh cinta dari anda untuk kesehatan tubuh anda sendiri.
Suka dengan artikel ini?
Jangan lupa forward ke teman yang lain.
Thursday, September 11, 2008
(review: Potensi Anoa sebagai Satwa Budidaya)
PENDAHULUAN
Indonesia adalah negara yang memiliki keanekaragaman hayati tertinggi kedua di dunia setelah Brasil. Walaupun luas total daratan hanya 1,3 % dari seluruh permukaan bumi, Indonesia memiliki 10 % tumbuhan berbunga (27.000 jenis), 12 % mamalia (515 jenis), 16 % satwa amphibia (270 jenis), dan 17 % aves (1. 539 jenis). Indonesia tidak hanya kaya dengan jenis flora dan fauna, tetapi juga memiliki banyak jenis endemik. Misalnya endemisitas fauna di pulau Sulawesi yang disebabkan oleh posisi geografisnya yang terletak di kawasan Wallacea. Di pulau Sulawesi, dari 263 jenis burung yang ditemukan, 32 persen (86 jenis) adalah jenis endemik. Enam puluh persen (68 jenis) dari 114 jenis mammalia yang ditemukan di Sulawesi merupakan jenis-jenis endemik, serta sebanyak 26 persen (30 jenis) dari 117 jenis reptilia yang ditemukan di pulau Sulawesi adalah jenis-jenis endemik. Sementara itu tingkat endemisme flora di pulau Sulawesi dilaporkan tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 7 persen. Tingkat endemisitas jenis yang tinggi juga ditemukan Irian dan di kepulauan Mentawai. Pelestarian keanekaragaman hayati menjadi sangat penting demi pemanfaatannya secara benar dan berkelanjutan.
Konservasi Sumber Daya Alam
Secara harafiah kata konservasi berarti menjaga bersama-sama (berasal dari dua kata dalam Bahasa Latin: con = bersama-sama, servar = menjaga), namun konservasi bukanlah berarti tidak boleh memanfaatkan (Soehartono dan Mardiastuti, 2003). Merujuk pada Ensiklopedia Indonesia (Redaksi Ensiklopedia Indonesia, 1983) konservasi masih diartikan sempit, yaitu perlindungan benda dan hasil produksi dari kerusakan. Akibatnya banyak kalangan yang memandang pembangunan dan konservasi sebagai dua kutub yang bertentangan. Pembangunan menghendaki adanya perubahan sedangkan konservasi tidak menghendaki adanya perubahan, karena perubahan dapat menimbulkan kerusakan. World Conservation Strategy mendefinisikan konservasi sebagai manajemen biosphere secara berkelanjutan untuk memperoleh manfaat bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang (Alikodra, 1996). Konsep konservasi moderen tidak mengartikan konservasi sebagai tidak boleh memanfaatkan, melainkan memanfaatkan secara berkelanjutan. Melalui pemanfaatan berkelanjutan diharapkan kelestarian akan tetap terjaga.
Pentingnya kegiatan konservasi
Konservasi keanekaragaman hayati meliputi konservasi jenis dan genetik, konservasi ekosistem esensial, pengembangan lembaga konservasi, penangkaran tumbuhan dan satwa liar, tertib peredaran tumbuhan dan satwa liar (Direktorat Jendral PHKA, 2002). Sampai sekarang pelestarian tersebut masih belum terlaksana dengan baik, mengingat ancaman yang dihadapi sangat rumit dan sangat sulit untuk diatasi. Beberapa di antaranya adalah pengaruh perubahan iklim, eksploitasi yang berlebihan berupa kegiatan yang mengakibatkan kerusakan fisik penopang kehidupan, pencemaran, kehadiran spesies asing yang invasif, dan kegiatan pembudidayaan yang tidak disertai upaya yang menjamin kelestarian berbagai varietas dari spesies yang dibudidayakan.
Secara umum, terdapat beberapa hal yang menyebabkan rawan punah atau punahnya jenis hayati yaitu: (1) Kurangnya eksplorasi jenis baru, sehingga kepunahan jenis tersebut tidak diketahui; (2) Penyediaaan habitat untuk jenis yang dilindungi masih sangat kurang (Alikodra, 1996; Direktorat Jendral PHKA, 2002; Malik et al., 2004); (3) Habitat yang disediakan tidak sesuai bagi suatu jenis yang dilindungi; (4) Pembangunan yang tidak memperhatikan kelestarian alam (Malik et al. 2004); (5) Pemanfaatan yang memutus daur reproduksi (Kasim, 2002); (6) Adanya pemindahan suatu jenis baru ke dalam suatu ekosistem; (7) Kurang sadarnya akan pentingnya konservasi hewan langka bagi anggota masyarakat sekitar, termasuk pengelola kawasan (Pujaningsih et al., 2007; Soehartono dan Mardiastuti, 2003); (8) Upaya perlindungan belum nyata di lapangan. Masih banyak dijumpai penjualan jenis hayati yang dilindungi di tempat umum; (9) Pengambilan dari alam secara besar-besaran dan terus-menerus (Kasim, 2002; Gunawan dan Mukhtar, 2005).
Terdapat dua jenis model konservasi (FAO, 2002), yaitu konservasi in situ dan konservasi ex situ. Diyakini bahwa ke dua model konservasi diperlukan untuk upaya perlindungan sumber daya alam hayati. Menurut Franco et al. (2004) mempelajari habitat asli akan mendukung upaya pengelolaan di area pemeliharaan yang berbeda. Salah satu contoh konservasi in situ adalah program perbaikan ekosistem suatu kawasan yang dilindungi. Program ini lebih berdaya guna diiringi dengan konservasi ex situ yang berupaya melakukan penyediaan bibit tanaman maupun mengembangbiakan satwa langka di tempat-tempat penangkaran.
Penampilan Umum Anoa
Salah satu binatang endemik yg memerlukan perhatian khusus pada upaya konservasi karena statusnya menurut CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) sudah hampir punah adalah anoa (Bubalus sp.). Anoa termasuk satwa liar endemik dari pulau Sulawesi yang sudah dilindungi undang-undang perlindungan satwa liar sejak tahun 1931. Populasi dan habitat satwa ini semakin menurun baik kuantitas maupun kualitasnya disebabkan oleh kegiatan pembukaan hutan untuk pemukiman, perkebunan, pertambangan dan eksploitasi hutan. Akibatnya habitat anoa menjadi terkotak-kotak, populasi tersebar dalam jumlah kecil, yang pada akhirnya akan menyebabkan isolasi genetik dan terjadi degradasi mutu genetik satwa tersebut. Semakin sempitnya habitat anoa akibat kegiatan eksploitasi hutan, konversi hutan menjadi lahan pertanian, penempatan transmigrasi, perkebunan, industri turut mempercepat kepunahan satwa ini.
Menurut Groves (1969), di Sulawesi terdapat dua jenis anoa, yaitu anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) dan anoa gunung (Bubalus quarlesi). Anoa memiliki warna bulu coklat kemerahan hingga hitam. Menurut Grzimek (1975) panjang kepala dan badan anoa berkisar 1600-1720 mm, panjang ekor 180-310 mm, tinggi bahu 690-1060 mm, berat badan berkisar 150-300 kg. Berat badan anoa ini dianggap dan dibuktikan terlalu berlebihan oleh beberapa peneliti (Mustari, 1995; Mustari, 2002; Kasim, 2002) karena berdasarkan penimbangan 12 ekor anoa yang ditangkap oleh peneliti-peneliti tersebut tidak satu pun yang memiliki berat badan lebih dari 110 kg untuk anoa dataran rendah dan 100 kg untuk anoa dataran tinggi. Perbedaan ini dimungkinkan karena pada kurun waktu yang berbeda maka ketersediaan pakan anoa pun berbeda baik dalam kualitas maupun kuantitasnya.
Penyebaran dan populasi
Sampai akhir abad ke-19, anoa dapat dijumpai hampir di seluruh daratan pulau Sulawesi. Heller (1889) menyatakan bahwa anoa terdapat di Gorontalo, sekitar Minahasa, Likupang, Lempias dan hutan antara Langowan dan Pangku. Mohr (1921) menggambarkan penyebaran anoa di Sulawesi Utara meliputi daerah Minahasa, Klabat, Teluk Tomini, Matinang dan Randangan. Anoa di Sulawesi Tengah, dijumpai di sekitar danau Lindu, daerah Besoa, Bada, Topebatu Toli-Toli Banggai dan Tobungku. Wilayah Sulawesi Selatan mencatat adanya anoa di sekitar danau Matana, danau Towuti dan Lalangatu. Harper (1945) menulis mengenai keberadaan anoa di Mamuju, Mamasa, Makale-Rantepao, Palopo, Buton, Kendari, Kolaka, Malili dan Masamba.
Perambahan hutan dan perburuan liar terhadap satwa ini menyebabkan tidak semua daerah yang tersebut di atas pada saat ini dihuni oleh anoa (Mustari, 1997). Berdasarkan data dari IUCN (2001) sejak tahun 1979, secara pasti jumlah anoa kian merosot bahkan di beberapa wilayah yang dekat dengan desa/kampung, keberadaannya telah menghilang sama sekali. Daftar Merah (Red List Book) IUCN memasukkan anoa dalam status “endangered”. Anoa pada dewasa ini hanya dapat ditemukan di dalam hutan primer. Wilayah Sulawesi Utara mencatat adanya anoa di Taman Nasional (TN) Dumoga Nani Warta Bone, Cagar Alam (CA) Panua dan beberapa kawasan hutan konsesi HPH (Hak Penebangan Hutan). Anoa di Sulawesi Tengah masih dapat dijumpai di Besoa (Sugiharta, 1994) dan TN Lore Lindu. Keberadaan anoa di Sulawesi Tenggara ditemukan di hutan Suaka Margasatwa (SM) Kolaka Utara, TN Rawa Aopa, SM Tanjung Peropa, SM Tanjung Batikolo, SM Tanjung Amolengu dan SM Buton Utara. Belum ditemukannya pemahaman yang sempurna untuk upaya budidayanya menyebabkan perkembangbiakan anoa menjadi terhambat.
Tingkah laku
Penelitian yang dilakukan oleh Mustari (1995) melaporkan bahwa jarang ditemukan kelompok anoa lebih dari tiga ekor. Menurut Jarman (1974) yang disitasi oleh Hügi et al. (1999) jenis satwa yang mencari pakan dengan meramban, cenderung hidup sendiri atau berpasangan untuk menghindarkan kompetisi dalam mendapatkan pakannya. Dilaporkan juga bahwa anoa mempunyai kesenangan berendam di dalam air dan berkubang di dalam lumpur (Groves, 1969; Fadjar, 1973; Whitten et al., 1987; Mustari, 1995). Periode bunting adalah 276 - 315 hari dan biasanya melahirkan satu anak. Seekor anoa dapat mencapai umur sekitar 20-25 tahun. Hasil pengamatan Mustari (1995) melaporkan bahwa anoa aktif di pagi dan sore menjelang malam hari. Periode waktu di antaranya digunakan untuk beristirahat dan beruminasi di dalam hutan.
Mustari (1995) menyatakan bahwa anoa sebenarnya adalah satwa yang pemalu dan tidak suka ribut. Satwa ini menjadi ganas jika dalam keadaan terluka atau habis melahirkan. Whitten et al. (1987) melaporkan bahwa anoa tidak pernah berada di wilayah yang sama dengan rusa maupun babi hutan. Hal ini diduga karena kebiasaan anoa sebagai “browser” dan rusa sebagai “grasser”. Meskipun demikian karena habitat yang semakin sempit, Mustari (1995) menemukan bahwa anoa dan rusa hidup berdampingan di SM Tanjung Amolengu pada area seluas 5 km2.
Menurut informasi Whitten et al. (1987), anoa adalah binatang monogamus dan tidak menandai wilayah kekuasaannya. Keberadaan anoa di dalam suatu wilayah ditandai dengan adanya bekas defekasi, goresan tanduk pada pepohonan maupun bekas
galian tanah di sekitar tempat satwa ini melakukan defekasi.
Pakan
Sebagaimana ruminansia pada umumnya, pakan anoa terdiri atas hijauan sebagai pakan dasar yang kaya serat kasar untuk sumber energi dan memenuhi isi lambung, dan pakan konsentrat yang kaya protein, energi, mineral organik dan vitamin yang diperlukan ternak. Ransum pakan tradisional lebih menitik beratkan perpaduan rumput dan dedaunan dengan indikator utama kenaikan bobot badan (Pujaningsih, 2005). Sejauh ini belum tersedia data mengenai kebutuhan nutrisi untuk anoa sebagaimana hewan ternak lainnya. Anoa di alam bebas memakan antara lain pakis, rumput, tunas pohon, buah-buahan yang jatuh, dan jenis umbi-umbian. Berdasarkan pengamatan Mustari (1995 dan 2003a); Labiro (2001) dan Pujaningsih, et al., (2005) dilaporkan bahwa anoa kadang-kadang juga meminum air laut yang diduga untuk memenuhi kebutuhan mineral mereka.
Anoa diadaptasikan di tempat-tempat penangkaran maupun kebun binatang, dengan diberi pakan segar yang tersedia di lokasi (Malik et al., 2004; Pujaningsih, 2005; Pujaningsih et al., 2005). Manansang et al. (1996) merekomendasikan pakan dari jenis dedaunan (daun nangka, daun pisang, daun singkong atau yang lainnya), rerumputan, buah-buahan (pisang, nangka, pepaya, jambu atau yang lainnya), sayuran (kangkung, wortel, lobak, ubi, singkong), konsentrat yang mengacu pada konsentrat sapi potong serta garam mineral.
Prospek dan potensi sebagai satwa budidaya
Diperkirakan bahwa anoa sudah menghuni pulau Sulawesi sejak 60 juta tahun yang lalu. Melalui adaptasi yang sangat lama, anoa memiliki beberapa keunggulan dalam hal kemampuan memanfaatkan sumber daya setempat, adaptasi iklim, ketahanan penyakit dan berbagai keunggulan yang tidak dimiliki satwa lain. Satwa ini berpotensi menjadi stok plasma nutfah yang sangat potensiil pada masa datang. Plasma nutfah adalah substansi yang terdapat dalam setiap kelompok makhluk hidup dan merupakan sumber sifat keturunan yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan untuk menciptakan jenis unggulan atau kultivar baru. Upaya konservasi yang lebih mendasar terhadap satwa ini, diantaranya mengamankan habitat dan populasinya, perlu dilakukan untuk mengamankan bank gen tersebut.
Anoa diburu untuk dimanfaatkan kulit, tanduk dan dagingnya. Kulit dimanfaatkan sebagai alas duduk atau hiasan dinding, sedangkan tanduk dan tengkorak kepala anoa dipercaya memiliki kemampuan sebagai obat tradisional. Tanduk anoa jika dikikir dan serbuk halusnya direndam dengan minyak kelapa maka dapat digunakan sebagai obat gosok. Jika dicampurkan ke dalam air minum ternak maka dapat menyembuhkan ternak kerbau atau sapi yang menderita kembung. Ramuan obat-obatan tradisional jika direbus dengan menggunakan tengkorak kepala anoa maka dipercaya akan memiliki khasiat yang berlipat (personal informasi). Beberapa personal informasi juga menyebutkan bahwa tengkorak kepala anoa dianggap mampu mengusir roh jahat. Berdasarkan hasil penelitian Kasim (2002) diperoleh informasi bahwa anoa memiliki indeks penyebaran kelompok urat daging baku lebih baik daripada sapi, kerbau dan banteng. Lebih lanjut dijelaskan bahwa anoa mampu beradaptasi dengan cepat secara baik terhadap jenis bahan pakan yang ada di kondisi ex situ, sehingga memungkinkan untuk dijadikan satwa budidaya. Meskipun demikian Kasim (2002) menegaskan bahwa pada kondisi penangkaran atau budidaya anoa masih banyak mendapat cekaman (stress) baik akibat suhu lingkungan ataupun karena makanannya, sehingga perlu diketahui dan dipelajari dari segi aspek domestikasi tersebut. Hasil penelitian Pujaningsih et al. (2007) tentang perbandingan tingkah laku anoa di habitat aslinya dengan tingkah laku anoa di luar habitatnya melaporkan bahwa anoa mampu berinteraksi baik dengan “keeper” (perawat) di lokasi penangkaran. Satwa tersebut dapat menerima dengan baik kehadiran para perawatnya pada saat pemberian pakan dan pembersihan kubangan maupun tempat pakannya.
Manansang et al. (1996) memperkirakan tempat penangkaran ex situ di Indonesia akan mampu menampung 170 ekor anoa. Lokasi penangkaran ex situ di Eropa, Amerika Utara dan Asia menyediakan dana untuk penangkaran sekitar 125 ekor anoa pada 27 institusi. Total bila dijumlahkan maka sekitar 295 ekor anoa dapat dijamin kelangsungan hidupnya sebagai cikal bakal penghasil F1. Selanjutnya melalui tata laksana pemeliharaan yang tepat, upaya konservasi dan pemanfaatan satwa ini dapat menunjukkan hasil yang positif dan signifikan terhadap perkembangan populasinya. Seiring dengan upaya pelestarian dan konservasi satwa tersebut dilakukan juga upaya pemanfaatan anoa bagi kesejahteraan masyarakat khususnya di wilayah penyebaran anoa.
Beberapa informasi tentang potensi satwa ini sebagai sumber protein tinggi dengan lemak rendah telah dilakukan, sehingga pemanfaatan anoa sebagai salah satu penghasil daging adalah sangat prospektif. Diharapkan upaya pemanfataan satwa ini dengan benar dapat mengimbangi kebutuhan perkembangan populasi penduduk sehingga keberadaan satwa ini tetap lestari.
KESIMPULAN
Konsep konservasi moderen tidak mengartikan konservasi sebagai tidak boleh memanfaatkan, melainkan memanfaatkan secara berkelanjutan. Melalui pemanfaatan berkelanjutan diharapkan kelestarian akan tetap terjaga.
Anoa memiliki prospek sebagai satwa budidaya dengan beberapa potensi antara lain: mampu memanfaatkan sumber daya setempat, mampu beradaptasi dengan iklim, ketahanan terhadap penyakit relatif tinggi, tanduknya dipercaya sebagai obat tradisional, kulitnya mempunyai nilai ekonomis dan dagingnya sebagai sumber protein rendah lemak
UCAPAN TERIMA KASIH
Tulisan ini tidak akan selesai tanpa bantuan dan kerjasama yang baik dari Amran, pak Husein, “Jack”, Eko, pak Suryadi, pak Sopi. Terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA
Alikodra, H.S. 1996. The implementation of forest resource conservation in sustainable forest management in
Bhatti, S.A., J. G. P. Bowman, J. L. Firkins, A. V. Grove and C. W. Hunt. 2008. Effect of intake level and alfalfa substitution for grass hay on ruminal kinetics of fiber digestion and particle passage in beef cattle. J. Anim Sci. 86:134-145.
Cavender, R.B. and R.M. Hansen. 1970. The microscope method used for herbivore diet estimates and botanical analysis of litter and mulch at Pawnee site. Grassl.
De Boer, W.F, C.P. Ntumi, U.C. Augusto and M.M. Jorge. 2000. Diet and distribution of elephant in the Maputo Elephant Reserve,
Direktur Jendral PHKA (Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam). 2002. Program Pembangunan Nasional Bidang Perlindungan dan Konservasi Alam. Direktorat Jenderal Perlindungan dan Konservasi Alam. Jakarta
Fadjar, S.F. 1973. Anoa di Kebon Binatang Ragunan Jakarta. Skripsi pada Universitas Nasional Jakarta, Jakarta.
FAO. 2002. State of
Foppe, F.M. 1984. Microhistological technique training program. Miscellaneous Publications, Composition Analysis Laboratory. Range Science Departement,
Franco, A.M.A., I. Catry, W.J. Sutherland and J.M. Palmeirim. 2004. Do different habitat preference survey methods produce the same conservation recommendations for lesser kestrels? J. Animal Conservation. 7: 291-300.
Golden, J.W., M. S. Kerley and W.H. Kolath. 2008. The relationship of feeding behavior to residual feed intake in crossbred Angus steers fed traditional and no-roughage diets. J. Anim Sci. 86:180-186.
Groves, C.P. 1969. Systematics of the Anoa (Mammalia, Bovidae). Beaufortia Zoological Museum of University of Amsterdam. 17 (223): 1-12.
Grovum, W.L. 1988. Appetite, palatability and control of feed intake. In: The Ruminant Animal, Digestive Physiology and Nutrition. Edited by
Grzimek, B. 1975. Grzimek’s Animal Life Encyclopedia. Mammals, I-IV. vol 10-13. Van Nostrand Reinhold, New York.
Gunawan, H dan A.S. Mukhtar. 2005. Pengaruh perambahan terhadap vegetasi dan satwa liar di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, Provinsi Sulawesi Tenggara. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam. 2 (5): 449-459.
Hansen, R.M., T.M. Foppe, M.B. Gilbert, R.C. Clark and H.W. Reynolds. 1984. The microhistological analyses of faeces as an estimator of herbivore dietary. Miscellaneous Publications, Composition Analysis Laboratory, Range Science Department, Colorado State University, Colorado.
Harding,H.A.1978. Manajemen Produksi (Seri Manajenen No.35). Penerbit Balai Aksara.
Hofmann, R.R. 1988. Anatomy of the gastro-intestinal tract. In: The Ruminant Animal, Digestive Physiology and Nutrition. Edited by
Hügi, C.K., G. Klaus, B. Schmid and B. König. 1999. Feeding ecology of a large social antelope in the rainforest. J. Oecologia. 119:81-90
IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources). 2001. IUCN Red List Categories and Criteria: Version 3.1. IUCN Spesies Survival Commision. IUCN, Gland, Switzerland and Cambridge, UK.
Labiro, E. 2001. Analisis Komposisi Pakan Satwaliar Anoa (Bubalus sp) di Kawasan Hutan Taman Nasional Lore Lindu Propinsi Sulawesi Tengah. Thesis pada Program Pascasarjana, Universitas Mulawarman, Samarinda.
Kasim, K. 2002. Potensi Anoa (Bubalus depressicornis dan Bubalus quarlesi) sebagai Alternatif Satwa Budidaya dalam Mengatasi Kepunahannya. Disertasi pada Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor,
Malik, A., R.I. Pujaningsih and E. Labiro. 2004. Participatory of Wildlife Conservation in Central Sulawesi Indonesia. (A review on a case study of Anoa Bubalus sp. as one of endemic endangered animal from Sulawesi, Indonesia). In: Proceeding of The 5th International Symposium-cum-Workshop by SEAG, Royal Agricultural University and the University Consortium Georg-August-University Göttingen, University of Kassel and Philipps University Marburg. Phnom Penh, August 23 - 27, 2004.
Manansang, J., S. Hedges,
Mustari, A.H. 1996. Ecology and Conservation of Lowland Anoa (Bubalus depressicornis Smith) in Tanjung Amolengu Wildlife Reserve Southeast Sulawesi. Dalam: Population and Habitat Viability Assessment Workshop Report.
Mustari, A.H. 1997. Kebutuhan Nutrisi Anoa (Bubalus sp.) di Kebun Binatang Ragunan
Mustari, A.H. 2002. Ekologi makan anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) di Suaka Margasatwa Tanjung Peropa, Sulawesi Tenggara. Dalam: Nawangsari S, Suwelo I.S, Wiryawan K.G, Prawiradilaga D.M, Syam A, Farida W.R. Eds. Prosiding Seminar Nasional Biologi dan Konservasi Ungulata; Bogor 5 Februari 2002.
Mustari, A.H. 2003a. Kebutuhan Pakan Anoa Dataran Rendah (Bubalus depressicornis, Smith) di Suaka Margasatwa Tanjung Peropa, Sulawesi Tenggara. Media Konservasi, Jurnal Ilmiah Bidang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Lingkungan. Volume VIII/Nomor 3, Desember 2003.
Mustari, A. H. 2003b. Ecology and Conservation of Lowland Anoa (Bubalus depressicornis) in
Prawirokusumo, S. 1993. Ilmu Gizi Komparatif. Ed. I. Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada. BPFE. Yogyakarta.
Pujaningsih, R.I. 2005. Identifikasi Vegetasi Pakan Alami Anoa (Bubalus sp). In: Proceeding of The 6th International Symposium-cum-Workshop by SEAG, Gadjah Mada University and the University Consortium Georg-August-University Göttingen, University of Kassel and Philipps University Marburg. Yogyakarta, August 22 - 26, 2005.
Pujaningsih, R.I., A. Malik and S. Pudyatmoko. 2007. Comparation study progress on Anoa’s behaviour prior to conservation program. Presented on 7th Mini Workshop by International Alumni Network
Soehartono, T. dan A. Mardiastuti. 2003. Pelaksanaan konvensi CITES di Indonesia. Japan International Cooperation Agency (JICA), Jakarta.
Viljoen, P.J. 1989. Habitat selection and preferred food plants of a desert-dweilling elephant in the northern
Whitten, AM., G.S. Mustafa and Henderson. 1987. The Ecology of
Winenang, S. 1996. Penyebaran Anoa dan Babirusa di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Dalam: Population and Habitat Viability Assessment Workshop Report. Taman Safari Indonesia, Cisarua. 22-26 Juli 1996.
Monday, August 18, 2008
Bad Mood.........
Thursday, July 17, 2008
A good collaboration
Misalnya saat pakan dituangkan satu demi satu ke dalam kotak-kotak prasmanan si anoa,
Wahyu dengan keeper musti bergantian memancing anoa supaya menjauh dulu, sehingga pakan dapat disajikan secara bersamaan supaya nantinya bisa diketahui, mana pakan yang menarik minat anoa untuk duluan dilahap....
Tetapi untuk koleksi faeces anoa, mau tidak mau pak Suryadi musti main petak umpet dengan si manja yang maunya dibelai terus ini...
Padahal di ujung yang lain Wahyu sudah terus-menerus berusaha cari perhatian supaya si anoa berpaling kepadanya....keciaann deh...dicuekkin....