Friday, May 02, 2008

Local name and botanical name


Betul-betul fundamental research ibarat kertas kosong yang memiliki spot-spot informasi yang belum ada benang merahnya... Masih harus dikonfirmasi ulang dan lagi ... ulang dan lagi....
Misalnya untuk upaya identifikasi vegetasi pakan yang jadi preferensi anoa ini... Hanya berbeda lokasi tetapi dalam wilayah desa yang sama, nama lokal untuk satu jenis vegetasi bisa berbeda, demikian juga sebaliknya...


Satu jenis vegetasi yang sudah jelas botanical namenya, ternyata memiliki nama lokal yang berbeda-beda. Misalnya.. di wilayah Taman Nasional Lore Lindu Sulawesi Tengah, Garcinia sp. ada disebut orang dengan enu, kume, bonitu, tumpu.
Meanwhile, sama-sama disebut Bonitu, ternyata botanical namenya beda, bukan Garcinia sp melainkan Ardisia sp. Udah gitu, adalagi bonitu 1, bonitu 2 karena memang spesiesnya beda dan teridentifikasi dari bentuk epidermisnya yang beda juga....
hmmm...asyik..asyik mumet juga...
Soalnya kalau mau check and recheck repot euy protokolernya....tapi yo musti kudu dikerjakan to....???? Tetap semangat !!!

Sunday, April 27, 2008

Mengintip anoa "mandi"..


Seperti juga "saudaranya" yang lebih gedhe... yaitu kerbau, anoa juga mempunyai kegemaran untuk berkubang demi menjaga kelembaban kulitnya... So, bukan cuma celebrities yang punya chance untuk iklan sabun mandi sebenarnya ya.... Warna gelap kulit anoa menyebabkan anoa perlu sering membasahi tubuhnya..
Sayangnya, satwa yang sepintas kelihatan suka bebersih diri ini punya kebiasaan buruk juga.... Ituu....sambil berkubang sambil defekasi... oouuch....
Tapi masih akan terus diintip dan dipelajari, mengapa dia punya kebiasaan jorok seperti itu...
At least kebiasaan ini menyebabkan pengasuh anoa di Taman Margasatwa Ragunan Jakarta mesti membersihkan bak kubangan sekaligus tempat minum anoa ini setidaknya 3 hari sekali...


Saturday, April 26, 2008

Vegetasi Taman Nasional Lore Lindu



Lore Lindu adalah salah satu Taman Nasional di Indonesia yang luasnya 229.177,5 ha. Taman ini berlokasi di Propinsi Sulawesi Tengah yang dapat dicapai dengan bus yang jaraknya kira-kira 50 km ke arah tenggara dari kotamadya Palu. Menurut World Wild Foundation dan laporan Yayasan lokal (1983) bahwa pertama diusulkan kawasan ini bernama Lore Kalamanta berdasarkan SK.No.522/Kpts/Um/10/1973 ditambah dengan hutan wisata / hutan lindung, danau Lindu berdasarkan SK.No.46/Kpts/Um/1/1978, akan tetapi nama dan statusnya berganti menjadi Taman Nasional Lore Lindu.

Lore Lindu merupakan daerah pegunungan yang diselingi oleh 3 lembah yaitu Lembah Besoa, lembah Bada dan lembah Palolo-Sopu. Pada bagian utara terdapat puncak gunung tertinggi yaitu Rorekatimbu (2.610 m dpl) dan Gunung Nokilalaki (2.355 m dpl). Kawasan ini terbentang secara melebar dari ketinggian 200 m (dekat Irigasi Gumbasa/ Pakuli) hingga 2.610 m ( G. Rorekatimbu).

TNLL terletak di dua wilayah kabupaten, yakni Kabupaten Poso dan Kabupaten Donggala Propinsi Sulawesi Tengah (Sulteng). Di Kabupaten Poso, TNLL merupakan bagian dari Kecamatan Lore Utara dan Kecamatan Lore Selatan. Sedangkan di Kabupaten Donggala, TNLL merupakan bagian dari tiga (3) kecamatan yaitu Kecamatan Kulawi, Kecamatan Biromaru dan Kecamatan Palolo. Terdapat enam puluh tujuh (67) desa yang berhubungan langsung dengan TNLL. TNLL terletak diantara 1°8’ sampai dengan 1°30’ Lintang Selatan (LS) dan 119°58’ sampai dengan 120°16’ Bujur Timur (BT).

TNLL memiliki dua tipe vegetasi, yakni hutan hujan dataran rendah (200-1000 meter di atas permukaan laut) dan hutan hujan pegunungan (1000-2500 meter di atas permukaan laut). Ciri utama vegetasi yang terdapat dalam TNLL terdapat pada vegetasi penutup yang didominasi berbagai jenis rotan (Calamus, sp). Hingga saat ini lebih dari 20 jenis telah dikenal, dan beberapa diantaranya mungkin penting secara ekologis sebagai jenis khas dari tipe vegetasi tertentu atau sebagai indikator dari habitat yang spesifik. Sampai taraf tertentu ini juga berlaku bagi pinanga serta berbagai jenis tumbuhan semak dan paku-pakuan. Walaupun masih memerlukan penyelidikan yang lebih dalam, sementara ini tipe vegetasi utama di Taman Nasional ini dapat dikatakan memiliki penyebaran menurut ketinggian.

Pohon yang terdapat pada kedua zona memiliki tajuk yang tinggi dan berukuran sama. Tinggi pohon mencapai ukuran 30-40 meter dengan diameter 70-80 cm. Struktur vegetasinya pun mirip satu sama lain, serta sering kali tidak memilki batas-batas yang agak jelas pada ketinggian 1.000 m. Disini epifit dan lumut menjadi lebih lazim dijumpai dan jenis-jenis tumbuhan pegunungan secara bertahap menggantikan jenis tumbuhan dataran rendah, walaupun beberapa jenis tumbuhan dataran rendah masih dapat dijumpai sampai ketinggian 1.500 m. Di dalam tipe hutan hujan pegunungan juga mudah dikenali suatu sub-zona , yaitu hutan hujan pegunungan bawah .

Vegetasi di wilayah hutan hujan dataran rendah

Komposisi flora hutan hujan dataran rendah agak bervariasi ditandai jenis yang dikenal dengan mussaendopsis beccariana, ficus sp, myristica sp, pterospermum, canangium odoratum, arenga pinatta, arenga sp, dan lain-lain. Vegetasi pada hutan hujan dataran rendah ini meliputi kurang dari 10 % dari luas TNLL dan terutama dapat dijumpai pada jalur sempit yang terbentang sepanjang batas utara dan barat pada ketinggian antara 200 sampai 1.000 m komposisi tumbuhan dari zona ini agak beraneka ragam, tidak dijumpai jenis tertentu yang dominan. Ciri vegetasi ini ditandai oleh adanya pohon yang dikenal sebagai Pawa (Rubiaceace), Ntrode (Pterospermun celebicum), Ndolia (Cananga odorata), Ngkera (Horsfieldia sp), Lawedaru (Knema atau Myristica) dan juga Palma saguer (Arenga pinata) dan take (Arenga undulatifolia), Mpire (Caryota sp). Pada umumnya jenis tumbuhan tersebut tidak terdapat pada ketinggian lebih dari 1.000 m .

Jenis tumbuhan lain yang diketemukan dalam zona vegetasi ini adalah Tahiti (Disoxyllum sp), Uru (Elmerillia atau Manglietia), Luluna (Celtis sp), Maro (Garcinia sp), Kaupahi, Dango (Carralia brachiata), Palili (Lithocarpus sp), Nuncu (Ficus sp), Tingaloko (Leea sp), Tea Uru (Artocarpus sp), Huka (Gnetum gnemon), Pangi (Pangium edule), Kau mpangana (Ardisia). Di beberapa tempat juga terdapat Vatica sp (Dipterocarpaceae) Durio zibethinus (durian), Duabanga moluccana (Lekotu) dan Octomeles sumatrana (benoang)

Vegetasi ini bergabung dengan vegetasi sekunder yang tumbuh setelah hutan asli dibuka untuk perladangan dan kemudian ditinggalkan. Komposisi tumbuhan dari vegetasi sekunder ini bervariasi menurut umur serta lokasi tegakan. Secara umum dalam tahun pertama setelah ladang ditinggalkan muncul kemudian rumput-rumput dan jenis tumbuhan yang tak berkayu. Pada tahun kedua atau ketiga, herba penutup ini akan diganti oleh semak belukar yang lebat, yang didominasi oleh walobira (Melastoma malabathricum) dan atau hinduru (Villebrunnea sp). Jenis pohon yang kelak menggantikan semak belukar ini diantaranya wulaya (Trema orientalis), hinanu (Callicapra), kuo (Alphitonia zizyphoides), paili (Lithocarpus). Jenis-jenis ini dapat membentuk suatu tegakan campuran, atau tegakan yang didominasi oleh beberapa jenis saja, tetapi bisa juga masing-masing menguasai areal tertentu untuk membentuk suatu tegakan murni. Sebagai tambahan bahwa tanah terbuka yang dibiarkan sesudah longsor terjadi, mungkin langsung seluruhnya diambil alih oleh (Casuarina sumatrana atau Pigaffeta elata)


Vegetasi di wilayah hutan hujan pegunungan

Hutan hujan pegunungan yang merupakan 90 % dari luas seluruh areal TNLL didominasi jenis vegetasi seperti misalnya castanopsis asgentea, lithocarpus sp. Juga terdapat beberapa jenis yang agak terbatas jumlahnya seperti misalnya podocorpus, elacorpus, adinandra, listea, callohyllun, eucaliptus deglupta dan lain-lain.

Pada vegetasi hutan hujan pegunungan, karena lebih dari 90 % dari TNLL ini berada pada ketinggian di atas 1.000 m (antara 1.000 - 2.600 m), maka bagian terbesar vegetasi yang menutupi Taman Nasional ini adalah hutan hujan pegunungan. Vegetasi di zona ini ditandai oleh adanya dominasi dari jenis pohon tertentu seperti kaha (Castanopsis argentea), palili bohe, palili nete, palili pence (Lithocarpus sp) dan berbagai jenis Syzigium. Jenis lain yang juga terbesar tetapi kurang begitu umum ditemukan adalah jenis-jenis dari Podocarpus, Elaeocarpus, Adinandra, Lasianthus, Cinnamomum, Letsea, Callophylium. Salah satu pohon yang tajuknya terbesar yaitu Aghatis celebica dan Agathis philippinensis biasanya terdapat dalam suatu tegakan atau sebagai individu-individu yang tersebar pada punggung bukit di atas ketinggian 1.500 m, bersama-sama dengan Phyllocladus hypophyllus dan Pandanus sp, Litsea sp. Vegetasi jenis lain yang mendominasi kawasan ini adalah Rhododendron sp (R. malayanum, R.celebicum dan R. Zollingerii), dan Vaccinium sp.

Referensi:

Kessler, P J A, Bos, M, Ramadhanil P and Gradstein. 2002. Checklist of Woody Plant of Sulawesi, Indonesia. Symposium (SFB 552) “ Land Use, Nature Conservation and the Stability of Rainforest margins in Southeast Asia”. Bogor. 29 September- 3 October 2002.

Kinnaird M F, 1997. Sulawesi Utara, Sebuah Panduan Sejarah Alam . Yayasan Pengembangan Wallacea.

Malik, A., Pujaningsih, R.I. and Labiro, E. 2004. Participatory of Wildlife Conservation in Central Sulawesi Indonesia. (A Review on A Case study of Anoa Bubalus spp. as one of endemic endangered animal from Sulawesi, Indonesia). In: Proceeding of The 5th International Symposium-cum-Workshop "The Role of German Alumni in Rural/Regional Development and Entrepreneurship " by SEAG, Royal Agricultural University and the University Consortium Georg-August-University Göttingen, University of Kassel and Philipps University Marburg. Phnom Penh, August 23 - 27, 2004.

Pujaningsih, R.I., Sukamto, B dan Labiro, E. 2005. Identification and Feed Technology Processing for Roughage in Term of Anoa (Bubalus sp) conservation. National Seminar of Fundamental Research. Jakarta, 16-18th May 2005

Ramadhanil P, Kessler, P J A, S R Gradstein, E. Guhardja, C.H. Leuschner, H. Wiriadinata, S. T. Sudirdjo. 2002. Tree Composition In Secondary Forest of Lore Lindu National Park Central Sulawesi, Indonesia. Symposium (SFB 552) “ Land Use, Nature Conservation and the Stability of Rainforest margins in Southeast Asia. Bogor. 29 September- 3 October 2002.

Ramadhanil P dan Z. Basri. 2002. Rattan Inventory In The Margin of Lore Lindu National Park Central Sulawesi, Indonesia. Symposium (SFB 552) “ Land Use, Nature Conseravtion and the Stability of Rainforest margins in Southeast Asia. Bogor. 29 September- 3 October 2002.

Veldkamp J F, Ross, M C and Rifai M A, 1977. Flora Malesiana Bulletin, 12 (1-2). Leiden: Rijksherbarium.

Whitmore, T C, I G M Tantra, 1989. Tree Flora of Indonesia. Checklist for Sulawesi Published By Agency for Research and Development Forest Research and Development Center Bogor. Indonesia.

Saturday, April 19, 2008

PERKEMBANGAN PENELITIAN DI BIDANG VEGETASI PAKAN ALAMI ANOA

Anoa sudah ditetapkan sebagai satwa yang dilindungi sejak tahun 1931 (Law of Protection of Wild Animals 1931, no 134). Penelitian yang dilakukan pada kurun waktu tersebut masih sangat sedikit dan berkisar pada populasi, sebaran serta taksonomi dari satwa endemik Sulawesi ini. Workshop yang diselenggarakan oleh Dirjen PHPA (Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam) bekerja sama dengan Asian Wild Cattle Specialist Group dan Conservation Breeding Specialist Group pada tanggal 22-26 Juli 1996 di Taman Safari Indonesia, Cisarua, memberikan informasi berkisar pada status populasi dan sistem manajemen yang telah diterapkan, model penangkaran dan penanganan selama berada di dalam penangkaran (tagging, social characteristic, daily behaviours). Berdasarkan informasi dari Direktur Jendral PHKA (Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam) (2005) pada seminar sehari “Peduli Anoa dan Babirusa Indonesia” di Bogor tanggal 20 September 2005, kajian tentang anoa relatif masih sangat terbatas dibandingkan satwa-satwa khas Kalimantan dan Sumatera (Orang utan, Badak, Gajah Sumatra, Harimau).

Fadjar (1973) melaporkan bahwa di tempat penangkarannya di Kebun Binatang Ragunan Jakarta anoa diberi makan rumput, dedaunan dan buah-buahan. Pemberian jenis pakan tersebut berdasarkan informasi dari penduduk asal anoa ditangkap (Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara). Whitten et al. (1987) menginformasikan bahwa anoa mengkonsumsi biji dari tumbuhan Lithocarpus sp, Castanopsis sp dan Leptospermum sp. Para peneliti Jerman yang berkolaborasi dengan peneliti dari Institut Pertanian Bogor dan Universitas Tadulako pada periode tahun 2000-2003 menduga bahwa anoa turut berperan dalam penyebaran spesies tumbuhan tersebut melalui biji yang dimakan tetapi tidak tercerna dan terekskresikan pada proses defekasi anoa.

Penelitian tentang ekologi dan konservasi anoa dataran rendah telah dilakukan oleh Mustari (1996) di Suaka Margasatwa Tanjung Amolengu Sulawesi Tenggara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 33 spesies vegetasi yang diduga dikonsumsi oleh anoa di lokasi tersebut. Bagian vegetasi yang diduga dikonsumsi oleh anoa meliputi dedaunan dan batang tanaman muda, buah-buahan masak dan umbi tanaman.

Winenang (1996) menyatakan bahwa belum banyak penelitian yang dilakukan tentang tingkah laku makan dan jenis pakan anoa. Pengamatan langsung yang dilakukan di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone Sulawesi Utara menginformasikan dugaan bahwa anoa di habitatnya mengkonsumsi dedaunan dari semak-semak muda, sedangkan di tempat penangkaran beradaptasi dengan pakan berupa rerumputan. Kebutuhan nutrisi anoa di Kebun Binatang Ragunan Jakarta diteliti oleh Mustari (1997) dengan metode penghitungan konsumsi pakan.

Analisis komposisi pakan anoa di TNLL Sulawesi Tengah dilakukan oleh Labiro (2001) menggunakan metode pengamatan langsung berdasarkan bekas senggutan, kotoran dan jejak kaki anoa yang terdapat di lokasi vegetasi. Informasi yang diperoleh merekomendasikan bahwa TNLL memiliki potensi cukup besar dalam menyediakan vegetasi pakan untuk anoa. Pada tahun 1992 Foead juga telah mencoba mengidentifikasi jenis pakan alami anoa di Taman Nasional Lore Lindu dengan menggunakan kombinasi pengamatan langsung dan analisis faecal. Tetapi karena terbatasnya referensi sampel epidermis vegetasi maka informasi direkomendasikan sebatas prosentase vegetasi dikotil dan monokotil yang teridentifikasi dikonsumsi oleh anoa.

Mustari (2003b) dalam disertasinya menggunakan metode langsung dan tidak langsung untuk mendapatkan informasi jenis pakan anoa di habitatnya di Suaka Margasatwa Tanjung Peropa dan Tanjung Amolengu Sulawesi Tenggara. Metode langsung dilakukan melalui pengamatan vegetasi di habitat anoa berdasarkan bekas senggutan, kotoran dan jejak kaki anoa, sedangkan metode tidak langsung dengan menganalisis kotoran anoa untuk mengidentifikasi vegetasi yang telah dikonsumsi oleh satwa tersebut. Identifikasi pakan anoa dengan metode pengamatan langsung di Desa Toro wilayah TNLL Sulawesi Tengah dan identifikasi teknologi pengolahan pakan anoa dilakukan oleh Pujaningsih et al. (2005).

Gambar bentuk kotoran anoa dibandingkan ukuran GPS.

Berdasarkan informasi tentang identifikasi pakan anoa di berbagai daerah di pulau Sulawesi dapat diambil kesimpulan sementara bahwa anoa mengkonsumsi pakan dengan kadar protein rendah, kandungan serat kasar tinggi dan kandungan air yang relatif tinggi. Anoa juga mudah diadaptasikan dengan pakan yang terdapat di sekitar satwa tersebut tinggal (in situ maupun ex situ). Meskipun demikian kontinyuitas kualitas dan kuantitas pakan sangat diperlukan anoa untuk menjamin kebutuhan hidup pokok, produksi dan reproduksinya dalam potensinya sebagai satwa budidaya. Didukung oleh informasi yang ada maka penelitian tentang teknologi penyediaan dan pengolahan pakan anoa yang aplikatif perlu dilakukan untuk membantu upaya penyediaan pakan dalam rangka konservasi anoa dan pemanfaatannya sebagai satwa budidaya. Kebutuhan pakan yang tepat dan kontinyu baik kualitas maupun kuantitas bagi anoa akan sangat membantu penampilan fisik dan proses reproduksinya.

Friday, April 04, 2008

JENIS SATWA ENDEMIK (CITES)

Daftar beberapa jenis endemik Wilayah Wallacea

yang tercantum dalam appendix CITES

No.

Nama Ilmiah

Nama Indonesia

Appendix CITES

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

19.

20.

21.

22.

Phalanger intercastellanus

Phalanger orientalis

Tarsius pumilus

Tarsius spectrum

Macaca maura

Macaca nigra

Macaca ocreata

Macaca tonkeana

Babyrousa babyrussa

Bubalus depressicornis

Bubalus quarlesi

Otus manadensis

Pedelopides exarnatus

Aceros casidix

Varanus indicus

Varanus komodoensis

Varanus timorensi

Macrocephalon maleo

Accipiter manus

Accipiter rhodogaster

Eos histrio

Tricoglosus ornatus

Dan banyak lagi jenis lainya

Kuskus selatan

Kuskus biasa

Krabuku kecil

Krabuku tangkasi

Monyet dare

Monyet wolai

Monyet yaki

Monyet boti

Babi rusa

Anoadataranrendah

Anoa gunung

Celepuk Sulawesi

Rangkong Sulawesi

Julang Sulawesi

Biawak maluku

Biawak komodo

Biawak timor

Maleo

Elang alap kecil

Elang alap dada merah

Nuri Talaud

Perkici dora

II

II

II

II

II

II

II

II

I

I

I

II

II

II

II

I

II

I

II

II

I

II

PENTINGNYA KEGIATAN KONSERVASI

Konservasi kawasan dan keanekaragaman hayati meliputi pengelolaan dan pendayagunaan kawasan konservasi serta pemberdayaan masyarakat sekitar taman nasional, taman wisata, taman hutan raya, kawasan suaka alam, hutan lindung dan taman buru. Konservasi keanekaragaman hayati meliputi konservasi jenis dan genetik, konservasi ekosistem esensial, pengembangan lembaga konservasi, penangkaran tumbuhan dan satwa liar, tertib peredaran tumbuhan dan satwa liar (Direktorat Jendral PHKA, 2002). Kenyataannya sampai sekarang pelestarian tersebut masih belum terlaksana dengan baik, mengingat ancaman yang dihadapi sangat rumit dan sangat sulit untuk di atasi. Beberapa di antaranya adalah pengaruh perubahan iklim, eksploitasi yang berlebihan atau kegiatan yang mengakibatkan kerusakan fisik penopang kehidupan, pencemaran, kehadiran spesies asing yang invasif, dan kegiatan pembudidayaan yang tidak disertai upaya yang menjamin kelestarian berbagai varietas dari spesies yang dibudidayakan. Gunawan dan Mukhtar (2005) melaporkan bahwa perambahan menyebabkan terganggunya sampai berubahnya ekosistem mikro akibat berubahnya struktur dan komposisi sampai hilangnya vegetasi. Perambahan juga menyebabkan berkurangnya sampai hilangnya ruang, pakan, tempat berlindung, dan tempat beraktivitas sosial. Pengaruh perambahan hutan yang diterima oleh populasi satwaliar antara lain menurunnya populasi, terganggunya kesehatan, migrasi, meningkatnya persaingan, perubahan perilaku, perubahan kebiasaan makan dan jenis makanan, dan terganggunya proses reproduksi.

Jenis-jenis endemik terbentuk karena adanya habitat yang spesifik. Jenis-jenis tersebut hanya terdapat pada habitat di tempat mereka terbentuk dan hanya mampu beradaptasi dengan karakteristik habitat tersebut. Apabila habitatnya mengalami perubahan secara drastis (misalnya oleh adanya polusi, konversi lahan, fragmentasi habitat, dll), maka jenis-jenis endemik sering tidak mampu beradaptasi mengikuti perubahan tersebut. Dihadapkan dalam kondisi seperti ini, jenis-jenis endemik akan mengarah pada kepunahan. Soehartono dan Mardiastuti (2003) menegaskan dengan kata lain, jenis-jenis endemik mudah mengalami kepunahan apabila habitatnya terganggu.

Kemampuan adaptasi yang lemah tidak saja terjadi terhadap perubahan habitat, tetapi juga dalam hal beradaptasi dengan jenis-jenis baru (Malik et al., 2004). Jenis-jenis endemik tidak terbiasa hidup berkompetisi, sehingga akan mengalami tekanan apabila ke dalam habitatnya diintroduksi jenis-jenis dari habitat lain yang memanfaatkan sumberdaya yang sama dengan jenis endemik tersebut. Keberadaan jenis-jenis kompetitor akhirnya akan secara lambat laun menyingkirkan posisi jenis-jenis endemik. Umumnya jenis-jenis endemik juga kurang atau bahkan tidak terbiasa hidup dengan predator, sehingga dia tidak memiliki kemampuan untuk menyelamatkan diri dari predator. Apabila ke dalam habitatnya diintroduksi predator maka dalam waktu singkat populasi jenis endemik akan habis. Sama halnya dengan predator, penyebarannya yang terbatas menyebabkan jenis-jenis endemik juga tidak terbiasa dengan patogen yang berasal dari habitat lain. Kedatangan jenis-jenis introduksi yang membawa patogen baru ke habitat di tempat jenis-jenis endemik berada dapat menimbulkan wabah yang memusnahkan jenis-jenis endemik. Pemaparan tersebut menunjukkan betapa jenis-jenis endemik memiliki resiko kepunahan yang sangat tinggi, sehingga pengelolaannya perlu dilakukan secara sangat hati-hati.

Secara umum, terdapat beberapa hal yang menyebabkan rawan punah atau punahnya jenis hayati yaitu: (1) Kurangnya eksplorasi jenis baru, sehingga kepunahan jenis tersebut tidak diketahui; (2) Penyediaaan habitat untuk jenis yang dilindungi masih sangat kurang (Alikodra, 1996; Direktorat Jendral PHKA, 2002; Malik et al., 2004); (3) Habitat yang disediakan tidak sesuai bagi suatu jenis yang dilindungi; (4) Pembangunan yang tidak memperhatikan kelestarian alam (Malik et al. 2004); (5) Pemanfaatan yang memutus daur reproduksi (Kasim, 2002); (6) Adanya pemindahan suatu jenis baru kedalam suatu ekosistem; (7) Kurang sadarnya akan pentingnya konservasi hewan langka bagi anggota masyarakat sekitar, termasuk pengelola kawasan (Pujaningsih et al., 2007; Soehartono dan Mardiastuti, 2003); (8) Upaya kongkrit perlindungan belum nyata di lapangan. Masih banyak dijumpai penjualan jenis hayati yang dilindungi di tempat umum; (9) Pengambilan dari alam secara besar-besaran dan terus-menerus (Kasim, 2002).

Terdapat dua jenis model konservasi (FAO, 2002), yaitu konservasi in situ dan konservasi ex situ. Konservasi in situ dianggap merupakan strategi ideal konservasi, meskipun pelaksanaannya seringkali sulit dilakukan. Sebagai contoh misalnya, kerusakan habitat spesies yang langka dan atau rawan punah seringkali memerlukan upaya konservasi ex situ. Lebih lanjut konservasi ex situ dapat memberikan solusi yang mendukung upaya konservasi in situ. Beberapa pihak yakin bahwa ke dua model konservasi diperlukan untuk upaya perlindungan sumber daya alam hayati. Menurut Franco et al. (2004) mempelajari habitat asli akan mendukung upaya pengelolaan di area pemeliharaan yang berbeda. Salah satu contoh konservasi in situ adalah program perbaikan ekosistem suatu kawasan yang dilindungi. Program ini diiringi dengan konservasi ex situ yang berupaya melakukan penyediaan bibit tanaman maupun mengembangbiakan satwa langka di tempat-tempat penangkaran.

INFORMASI PENELITIAN TENTANG ANOA


Ibarat kertas putih, satwa yang endemik pulau Sulawesi ini semakin menarik minat pemerhati untuk menulisinya, memberikan gambar dan cerita tentang bagaimana bentuk konservasi yang tepat demi menjaga eksistensinya di bumi ini.
Sayangnya banyak kendala yang harus dicari solusinya berkaitan dengan kewenangan maupun aturan main penelitian yang menggunakan satwa appendix I sebagai kompetensinya. Concerning with animal welfare, seringkali sulit untuk membuat publikasi dalam rangka menginformasikan penelitian-penelitian yang telah dilakukan in according with anoa.

Informasi tentang kualitas karkas, identifikasi pakan, ekologi behaviour, taksonomi, dan mungkin masih ada lagi yang lain, masih sangat diperlukan untuk dipublikasikan sehingga menghasilkan rangkuman cerita yang informatif tentang anoa. Tetapi jika sudah tersangkut pada rambu-rambu konservasi dan animal welfare, semua itu menjadi sangat terbatas.
Prinsip animal welfare menyebabkan metodologi penelitian yang membuat binatang tidak nyaman sangat-sangat ditentang. Konservasi juga tidak mengijinkan upaya penelitian yang mengganggu populasinya.

Yah, tidak ada salahnya jika media publikasi yang tidak resmi yang kemudian "dianjurkan" untuk ditempuh. Komunikasi pribadi lewat private media mungkin menjadi alternatif yang bisa disarankan. For the seek of the sustainable of our biodiversity....please do so...

Monday, March 17, 2008

Possibility of Anoa’s Conservation in Lore Lindu National Park

Study on the Diet Composition of Anoa

Pujaningsih, R.I.1, Malik, A2, Pudyatmoko, S3, Amir, M.A2, Sofyan3

1Faculty of Animal-Agriculture, Diponegoro University, Semarang, Central Jawa, Indonesia

2Faculty of Agriculture, Tadulako University, Palu, Central Sulawesi, Indonesia

3Faculty of Forestry, Gadjah Mada University, Yogyakarta, Yogyakarta Special Regency, Indonesia

Abstract

The diet composition of the anoa of the National Lore Lindu Park Central Sulawesi were studied using direct observation and faecal analysis. Dietary ecology of anoa was studied to investigate the food plants eaten by anoas and the availability of the food plants that were potentially eaten by the animals. This study, conducted in Toro village area of Lore Lindu National Park aimed to determine food plants eaten by lowland anoas, including the species of food plants, parts of plants eaten and the relative portions of the food items in the diets of the animals. Two techniques were used to determine the animals’ food plants including direct and indirect methods. For the direct method, the anoa’s food plants were recorded when the animals were observed feeding on identifiable species of plants. For the indirect method, the animals’ food plants were recorded based on their browsing signs and on faecal analysis. Feeding tracks of anoa were investigated along the natural paths of the animals covering Toro village area. Species of plants and parts of plants eaten by the animals were recorded. Faecal samples more often founded on the location near the water resources (mountain spring, river). Observation of the feeding sites of the animals showed that food plants of anoa included monocots (grasses, sedges, and young leaves), dicots (herbs, lianas and fruits of dicots) and ferns. Anoa prefer to drink mountain spring water which has more mineral contents compare to the river water. Anoa may adapt their food refer to their environment. Our management recommendations include precisely law enforcement according to the new paradigmatic of conservation, build on an ex-in situ special area for anoa’s captivity, gazette of remaining suitable habitats of anoas, conducting an island-wide survey of distribution and population abundance of anoas, and increasing people’s awareness of the need to conserve the rain forest upon which anoas and other wildlife species rely. Moreover, anoa can be fed by some alternative vegetation which has equivalent quality.

Keywords: anoa, diet composition, direct observation, faecal analysis

Contact person:

Retno I Pujaningsih : retnoip@telkom.net

Adam Malik : adam_untad@yahoo.co.id

Satyawan Pudyatmoko : satyawan_pudy@yahoo.com

Wednesday, January 02, 2008

Prospek Pengembangan Anoa sebagai Penghasil Daging

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh informasi bahwa anoa memiliki indeks penyebaran kelompok urat daging baku lebih baik daripada sapi, kerbau dan banteng. Rendahnya perlemakan ini disebabkan agresivitas dan aktifitas jelajah anoa di habitatnya yang lebih tinggi dibandingkan satwa lain yang telah didomestikasikan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa anoa mampu beradaptasi dengan cepat secara baik terhadap jenis bahan pakan yang ada di kondisi ex situ, sehingga memungkinkan untuk dijadikan satwa budidaya. Meskipun demikian pada kondisi penangkaran atau budidaya, anoa masih banyak mendapat cekaman (stress) baik akibat suhu lingkungan ataupun karena makanannya, sehingga perlu diketahui dan dipelajari dari segi aspek domestikasi tersebut.

Pakan ANOA


Sebagaimana ruminansia pada umumnya, pakan Anoa terdiri atas pakan hijauan sebagai pakan dasar yang kaya serat kasar untuk sumber energi dan tangsal perut, dan pakan konsentrat yang kaya protein, energi, mineral organik dan vitamin yang diperlukan ternak. Ransum pakan tradisional lebih menitik beratkan perpaduan rumput dan dedaunan dengan indikator utama kenaikan bobot badan (Pujaningsih, 2005). Kerbau liar kerdil yang endemik ini makan rumput-rumputan, paku-pakuan, semak serta buah-buahan yang jatuh (Mackinnon and MacKinnon, 1979). Sejauh ini belum tersedia data mengenai kebutuhan nutrisi untuk Anoa sebagaimana hewan ternak lainnya.

Di alam bebas Anoa liar memakan “aquatic feed” antara lain berupa pakis, rumput, tunas pohon, buah-buahan yang jatuh, dan jenis umbi-umbian. Berdasarkan pengamatan Pujaningsih, et al., (2005) dan beberapa peneliti dilaporkan bahwa Anoa dataran rendah kadang-kadang juga meminum air laut yang diduga untuk memenuhi kebutuhan mineral mereka. Di dataran tinggi, Anoa menjilat garam alami dalam rangka pemenuhan kebutuhan mineralnya. Di tempat-tempat penangkaran maupun kebun binatang, Anoa diadaptasikan dengan diberi pakan berupa rumput kering dan pelet. (Malik et al., 2004; Pujaningsih, 2005; Pujaningsih et al., 2005).

PERFORMANCE ANOA


penampilan umum Anoa (Bubalus sp.)



Menurut Groves (1969), di Sulawesi terdapat dua jenis anoa, yaitu anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) dan anoa gunung (Bubalus quarlesi). Anoa dataran rendah berwarna hitam, terdapat bercak putih pada tungkai depan, panjang ekor dapat mencapai persendian lutut belakang, rambut agak jarang pada individu dewasa. Jantan memiliki warna rambut yang lebih gelap dibanding betina, kadang memiliki bercak putih berbentuk sabit (crescent) pada bagian bawah leher. Potongan melintang pangkal tanduk berbentuk triangular, terdapat garis-garis cincin (wrinkled) pada pangkal sampai seperdua panjang tanduk. Panjang tanduk berkisar 271-273 mm pada jantan, 183-260 mm pada betina. Panjang tengkorak 298-322 mm pada jantan dan 290-300 mm pada betina.

Lebih lanjut dideskripsikan oleh Groves (1969) bahwa anoa gunung memiliki warna rambut coklat kehitaman atau coklat kemerahan. Rambut lebih tebal, tidak terdapat bercak putih bentuk sabit pada leher. Dan bulu anoa ini lembut menggemaskan, tidak berbau seperti kambing atau domba.... Ekor lebih pendek, tidak lebih dari seperdua jarak pangkal ekor dengan persendian lutut belakang. Potongan melintang pangkal tanduk berbentuk conical, tidak terdapat garis-garis cincin (wrinkled) pada pangkal tanduk. Panjang tanduk 146-199 mm, panjang tengkorak 244-290 mm.

Menurut Nowak (1991) panjang kepala dan badan anoa berkisar 1600-1720 mm, panjang ekor 180-310 mm, tinggi bahu 690-1060 mm, berat badan berkisar 150-300 kg. Hasil pengamatan Fadjar (1973) menemukan bahwa anoa lebih sering ditemukan berpasangan. Kelompok anoa ditemukan apabila ada anoa betina dalam keadaan bunting dan mempunyai anak. Dilaporkan juga bahwa anoa mempunyai kesenangan berendam di dalam air dan berkubang di dalam lumpur, tetapi ada juga yang kurang menyukai air, karena jika hari hujan mereka mencari tempat berteduh di semak-semak. Periode bunting adalah 276 hari hingga 315 hari dan biasanya melahirkan satu anak. Seekor anoa dapat mencapai umur sekitar 20-25 tahun.

Dipercaya bahwa daging Anoa ini mempunyai khasiat bagi "stamina" pria, disamping itu tengkorak dan tanduknya dipercaya juga mempunyai nilai magis. Seberapa jauh kebenarannya masih perlu pengamatan lebih akurat lagi. Yang jelas, binatang ini banyak diburu untuk dimanfaatkan dagingnya.

MENGENAL UDANG NAGA


Udang Naga si penjaga harta....


Saat ini budidaya lobster khususnya lobster air tawar merupakan salah satu budidaya andalan yang digalakkan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan. Prospek lungshia (dalam bahasa China berarti udang naga) sangat bagus lantaran harganya yang tinggi dan pasarnya terbuka lebar. Permintaan pasar domestik dan ekspor terus meningkat, sementara produksi terbatas.

Lobster, dahulu merupakan makanan yang ditolak oleh para narapidana di Massachusetts Amerika Serikat. Namun sekarang jenis udang ini jadi salah satu menu eksklusif di hotel-hotel dan restoran ternama. Menu makan malam yang menyajikan lobster yang disajikan di hotel berbintang dipatok dengan harga lebih dari Rp 100 ribu. Sedangkan di sebuah restoran di Bukit Merah, Singapura, baby lobster menjadi menu favorit pengunjung, dan tentu saja berharga mahal.

Lobster air tawar (LAT) merupakan komoditas potensial yang dapat dikembangkan. Lobster air tawar belum populer seperti udang windu yang sempat menduduki primadona di subsektor perikanan. Di Indonesia lobster banyak ditemukan di sungai-sungai di Papua. Lobster dapat digunakan sebagai ikan hias maupun konsumsi. Setiap jenis lobster memiliki ciri-ciri yang berbeda, baik ukuran maupun wama. Jenis-jenis lobster antara lain Cherax quadricarinatus (atau yang lebih dikenal red claw). Lobster air tawar mulai banyak dikenal oleh masyarakat, dari segi harga tidak kalah bersaing dengan udang windu.

Hingga kini, belum banyak yang menggeluti usaha budidaya lobster air tawar. Salah satu penyebabnya adalah masyarakat belum mengetahui pangsa pasar lobster air tawar. Kebanyakan orang hanya mengetahui lobster air laut yang ditangkap nelayan. Permintaan pasar lobster air tawar di dalam negeri cukup tinggi. Namun, hingga kini produksi domestik belum dapat memenuhi kebutuhan pasar. Hal ini disebabkan belum banyak petani yang menggeluti budidaya lobster air tawar. Petani yang mengusahakan masih terbatas di kota besar antara lain Jakarta dan Yogyakarta. Prospek pasar luar negeri masih terbuka lebar, seperti ke Australia, Jepang dan Amerika Serikat. Harga lobster dalam negeri saat ini berada di kisaran Rp120.000- Rp200.000 per kg. Tentunya, harga lobster akan semakin mahal bila dikirim ke luar negeri. Permintaan lobster untuk konsumsi ke Eropa juga besar, namun belum bisa dipenuhi secara optimal karena pasokan masih terbatas.

Keunggulan lobster air tawar ini karena tidak mebutuhkan perawatan secara intensif, budidaya relatif mudah dibandingkan udang-udang yang lain. Teknik budidayanya cukup sederhana, sehingga dapat dilakukan oleh siapa saja. Modal yang dibutuhkan tidak terlalu besar. Lahan yang dibutuhkan tidak luas, karena dapat dibudidayakan di akuarium atau kolam berukuran kecil. Lobster air tawar tidak mudah terserang penyakit, pemakan hewan maupun tumbuhan (omnivora), pertumbuhan relatif cepat dan memiliki daya bertelur tinggi. Lobster air tawar mengandung lemak rendah (< 2%), selenium yang merupakan antioksidan untuk menghindari penyakit jantung dan koroner, sumber yodium, zink, asam lemak omega 3, magnesium, kalsium dan fosfor.

Budidaya lobster ini sejatinya dapat dijadikan usaha sampingan yang mampu memberikan pendapatan tambahan yang lumayan besar. Seperti yang dilakukan oleh seorang pria kelahiran Yogyakarta yang sehari-hari melakukan kegiatan menabur pelet untuk pakan lobsternya sebelum ia memulai aktifitasnya sebagai pegawai di Departemen Perindustrian. Dari usaha sampingannya ini, ia dapat menangguk keuntungan sebesar dua juta rupiah setiap bulannya.

Ketertarikannya untuk membudidayakan lobster air tawar ini karena selain daya jualnya yang cukup tinggi dengan peluang pasar yang masih terbuka lebar, pun tidak perlu meluangkan banyak waktu untuk memeliharanya. "Lobster tidak membutuhkan perawatan intensif, mengganti air dan membersihkan akuarium pun cukup dilakukan seminggu sekali,"ujarnya. Banyak orang saat ini kepincut untuk membudidayakan lobster. Rekan-rekan kerja dan para tetangganya pun mulai mengikuti jejaknya. Sangatlah wajar apabila mereka merasa tertarik membiakkannya. Karena modal usaha budidaya lobster ini akan kembali dalam jangka waktu kurang dari setahun. Untuk memulai usaha ini dibutuhkan modal sebesar 2,5 juta - 3 juta rupiah untuk perlengkapan, akuarium beserta satu set indukan. Dalam jangka waktu empat bulan kemudian peternak dapat mencicipi hasilnya. Sedangkan biaya operasional yang dikeluarkan relatif kecil. Untuk pakan misalnya, hanya memerlukan satu kg untuk sebulan dengan harga Rp 10.000/kg.

Untuk perawatan ekstra biasanya hanya dilakukan pada saat moulting atau ganti kulit. Karena saat inilah tingkat kematian lobster meningkat. Ganti kulit mengakibatkan lemahnya kondisi lobster sehingga teman-temannya dengan mudah menyerang. Oleh karena itu peternak harus memindahkan lobster ke tempat yang lebih aman dengan cara memisahkan dari rekan-rekannya. Selain itu tidak ada gangguan yang berarti, hanya induk lobster biasanya sangat gampang kaget. Produktivitasnya akan menurun apabila mendengar suara petir.

Selama ini peternak menjual lobster secara eceran sebagai ikan hias. Mereka belum memanfaatkan peluang lobster sebagai sajian hidangan. Padahal Australia sebagai produsen utama dengan produksi mencapai 400 ton/tahun, 65 % produksinya diserap oleh pasar lokal. Sisanya baru diekspor ke Singapura dan Hongkong. Indonesia dapat melihat dan mencontoh perkembangan budidaya lobster yang dilakukan oleh Australia ini. Selama ini pasokan lobster untuk pasar dalam negeri lebih banyak mengandalkan dari hasil tangkapan alam. Sedangkan permintaannya yang terus meningkat belum terpenuhi. Sehingga perlu adanya alternatif pengembangan lobster secara budidaya untuk memenuhi permintaan pasar. Selain itu kegiatan budidaya ini juga untuk menjaga kelestarian lobster air laut.  (retno ip dari berbagai sumber)

Sunday, October 21, 2007

Memelihara Katak Lembu, Mulai darimana?

Mau jadi juragan percil ?
Juragan indukan ?
Atau juragan katak lembu konsumsi ?



Beberapa peminat usaha budidaya katak lembu seringkali tidak yakin, mau mulai darimana?
Apakah membeli indukan dulu? Ataukah membeli bibit (percil) nya dulu?
Keduanya bisa dilakukan, baik step by step atau pun simultan, tergantung dengan modal dan skill yang dipunyai.

Untuk pemula, berdasarkan pengalaman saya sendiri beserta team, akan lebih bermanfaat baik secara spiritual maupun material.... :-) jika dimulai dengan memelihara bibit katak (percilnya) yang baru mau lepas kuntum ekornya. Dalam jangka waktu sekitar 3 bulan maka hasilnya sudah dapat dipetik... Bahkan sekaligus mempersiapkan katak calon indukannya. Karena diantara sekian banyak percil yang dipelihara, pastilah ada beberapa yang memiliki pertumbuhan lebih baik daripada yang lain yang prospektif untuk dijadikan indukan dengan perlakuan pemberian pakan yang berbeda.
Jika nanti sudah terampil dalam mengatur pemberian pakan, melakukan sortasi, membersihkan/mengganti air kolam tanpa membuat stress penghuninya, barulah mulai dengan memijahkan indukannya. Kalau tidak yakin dengan indukan yang dipunyai, bisa saja beli bibit indukan yang baik dari peternak yang memang mengkhususkan pada pemeliharaan indukan katak lembu. Akan tetapi mengingat harganya yang cukup tinggi, membeli bibit/calon indukan katak lembu sebaiknya dilakukan setelah yakin dan trampil mengelola indukan hasil seleksi dari percil yang dibesarkan. Tentunya sebelum upaya ini dilakukan, haruslah dipersiapkan dulu kolam/bak pijahnya... Dari 10 pasang indukan yang dipunyai, sudah sangat hebat bagi pemula jika berhasil memijahkan 3 pasang indukan... Itupun tidak bisa dalam waktu singkat..mungkin membutuhkan waktu 2-3 minggu. Jika tidak berhasil, ya harus diistirahatkan dululah... cape loh menggendong pengantin katak yang gendut selama beberapa hari...

Membeli percil pun tidak bisa seperti membeli sembako di warung, ada uang ada barang. Karena permintaan untuk percil ini sangat-sangat tinggi. Sehingga untuk mendapatkannya, peternak harus indent dulu pada peternak yang menjadi juragan percil jauh-jauh hari sebelum jadwal pemeliharaan akan dilakukan.
Di daerah Jawa Timur bahkan berudu katak lembu pada beberapa usia tertentu juga laku keras diperdagangkan...

Jadi...silahkan dipertimbangkan, apakah mau jadi juragan kodok konsumsi? Juragan percil ? Atau juragan indukan ? Atau ketiganya ?? Yang penting adalah ketekunan dan kesungguhan dalam mengusahakannya. Tidak mudah putus asa, tidak segan bertanya, sanggup untuk terus mencoba...

Tuesday, October 02, 2007

Identifying Feed Composition by Using Dung Analysis

FORMULATING OF ANOA’S DIET REQUIREMENTS
BASED ON THE IDENTIFICATION OF ANOA’S FAECAL EPIDERMIS


R.I. Pujaningsih

ABSTRACT OF RESEARCH PROPOSAL
Some researches in the year of 2000 - 2003 recommended that Anoa will totally disappeared from the Lore Lindu National Park of Central Sulawesi, otherwise there is a good conservation planning concerning within. Endeavored the sustainability of Anoa, it is needed to do problem’s identification and also evaluation by various approach method to get the optimal result and reach the target. The research aim to obtain the information about the type of Anoa’s feed with dung/faecal analysis method to study the epidermis component as input in preparing of proper feed requirement for Anoa in the preservation/conservation.

PROBLEM CONCERN
The decreasing of Anoa’s habitat as the effect of forest exploitation as well as forest convertion to become agriculture area, trasmigration location, plantation, industrialization has affected to speed up the disappearing of this animal. During this time, Anoa’s feed identification was only observed by direct perception method on footstep trace and also on the tracer of vegetation biting in around of Anoa’s habitat. So, it still unpredictable whether the vegetation was consumed by Anoa or other herbivore animal which also exist in the location. Refering to the problem is needed to conduct a furthermore research by using more other accurate dissimilar approach method. This alternatif method would be compared and discussed with some experts from Center of nature Conservation in Goettingen University which also supported by CeTSAF. . Information about Anoa’s behaviour will support its handling and adaptation in the preservation/conservation location. This research is a part of STORMA project which conduct in Sulawesi, Indonesia. A part of the research result will be used to finish my doctor degree.

OUTPUT

1. Data base of favorite and available Anoa’s diet.
2. Data base of preparing and conservation technology of Anoa’s diet at the original habitat as well as in the preservation.
Semarang, 19.09.2007

Friday, June 15, 2007

Melestarikan yang Bermanfaat dan Memanfaatkan yang Lestari

R.I. Pujaningsih

Pendahuluan


Keanekaragaman hayati merupakan bagian dari komponen yang secara ekologis berperan sebagai penentu keseimbangan ekosistem yang penting bagi kehidupan, terutama dalam penyediaan kebutuhan keanekaan bahan hayati dan penyediaan jasa lainnya. Dengan demikian keanekaragaman hayati merupakan salah satu penopang utama kelangsungan hidup dan kesejahteraan manusia. Keanekaragaman hayati adalah keadaan beragamnya ekosistem, jenis dan variabilitas genetika binatang, tumbuh-tumbuhan dan mikroorganisme yang hidup. Setiap individu organisme mengandung ribuan gen dengan kombinasi yang unik, sementara jenis atau spesies terdiri dari banyak organisme. Ekosistem merupakan kumpulan dari banyak spesies yang berinteraksi satu sama lainnya dan dengan lingkungan fisik.

Pelestarian keanekaragaman hayati menjadi sangat penting demi pemanfaatannya secara benar dan berkelanjutan. Kenyataannya sekarang pelestarian tersebut masih belum terlaksana dengan baik, mengingat ancaman yang dihadapi sangat rumit dan sangat sulit di atasi. Di antaranya adalah pengaruh perubahan iklim, eksploitasi yang berlebihan atau kegiatan yang mengakibatkan kerusakan fisik penopang kehidupan, pencemaran, kehadiran spesies asing yang invasif, dan kegiatan pembudidayaan yang tidak disertai upaya yang menjamin kelestarian berbagai varietas dari spesies yang dibudidayakan. Untuk mendukung tercapainya pembangunan nasional secara berkelanjutan, para pengambil keputusan dan pihak terkait lainnya perlu lebih meningkatkan upaya pemanfaatan keanekaragaman hayati secara lestari, upaya pengembangan nilai manfaat pengelolaan konservasi, dan meningkatkan kesadaran serta peran masyarakat.
Kebijakan pemerintah yang dijadikan panduan komprehensif untuk mendukung tercapainya pembangunan berkelanjutan antara lain Undang-Undang No. 5 Tahun 1994 yang merupakan ratifikasi dari Konvensi Keanekaragaman Hayati (KKH). Pengelolaan keanekaragaman hayati sesuai Undang-Undang ini diarahkan pada komitmen Indonesia untuk melaksanakan tiga tujuan pokok KKH, yaitu konservasi, pemanfaatan komponen keanekaragaman hayati secara berkelanjutan, dan pembagian keuntungan dari hasil pemanfaatannya secara adil, yang diharapkan dapat dilaksanakan oleh para pihak. Oleh karena itu untuk mewujudkan dan memfasilitasi pelaksanaan tujuan tersebut, pemerintah telah menyusun strategi dan rencana aksi nasional yang diharapkan menjadi acuan dalam pemanfaatan secara berkelanjutan oleh semua sektor dan pemangku kepentingan.
Salah satu kebijakan yang dilaksanakan pemerintah dalam rangka pencapaian tujuan KKH adalah konservasi in-situ dan konservasi eks-situ. Program konservasi in-situ diarahkan pada usaha terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistem melalui kegiatan perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya tersebut melalui pencadangan kawasan yang telah ditentukan oleh pemerintah. Konservasi eks-situ merupakan konservasi komponen keanekaragaman hayati di luar habitat alaminya.
Indonesia merupakan negara tropis pertama di dunia yang mempunyai kawasan lindung yang berfungsi sebagai sarana in situ, sebagai upaya melindungi ekosistem atau habitat alami untuk konservasi keanekaragaman species dan genetik. Taman Nasional merupakan kawasan pelestarian alam in situ. Tujuan konservasi ex situ adalah untuk melestarikan flora dan fauna di luar habitat alaminya, pelestariannya dilakukan di Kebun Raya, Kebun Binatang dan Arboreta.
Koleksi plasma nuftah amat berharga bagi pemuliaan tanaman dan ternak, serta untuk mengembangkan produk-produk baru misalnya obat-obatan. Koleksi ex-situ mengalami berbagai masalah antara lain kekurangan dana, fasilitas dan tenaga terlatih. Sebagai contoh berbagai balai atau pusat penelitian tidak mempunyai fasilitas penyimpanan jangka panjang sehingga koleksi harus sering direjuvenasi (ditanam atau ditangkar ulang). Anggaran penelitian untuk karakterisasi plasma nuftah juga relatif terbatas. Penggalangan dana dengan pihak-pihak penyandang dana harus diupayakan tanpa mengurangi maksud dan tujuan pihak-pihak yang berkepentingan.

Potensi


Luas sumberdaya hutan berdasarkan hasil pemaduserasian Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) dan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP) adalah 120,35 juta ha atau sekitar 62,6% dari luas daratan Indonesia. Di dalam kawasan hutan tersebut terkandung keanekaragaman hayati yang melimpah sehingga Indonesia juga dikenal sebagai mega-biodiversity country. Dalam skala dunia, Indonesia tercatat sebagai negara yang memiliki keanekaragaman spesies tertinggi untuk mamalia (515 spesies, 36% endemik), kupu-kupu ”swalllow tail”/sayap burung (121 spesies, 44% endemik), ketiga untuk reptilia (lebih kurang 600 spesies), keempat untuk burung (1519 spesies, 28% endemik), kelima untuk amphibia (270 spesies) dan ke tujuh untuk tumbuhan berbunga (BAPENAS, KLH dan World Bank, 1991). Sejauh ini manfaat keragaman hayati tersebut belum mendapat porsi perhatian yang seharusnya.
Sulawesi merupakan pulau besar terpenting yang terdapat di kawasan Wallacea, suatu wilayah unik di dunia tempat bercampurnya tumbuhan dan binatang dari Asia dan Australia (kawasan peralihan antara Asia dan Australia). Secara biogeografis kawasan ini merupakan daerah peralihan antara Zona Asia dan Zona Australia atau kita kenal dengan Garis Wallace (Wallace Line). Menurut hasil ekspedisi Alfred Russel Wallace tahun 1850-an bahwa flora dan fauna yang terdapat pada kawasan ini banyak yang unik dan spesifik (Whitten, et al.,1987; Kinnaird, 1997). Keunikan flora dan fauna di Sulawesi dipengaruhi oleh lokasi geografi Sulawesi yang special di Asia Tenggara. Pulau-pulau Kalimantan, Sumatera dan Jawa diperkirakan pernah bersatu dengan dataran utama Benua Asia pada akhir periode Glasial sedangkan Sulawesi terisolasi dari pulau-pulau lain dan juga dari Papua New Guinea.
Di Pulau Sulawesi, Wallace Line membentang dari Taman Nasional Nani Wartabone di Bolaangmongondou-Gorontalo (Sulut) hingga ke Donggala-Poso melintasi hutan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) dan terus sampai ke hutan-hutan tropis di Kendari, Sultra. TNLL seluas 229.000 hektare itu merupakan taman hutan rimba yang tergolong langka di abad ini. Karena kelangkaannya, kawasan ini telah diklaim menjadi milik dunia. Para peneliti asing yang pernah melakukan studi di hutan TNLL menjulukinya sebagai "paru-paru dunia" yang sangat berpengaruh bagi kehidupan manusia. TNLL juga dianggap "laboratorium alam" dunia bagi pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, budi daya, rekreasi dan pariwisata.
Sebagai kawasan hutan di zona transisi, TNLL memiliki potensi flora, fauna, dan ekosistem yang sangat spesifik pula. Di kawasan ini terdapat 266 jenis flora yang hidup pada ekosistem danau, padang rumput, dataran rendah pegunungan dan sub alpin. Beberapa jenis tumbuhan kayu langka terkenal adalah kayu cempaka (manglietia sp), kayu leda (eucaliptus deglupta), jenis rotan (calamus sp), jenis-jenis damar (agathis sp) dan beringin merah (litsea sp). Sedangkan fauna, tercatat ada 200 jenis, dan 37 jenis di antaranya termasuk fauna yang dilindungi sedangkan 163 jenis belum dilindungi. Jenis satwa liar yang penting dan endemik Sulawesi terdapat dalam hutan TNLL, seperti misalnya anoa (bubalus quarlesi dan bubalus deppressicornis), rusa (cervus timorensis), babi rusa (babyrousa baburussa), kus-kus (phalanger celebensis dan phalanger ursianus), monyet hitam (macaca tonkeana), musang coklat (macrogalidia musschenbroeki), singapuar (tarsius spectrum) dan maleo (macrocephalon maleo). Selain potensi flora-fauna, di kawasan TNLL terdapat batuan megalith (batu besar pra sejarah) berbagai corak dan tipe di Lembah Bada, Besoa, dan Napu. Kawasan ini dihuni Suku Kulawi dan Lore dengan adat istiadatnya yang masih asli.

Pentingnya Kegiatan Konservasi

Jenis-jenis endemik terbentuk karena adanya habitat yang spesifik. Jenis-jenis tersebut hanya terdapat pada habitat dimana mereka terbentuk dan hanya mampu beradaptasi dengan karakteristik habitat tersebut. Apabila habitatnya mengalami perubahan secara drastis (misalnya oleh adanya polusi, konversi lahan, fragmentasi habitat, dll), jenis-jenis endemik sering tidak mampu beradaptasi mengikuti perubahan tersebut. Dalam kondisi seperti ini, jenis-jenis endemik akan mengarah pada kepunahan. Dengan kata lain, jenis-jenis endemik mudah mengalami kepunahan apabila habitatnya terganggu.
Kemampuan adaptasinya yang lemah tidak saja terjadi terhadap perubahan habitat, tetapi juga dalam hal beradaptasi dengan jenis-jenis baru. Karena tidak terbiasa hidup berkompetisi, jenis-jenis endemik akan mengalami tekanan apabila ke dalam habitatnya diintroduksi jenis-jenis dari habitat lain yang memanfaatkan sumberdaya yang sama dengan jenis endemik tersebut. Keberadaan jenis-jenis kompetitor akhirnya akan secara lambat laun menyingkirkan posisi jenis-jenis endemik.
Pada umumnya jenis-jenis endemik juga kurang atau bahkan tidak terbiasa hidup dengan predator, sehingga dia tidak memiliki kemampuan untuk menyelamatkan diri dari predator. Apabila ke dalam habitatnya diintroduksi predator maka dalam waktu singkat populasi jenis endemik akan habis. Sama halnya dengan predator, penyebarannya yang terbatas menyebabkan jenis-jenis endemik juga tidak terbiasa dengan patogen yang berasal dari habitat lain. Kedatangan jenis-jenis introduksi yang membawa patogen baru ke habitat dimana jenis-jenis endemik berada dapat menimbulkan wabah yang memusnahkan jenis-jenis endemik.
Pemaparan tersebut di atas menunjukkan betapa jenis-jenis endemik memiliki resiko kepunahan yang sangat tinggi, sehingga pengelolaannya perlu dilakukan secara sangat hati-hati. Sebagian besar jenis endemik Wilayah Wallacea sekarang tercatat dalam I dan II appendix (Soehartono dan Mardiastuti, 2003). Dengan tercantumnya beberapa jenis dalam appendix I berarti jenis-jenis tersebut tidak dapat diperdagangkan secara international. Adapun tercantumnya jenis-jenis dalam appendix II menunjukkan bahwa, walaupun saat ini belum mengalami ancaman kepunahan, jenis-jenis tersebut dapat terancam punah apabila perdagangannya tidak diatur sedemikian rupa untuk menjaga kelestariannya.

Tercantumnya sejumlah jenis flora dan fauna Wilayah Wallacea dalam appendix CITES menunjukkan betapa kelestarian jenis-jenis flora dan fauna di wilayah ini sangat memprihatinkan. Dengan tercantumnya di dalam appendix CITES berarti pemanfaatan jenis-jenis tersebut menjadi sangat terbatas. Namun demikian, bukan berarti bahwa jenis tersebut tidak dapat dimanfaatkan untuk selamanya. Kapan saja populasinya di alam dapat dipulihkan kembali, maka statusnya dalam appendix CITES dapat diturunkan atau malah dicabut dari appendix tersebut. Oleh karena itu, tindakan yang penting dan mendesak untuk dilakukan adalah langkah-langkah konservasi untuk memulihkan populasinya.
Langkah-langkah konservasi bukan saja perlu dilakukan terhadap jenis-jenis yang telah tercantum dalam appendix CITES, melainkan juga terhadap jenis-jenis yang belum tercantum. Hal ini karena jenis-jenis yang sekarang belum tercantum dalam appendix CITES dapat sewaktu-waktu dicantumkan apabila populasinya terus menurun sehingga dikhawatirkan punah. Walaupun secara harfiah kata konservasi berarti menjaga bersama-sama (berasal dari dua kata dalam Bahasa Latin: con = bersama-sama, servar = menjaga), namun konservasi bukanlah berarti tidak boleh memanfaatkan. Konsep konservasi moderen tidak mengartikan konservasi sebagai tidak boleh memanfaatkan, melainkan memanfaatkan secara berkelanjutan. Melalui pemanfaatan berkelanjutan diharapkan kelestarian jenis-jenis akan tetap terjaga.

Peluang


Hutan sebagai sumberdaya alam harus dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat seperti dimandatkan dalam pasal 33 UUD 1945. Dasar hukum pemanfaatan hutan tersebut di Indonesia bertumpu pada makna pasal 33 ayat 3 yang ditujukan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Undang Undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan – ketentuan Pokok Kehutanan bermaksud menerapkan tujuan tersebut melalui pendekatan timber management tetapi sayangnya tidak mengakomodir suatu pola pengelolaan yang bersifat menyeluruh dalam forest management atau ecosystem management yang mengakomodasi juga aspek sosial budaya maupun ekonomi dan kelestarian lingkungan yang berkelanjutan.
Aspek sosial budaya seringkali ditempatkan pada posisi ke sekian pada upaya pemanfaatan/konservasi wilayah. Dalam upaya mempertahankan kelestarian kawasan-kawasan konservasi di Tanah Air, pemerintah perlu melakukan perubahan mendasar, yakni mengubah paradigma pengelolaan kawasan terkait dari pendekatan deregulatif (aturan-aturan larangan) menjadi pendekatan sosial pemanfaatan secara berkelanjutan. Perubahan paradigma ini dinilai sangat penting mengingat masyarakat yang tinggal di dan sekitar kawasan konservasi juga harus tahu manfaat yang bisa didapatkannya jika lingkungan itu dijaga kelestariannya. Mereka tidak bisa lagi hanya diberi penegasan bahwa kawasan konservasi itu terlarang untuk mereka kelola secara langsung. Diberbagai tempat di Indonesia berlaku hukum adat, antara lain tentang pembukaan hutan untuk usaha perladangan dan pertanian lainnya, penggembalaan ternak, pemburuan satwa liar dan pemungutan hasil hutan, serta di berbagai areal hutan dikelola secara lestari oleh masyarakat hukum adat sebagai sumber kehidupannya dengan segala kearifannya. Di Sulawesi Tengah, tepatnya di sekitar kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL), dijumpai pula beberapa komunitas lokal, yang secara konsisten, menerapkan sejumlah kearifan tradisional dalam mengelola interaksi antara manusia dengan lingkungan alaminya.
Satu diantaranya adalah komunitas adat Toro. Di tahun 2001, Toro secara resmi diberi otonomi pada taraf tertentu dalam perencanaan, pemantauan, dan pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan hutan. Pengakuan tersebut berimplikasi pula terhadap wewenang yang dimiliki lembaga adat dalam mengatur sistem-sistem penguasan lahan (land tenurial system) dan pengelolaan (management system) sumberdaya hutan di wilayah kelola adatnya. Desa ini adalah satu-satunya desa di sekitar TNLL yang telah merevitalisasi kelembagaan adat dalam mengatur pola pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya hutan. Masyarakat adat Toro membagi wilayahnya dalam 5 zona sesuai dengan fungsinya yaitu: Zona Wana Ngkiki yang dimanfaatkan sebagai tempat habitat hewan, Zona Wana sebagai penyangga kandungan air, Zona Pangale sebagai tempat perburuan secara tradisional, Zona Pahawa Pongko untuk menanam tanaman tahunan dan Zona Oma Ntua untuk mengelola tanaman palawija. Disamping itu juga masih terdapat nilai-nilai budaya konservasi di dalam masyarakat Toro yang ditunjukkan oleh aturan adat yang melarang penebangan tanaman yang ada di hutan Lore Lindu dan inisiatif adat untuk melakukan penanaman kembali tanaman yang ditebang untuk keperluan khusus. Penebusan sanksi adat berupa kerbau, dulang atau pun mbesa. Pembagian zonasi ini merupakan kearifan lokal yang diturunkan dari nenek moyang mereka secara lisan.
Belum ada penelitian secara mendalam tentang metode pembagian zona berdasarkan peruntukannya ini. Pembagian zonasi semata-mata berdasarkan pada kebijakan para tetua adat. Secara umum dapat diinformasikan bahwa wilayah lahan sampai 300 meter di atas permukaan laut dipergunakan untuk perumahan, kebun rumah, kebun obat-obatan tradisional dan segala macam tanaman rempah. Wilayah dengan ketinggian antara 300 sampai 400 meter diperuntukkan bagi pertanian dan pergiliran tanaman. Ketinggian wilayah antara 400 sampai 500 meter diperuntukkan perburuan dan pengumpulan bahan-bahan material untuk pembangunan/perbaikan rumah. Di atas ketinggian 500 meter dipercayai sebagai tempat keramat yang dihuni oleh roh nenek moyang. Karena itu merupakan “Zona” yang tidak boleh didaya gunakan. Adanya kearifan lokal yang masih dipertahankan di desa Toro memberikan peluang upaya pelestarian yang prospektif.
Semakin sempitnya habitat Anoa akibat adanya kegiatan eksploitasi hutan, konversi hutan menjadi lahan pertanian, penempatan transmigrasi, perkebunan, industri turut mempercepat kepunahan satwa ini. Di daerah pedesaan pantai barat Sulawesi Tengah, penangkapan Anoa dengan jerat untuk kebutuhan daging hingga saat ini masih tetap terjadi. Agar Anoa dapat terjamin keberadaannya, perlu adanya upaya konservasi terhadap jenis-jenis flora yang merupakan komponen pakan utama Anoa.
Sebagaimana ruminansia pada umumnya, pakan Anoa terdiri atas pakan hijauan sebagai pakan dasar yang kaya serat kasar untuk sumber energi dan tangsal perut, dan pakan konsentrat yang kaya protein, energi, mineral organik dan vitamin yang diperlukan ternak. Ransum pakan tradisional lebih menitik beratkan perpaduan rumput dan dedaunan dengan indikator utama kenaikan bobot badan (Pujaningsih, 2005). Kerbau liar kerdil yang endemik ini makan rumput-rumputan, paku-pakuan, semak serta buah-buahan yang jatuh (Mackinnon and MacKinnon, 1979). Sejauh ini belum tersedia data mengenai kebutuhan nutrisi untuk Anoa sebagaimana hewan ternak lainnya.
Di alam bebas Anoa liar memakan aquatic feed antara lain berupa pakis, rumput, tunas pohon, buah-buahan yang jatuh, dan jenis umbi-umbian. Berdasarkan pengamatan Pujaningsih, et al., (2005) dan beberapa peneliti dilaporkan bahwa Anoa dataran rendah kadang-kadang juga meminum air laut yang diduga untuk memenuhi kebutuhan mineral mereka. Di dataran tinggi, Anoa menjilat garam alami dalam rangka pemenuhan kebutuhan mineralnya. Di tempat-tempat penangkaran maupun kebun binatang, Anoa diadaptasikan dengan diberi pakan berupa rumput kering dan pelet. (Malik et al., 2004; Pujaningsih, 2005; Pujaningsih et al., 2005).
Berdasarkan data dari IUCN (2002) sejak tahun 1979, secara pasti jumlah Anoa kian merosot bahkan di beberapa wilayah yang dekat dengan desa/kampung, keberadaannya telah menghilang sama sekali. Anoa pada dewasa ini hanya dapat ditemukan di dalam hutan besar. Belum ditemukannya pemahaman yang sempurna untuk upaya budidayanya menyebabkan perkembangbiakan Anoa menjadi terhambat. Untuk mengupayakan pelestarian Anoa perlu dilakukan identifikasi, studi serta evaluasi dengan berbagai model pendekatan/aspek untuk mendapatkan hasil yang optimal dan mencapai sasaran.

Referensi:

Kessler, P J A, Bos, M, Ramadhanil P and Gradstein. 2002. Checklist of Woody Plant of Sulawesi, Indonesia. Symposium (SFB 552) “ Land Use, Nature Conservation and the Stability of Rainforest margins in Southeast Asia”. Bogor. 29 September- 3 October 2002.

Kinnaird M F, 1877. Sulawesi Utara, Sebuah Panduan Sejarah Alam . Yayasan Pengembangan Wallacea.

Malik, A., Pujaningsih, R.I. and Labiro, E. 2004. Participatory of Wildlife Conservation in Central Sulawesi Indonesia. (A Review on A Case study of Anoa Bubalus spp. as one of endemic endangered animal from Sulawesi, Indonesia). In: Proceeding of The 5th International Symposium-cum-Workshop "The Role of German Alumni in Rural/Regional Development and Entrepreneurship " by SEAG, Royal Agricultural University and the University Consortium Georg-August-University Göttingen, University of Kassel and Philipps University Marburg. Phnom Penh, August 23 - 27, 2004.

Mackinnon, J and K. Mackinnon. 1979. Animals of Asia. The Ecology of the Oriental Region. Peter Lowe, London

Pujaningsih, R.I., Sukamto, B dan Labiro, E. 2005. Identification and Feed Technology Processing for Roughage in Term of Anoa (Bubalus sp) conservation. National Seminar of Fundamental Research. Jakarta, 16-18th May 2005

Pujaningsih, R.I. 2005. Identifikasi Vegetasi Pakan Alami Anoa (Bubalus sp). In: Proceeding of The 6th International Symposium-cum-Workshop "(In-) Equity and Development : the Role of Science and Technology " by SEAG, Gadjah Mada University and the University Consortium Georg-August-University Göttingen, University of Kassel and Philipps University Marburg. Yogyakarta, August 22 - 26, 2005

Ramadhanil P, Kessler, P J A, S R Gradstein, E. Guhardja, C.H. Leuschner, H. Wiriadinata, S. T. Sudirdjo. 2002. Tree Composition In Secondary Forest of Lore Lindu National Park Central Sulawesi, Indonesia. Symposium (SFB 552) “ Land Use, Nature Conservation and the Stability of Rainforest margins in Southeast Asia. Bogor. 29 September- 3 October 2002.

Soehartono, T. dan A. Mardiastuti. 2003. Pelaksanaan konvensi CITES di Indonesia. Japan International Cooperation Agency (JICA), Jakarta

COMPARATION STUDY PROGRESS ON ANOA’S BEHAVIOUR

R. I. Pujaningsih1), A. Malik2), S. Pudyatmoko3)
1) Fac. of Animal Agriculture, Diponegoro University
2) Fac.of Agriculture, Tadulako University
3) Fac. of Forestry, Gadjah Mada University


Abstract


Anoa are small buffalo-like animals endemic to the Indonesian island of Sulawesi. This species is vulnerable due to its restricted range and the possibility of extinction from several threaths including hunting, habitat loss and possible natural catastrophes. The management and conservation objective is to maintain genetically viable, self-sustaining, free-living Anoa population(s). In order to achieve this goal, it is necessary to understand its behaviour both in its in-situ habitat as well in the ex-situ area. The in-situ study area was took place in Lore Lindu National Park of Central Sulawesi which was compared to the report from ex-situ observation of Taman Safari Indonesia Bogor. The behavioural data were collected by direct and indirect observations during wet season. Some references were used to obtain the conclusion of comparison study report. The observations were partly undertaken in the feeding grounds and in the wallowing sites. It can be observed that Anoa could become very agressive during the breeding seasons. Generally, there are no significantly difference behaviour in both observed habitat of Anoa.

Keywords: Anoa, in-situ, ex-situ, behaviour

Saturday, June 09, 2007

Buku Budidaya Kodok Lembu

Alhamdulillah sudah terbit buku berjudul Budidaya Kodok Lembu.
Isinya ya petunjuk untuk membudidayakan kodok lembu yang sangat prospektif ini. Dan semuanya berdasarkan survey serta pengalaman penulis bersama team...

Harga per buku Rp. 35.000,00 dilengkapi dengan foto-foto berwarna.
Diterbitkan oleh Penerbit buku handal Kanisius.

Tuesday, April 03, 2007

Bibit Bullfrog

Peminat juragan percil ternyata tidak sebanyak juragan kodok,
memang menjadi pembibit membutuhkan keahlian dan kecintaan yang tulus terhadap apa yang ditekuninya....
Sayangnya banyak yang mengambil resiko untuk menambah kerumitan dengan memperdagangkan percil bukan pada orang yang tepat...
Tentunya kualitas jadi tidak bisa dipertanggungjawabkan...

So, untuk para pemula peminat dan pemerhati bullfrog... hati-hati menerima tawaran yang menggiurkan itu...

salam,
retno

Wednesday, June 07, 2006

Feassibility Study Usaha Bullfrog

Survey yang dilakukan pada usaha budidaya kodok lembu (bullfrog) memberikan beberapa alternatif yang bisa dilakukan pada usaha ini. Apakah akan menjadi juragan kodok konsumsi ? Juragan percil (kodok bibit) ? Pemilik restauran bullfrog ? Pengusaha pakan bullfrog sampai ke usaha sebagai eksportir paha kodok maupun kodok hidup. Peluang yang ada sungguh sangat menjanjikan. Coba saja dihitung, 1 kg kodok hidup berisi 4 ekor dengan ukuran 250-300 gram per ekor dijual dengan harga Rp.18.500,00. Kemudian diolah dan disajikan sebagai steak dengan harga Rp.24.000,00 per porsinya, sedangkan 1 porsi steak terdiri atas 3 paha kodok, maka dari 1 kg kodok hidup seharga Rp.18.500,00 mampu menghasilkan sekitar 2 porsi steak seharga total Rp.48.000,00 “Sisa” satu ekor kodok diasumsikan sebagai biaya pokok produksi untuk mengolah si kodok hidup menjadi steak lezat. Keuntungan yang diperoleh dari pembelian 1 kg kodok hidup sekitar Rp.29.000,00 Belum jika disajikan sebagai Tom Yam, digoreng dengan tepung, dimasak tauco, diolah sebagai sop dan banyak lagi jenis masakan yang lain yang biaya produksinya tidak seharga 1 porsi steak…
Kondisi tersebut jika ingin berwirausaha sebagai pemilik warung makan atau restauran bullfrog. Tetapi jika memiliki ketertarikan di bidang usaha pembesaran dapat dicoba dengan membuat sekitar 40 buah kolam berukuran 1,5 m2 dengan tinggi sekitar 1 meter juga. Jumlah ini untuk skala pembesaran 10.000 ekor percil (kodok bibit). Tidak perlu menggunakan bahan-bahan yang mahal, bisa dengan batako atau kawat/jaring ikan tergantung pada bahan yang ada di sekitar tempat tinggal. Yang penting adalah adanya konstruksi untuk pembuangan air pada saat membersihkan kolam itu tiap harinya. Air yang diperlukan juga tidak terlalu banyak, hanya dibutuhkan air setinggi 15 cm untuk menjaga kelembaban kulit si kodok.. Karena jenis bullfrog ini (Rana catesbeiana) tidak dapat hidup tanpa air. Berbeda dengan beberapa jenis kodok maupun katak yang pada umumnya amfibi (dapat hidup di dua alam).
Jika dipilih menggunakan batako maka diprediksikan untuk penggunaan selama 5 tahun. Penyusutan dihitung sebesar Rp.825.000,00 Harga percil yang baik saat ini sekitar Rp.1.000,00 per ekornya sehingga untuk 10.000 ekor diperlukan biaya Rp.10.000.000,00 Untuk biaya pakan sebanyak 2 ton selama 4 bulan masa pembesaran diperlukan biaya Rp.9.000.000,00 Biasanya digunakan pakan ikan lele karena ketersediaan pakan khusus Bullfrog masih sulit dan harganya mahal. Tetapi dengan menggunakan pakan ikan lele yang diberi tambahan protein alami berupa cincangan daging bekicot, keong mas atau ikan-ikan kecil sudah cukup mampu mencukupi kebutuhan hidupnya. Obat-obatan dan vitamin Rp.200.000,00 Tenaga kerja diperkirakan memerlukan biaya Rp.700.000,00 Kebutuhan tenaga kerja pada budidaya bullfrog tidaklah terlalu banyak, karena dua orang yang trampil sudah cukup untuk mengelola 40 buah kolam dengan jam kerja relatif singkat. Pagi 2 jam kerja dan sore 2 jam kerja juga.. Sisa waktu bisa dipergunakan untuk aktivitas yang lain.
Mortalitas (kematian) pada usaha budidaya bullfrog masih sangat besar, berkisar antara 20-30%. Hal ini disebabkan belum ada penanganan terhadap penyakit bullfrog yang tepat. Pada skala pembesaran 10.000 ekor percil dapat diharapkan untuk memperoleh 7.000 ekor kodok dewasa dengan berat hidup sekitar 250 gram atau total 1.750 kg kodok hidup. Harga jual kodok hidup di tingkat peternak saat ini adalah Rp.18.500/kg kodok hidup, sehingga diperoleh pendapatan kotor Rp.32.375.000,00 Dikurangi total biaya produksi Rp. 20.725.000,00 akan mendapatkan keuntungan bersih Rp.11.650.000,00 Titik balik modal (break even point) diperoleh pada penjualan kodok hidup Rp.10.400,00/kg
Perhitungan di atas adalah untuk pembesaran selama 4 bulan. Sehingga setahun berdasarkan kalkulasi matematika dapat dilakukan 3 kali periode pembesaran. Di atas kertas dapat diperoleh keuntungan sejumlah Rp.34.950.000/tahun. Kondisi ini tentu saja tidak dengan seketika dapat diaplikasikan. Perlu latihan untuk mengelola bullfrog sehingga resiko kematian dan mismanagement dapat dikurangi. Total biaya produksi dapat ditekan jika pengadaan bibit (percil) dilakukan sendiri dengan menyisihkan sebagian kodok sebagai indukan. Kodok indukan ini tentunya membutuhkan perlakuan yang berbeda terutama dalam hal kualitas pakannya agar menghasilkan telur-telur yang berkualitas pula. Beberapa peternak menspesialisasikan diri di bidang pengadaan percil maupun indukan. Sepasang induk bullfrog yang bagus harganya sekitar Rp.300 – 450.000,00 Dari sepasang indukan ini dapat diperoleh 15.000 – 20.000 butir telur. Setahun mereka dapat dipijahkan 3 hingga 4 kali dengan pemberian pakan yang berkualitas. Jika anda memiliki 5 pasang saja induk bullfrog, maka anda siap menjadi juragan percil yang keberadaannya sangat langka di kalangan peternak kodok lembu. Karena mengawinkan kodok lembu tidak semudah ijab kabul di KUA, perlu sentuhan dan keahlian khusus. Tetapi jika si kodok sudah cocok dengan jodohnya....bisa dinikmatilah hasilnya...
Sudah disampaikan sebelumnya bahwa pengadaan pakan khusus bullfrog masih tidak mudah. Karena ketersediaannya yang hanya sedikit disamping harganya yang juga mahal. Sehingga peternak biasa meracik sendiri supplemen untuk meningkatkan daya tahan hidup si kodok. Pakan yang berkualitas akan menurunkan mortalitas dan meningkatkan pertambahan bobot badan si kodok serta feed eficiency ratio konsumsi pakannya. Bahan dasar yang digunakan adalah pellet pakan ikan lele yang kandungan proteinnya cukup tinggi dan harganya murah. Pellet ini dihancurkan kemudian dicampur dengan vitamin C dan vitamin E serta cincangan daging bekicot yang sudah direbus. Setelah dicampur kemudian digiling dengan gilingan daging untuk mendapatkan bentuk pelet kembali. Untuk pakan kodok indukan dapat juga diberi tambahan kuning telur itik, tetapi pakan tambahan ini tidak diberikan setiap hari untuk menjaga dari kelebihan bobot badan yang akan mengganggu aktivitas pemijahannya. Nah...tinggal dipilih, ingin menjadi juragan apa anda nantinya......(rip)

Notes